Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Oktober 2016

20 Keistimewaan Dan Keutamaan Hari Jum’at

shalat jumat

Banyak sekali keistimewaan dan keutamaan hari jum ah, di antaranya:

1. Hari jum'ah adalah hari yang t¢rbaik dalam sepekan di sisi Allah.
2. Pada hari itu Nabi Adam diciptakan.
3. Pada hari itu Nabi Adam dimasukkan surga.
4. Pada hari itu Nabi Adam dikeluarkan dan surga
5. Pada hari itu akan terjadi hari kiamat.

Hal tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,"Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu dia dimasukknn surga , pada hari itu dia dikeluarkan darinya. Dan kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari jum'at." (HR. Muslim no: 854 dari Abu Hurairah).

6. Pada hari itu Nabi Adam diturunkan ke bumi.
7. Pada hari itu Nabi Adam diwafatkan oleh Allah.
8. Pada hari jum'at ada saat atau waktu di kabulkannya do'a.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad dengan sanad yang Hasan, bahwa Nabi bersabda,"Sesungguhnya hari jum'at adalah penghulu seluruh hari, dan hari itu di sisi Allah lebih agung dari pada hari raya adh-ha dan hari raya fithri. Pada hari itu ada lima p erkara: Allah telah menciptakan Adam pada hari itu; Allah telah menurunkan Adam ke bumi pada hari itu; Pada hari itu Allah mematikan Adam; Padanya ada satu waktu, yang seorang hamba tidak mohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu kecuali Dia memberikannya, selama hamba tersebut tidak mohon sesuatu yang haram; Dan pada hari itu kiamat akan terjadi. Tidaklah malaikat yang dekat dengan Allah, tidaklah langit, tidaklah bumi, tidaklah angin, tidaklah gunung-gunung, tidaklah laut, kecuali semuanya takut pada hari jum'at." (Bahjatun Nazhirin II/319 pada fiqhul (pemahaman) hadits no: 1156).

9. Hari jum'at adalah `ied (hari raya) kaum muslimin yang datang setiap pekan. Sehingga diharamkan puasa hanya pada hari itu. Rasulullah bersabda,"Sesungguhnya hari jum'at adalah hari raya, maka janganlah kalian menjadikan hari raya kalian sebagai hari puasa kalian, kecuali kalau kalian berpuasa sebelumnya atau sesudahnya." (HR. Ahmad, Syeikh Ahmad Syakir berkata: "Isnadnya shahih". Al-Musnad XV/175, hadits: 8012)

10. Hari jum'at adalah yaumul maziid (hari tambahan), Allah menampakkan diri kepada kaum mukminin di surga. Sebagaimana tersebut pada hadits Anas yang panjang, yang di akhir hadits,"Maka tidaklah melebihi rindu mereka di surga daripada datangnya hari jum'at, agar mereka dapat tambah melihat Rabb mereka dan keagungan-Nya, oleh karena itulah (hari itu) dinamakan yaumul maziid." (HR. ath-Thabarani di dalam al-Ausath dan Ibnu Abi Syaibah. Al-Mundziri menyebutkannya di dalam at-Targhib wat Tarhib dan berkata: "Dengan isnad yang baik". Lihat Shahih at Targhib wat Tarhib I/175, hadits 694 oleh al-Albani).

11. Terlarang mengkhususkan malam jum'at untuk melakukan shalat malam. Sebagaimana sabda Nabi Janganlah kamu mangkhususkan malam jum'at dari malam-malam yang lain untuk melakukan shalat (malam)..(HR. Muslim no: 1144).

12. Disunnahkan membaca Surat As-Sajadah dan Al- Insan pada shalat subuh di hari jum'at. Sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah. Tetapi hal ini tidak dilakukan terus menerus. Abu Hurairah berkata : Nabi biasa membaca "Alif Lam Mim tanziilus sajdata" (pada raka'at yang pertama, dan pada raka'at yang kedua) "Wa hal ataa 'alal insaani hiinun minad dahri" (HR. al-Bukhari no: 891, Muslim, ad-Darimi, Ibnu Majah (823), al-Baihaqi, ath-Thayalisi dan Ahmad. Tambahan dalam kurung pada Imam Muslim).

13. Keutamaan tabkiir (datang di awal waktu) menuju shalat jum 'at dan mandi janabat sebelumnya. Rasulullah bersabda,"Barangsiapa mandi janabat di hari jum'at kemudian pergi (menuju shalat jum'at di saat yang pertama -pen), maka seolah-olah dia berkurban seekor unta; dan barangsiapa pergi di saat yang kedua, maka seoah-olah dia b erkurban seekor sapi; dan barangsiapa pergi di waktu yang ketiga, maka seolah-olah dia b erkurban seekor kibasy (kambing) yang bertanduk; dan barangsiapa pergi di saat yang keempat, maka seolah-olah dia berkurban seekor ayam; dan barangsiapa pergi di saat yang kelima; maka seolah-olah dia berkurban sebutir telur. Maka apabila imam telah keluar, para malaikat datang mendengarkan dzikir (khotbah)." (HR. al-Bukhari no: 881)

14. Shalat jum'at menghapuskan dosa. Rasulullah bersabda,"Barangsiapa berwudhu' kemudian membaguskan wudhu'nya; lalu mendatangi jum'at lalu mendengarkan dan diam, niscaya diampuni (dosanya antara jum'ah itu dengan jum'ah yang lain, dan tambah tiga hari." (HR. Muslim no: 857, dari Abu Hurairah).

15. Keutamaan pahala jum'at yang berlipat-ganda. Rasululllah bersabda,"Barangsiapa ghassala (mengumpuli istrinya yang mewajibkannya mandi) pada hari jum'at, dan dia mandi, kemudian bersegera dan datang di waktu pagi, dan berjalan, tidak berkendaraan, mendekat pada imam dan mendengarkan, dan tidak berbuat sia-sia, pada setiap satu langkah dia mendapatkan (keutamaan pen) amalan setahun: pahala puasanya (setahun) dan shalatnya." (HR. Abu Dawud no: 345, an-Nasaai, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, ad-Darimi, Ahmad, athThayalisi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan lain-lain. Lihat Shahih Abu Dawud no: 333 dan al-Insyirah fi i Adaabin Nikah oleh Syeikh Abu Ishaq al-Huwaini, hal 56-57).

16. Disunnahkan memperbanyak shalawat untuk Nabi pada hari jum'at. Rasulullah bersabda,"Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling utama adalah hari jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu beliau diwafatkan, pada hari itu an-nafkhah (tiupan terompet pada hari kiamat pada hari itu ash-sha'qah (kematian seluruh makhluk), oleh karena itu perbanyaklah shalawat untukku pada hari itu, karena sesungguhnya shalawat kalian itu akan disampaikan kepadaku. Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami akan di sampaikan kepadamu padahal engkau telah menjadi tulang belulang (yakni : jasadmu telah hancur)? Maka beliau bersabda:"Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas bumi memakan jasad para Nabi" (HR. Ahmad, Abu Dawud no: 1047, an-Nasaai, Ibnu Hibban no: 550, Ibnu Majah no: 1085, Ibnu Khuzaimah no: 1733, al-Hakim, ad-Darimi, ath-Thabarani dalam Mu'jamul Kabir no:589. Lihat Silsilah ash-Shahihah no: 1527, Shahih al-Jami' no: 2208).

17. Keutamaan amalan-amalan shalih pada hari jum'at. Rasulullah bersabda,"Lima (perkara) barangsiapa yang mengamalka nnya pada satu hari niscaya Allah menulisnya di antara penghuni surga. Barangsiapa yang menjenguk orang sakit; menyaksi kan (melayat) jenazah; berpuasa hari itu; (Tentu saja puasanya tidak dikhususkan pada hari jum'at, tetapi mencocokinya dengan tanpa sengaja -red.) mendatangi shalat jum'ah; dan merdekakan budak." (HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan al-Albani di dalam Shahih al-Jami' no: 3252).

18. Di antara tanda husnul khatimah, dan terhindar dari siksa kubur adalah meninggal pada malam jum'at atau siangnya. Rasulullah, bersabda,"Tidaklah di antara seorang muslim yang meninggal pada hari jum'at atau malam jum'at kecuali Allah meliharanya dari fi tnah kubur. (HR. Ahmad no: 6582, 6646 dan at-Tirmidzi, dan dikuatkan riwayat-riwayat dari Anas, Jabir bin Abdullah dan lainnya. Hadits ini dengan seluruh jalannya berderajat Hasan atau Shahih. Lihat Ahkamul Janaiz, hal: 35, oleh Syeikh al-Albani).

19. Disunnahkan membaca surat Al-Kahfi pada hari jum'at dan malamnya. Nabi bersabda,"Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari jum'at niscaya cahaya meneranginya di antara dua jum'at." (HR. al-Baihaqi, al-Hakim, ad-Darimi, dan lainnya. Hadits ini Shahih dengan seluruh jalanjalan yang menguatkannya. Lihat Silsilah ash-Shahihah no: 2651, Irwa'ul Ghalil no: 626).

20. Khusus hari jum'at dibolehkan shalat sunnah pada tengah hari. Rasulullah bersabda,"Tidaklah seseorang mandi pada hari jum'at; bersuci semampunya; memakai minyaknya, atau memakai minyak wangi rumahnya; kemudian keluar, lalu tidak memisahkan antara dua orang; kemudian melakukan shalat yang ditakdirkan untuknya; kemudian diam apabila imam berbicara, kecuali diampuni (dosanya antara jum'at itu dengan jum'at yang lain."(HR. al-Bukhari no: 883).

Syaikh Salim al-Hilali berkata pada fiqhul (pemahaman) hadits ini: "Dibolehkannya (shalat) nafi lah (sunnah/tidak wajib) di pertengahan siang pada hari jum'at".(Bahjatun Nazhirin 11/115, hadits no: 828. Juga lihat Majmu' Fatawa Ibnu Taimiyah XXIH/205-209).

Minggu, 23 Oktober 2016

Istiqamah Sebab Keberhasilan di Dunia dan Keselamatan dari Azab Akhirat

istiqamah

Keburukan dan kemaksiatan bisa datang karena hati seseorang dalam keadaan lengah dari dzikir kepada Allah. Ibnul Qoyyim al-Jauziyah berkata, "Apabila hati seseorang itu lengah dari dzikir kepada Allah, maka setan dengan serta merta akan masuk ke dalam hati seseorang dan mempengaruhinya untuk berbuat keburukan. Masuknya setan ke dalam hati yang lengah ini, bahkan lebih cepat daripada masuknya angin ke dalam sebuah ruangan."

Oleh karena itu hati seorang mukmin harus senantiasa dijaga dari pengaruh setan ini. Yaitu, dengan senantiasa berada dalam sikap taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Upaya inilah yang disebut dengan Istiqamah.

Imam al-Qurtubi berkata, "Hati yang istiqamah adalah hati yang senantiasa lurus dalam ketaatan kepada Allah, baik berupa keyakinan, perkataan, maupun perbuatan." Lebih lanjut beliau mengatakan, "Hati yang istiqamah adalah jalan menuju keberhasilan di dunia dan keselamatan dari azab akhirat. Hati yang istiqamah akan membuat seseorang dekat dengan kebaikan, rezekinya akan dilapangkan dan akan jauh dari hawa nafsu dan syahwat. Dengan hati yang istiqamah, maka malaikat akan turun untuk memberikan keteguhan dan keamanan serta ketenangan dari ketakutan terhadap azab kubur. Hati yang istiqamah akan membuat amal diterima dan menghapus dosa."

Ada banyak cara untuk menggapai hati yang istiqamah ini. Di antaranya:

Pertama, meletakkan cinta kepada Allah di atas segala-galanya. Ini adalah persoalan yang tidak mudah dan butuh perjuangan keras. Karena, dalam kehidupan sehari-hari kita sering mengalami benturan antara kepentingan Allah dan kepentingan makhluk, entah itu kepentingan orang tua, guru, teman, saudara, atau yang lainnya. Apabila dalam kenyataanya kita lebih mendahulukan kepentingan makhluk, maka itu pertanda bahwa kita belum meletakkan cinta Allah di atas segala-galanya.

Kedua, membesarkan perintah dan larangan Allah. Membesarkan perintah dan larangan Allah harus dimulai dari membesarkan dan mengagungkan pemilik perintah dan larangan tersebut, yaitu Allah. Membesarkan perintah Allah di antaranya adalah dengan menjaga waktu salat, melakukannya dengan khusyu, memeriksa rukun dan kesempurnaannya serta melakukannya secara berjamaah.

Ketiga, senantiasa berzikir kepada Allah karena itulah perintah Allah dan Rasul-Nya sebagaimana yang disebutkan dalam hadis qudsi Allah berfirman, "Barangsiapa yang mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan barang siapa yang mengingat-Ku dalam keramaian, maka Aku akan mengingat-Nya dalam keramaian yang lebih baik darinya." (HR Bukhari).

Keempat, Mempelajari kisah orang-orang saleh terdahulu. Hal ini diharapkan agar kita bisa mengambil pelajaran dari mereka. Bagaimana kesabaran mereka ketika menghadapi ujian yang berat, kejujuran mereka dalam bersikap, dan keteguhan mereka dalam mempertahankan keimanan. Sebagaimana firman Allah , " Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Yusuf : 111).

DR. Ahmad bin Yusuf al-Duraiwisy dalam bukunya al-Istiqamah menyebutkan beberapa rukun atau pondasi untuk membangun keistiqamahannya diantaranya keshalihan, keteguhan dalam sunnah dan jamaah, sikap pertengahan antara ekstrim dan menyepelekan, akhlak yang mulia, dan teman yang shalih.

Dalam kitab Haqiqatul iltizam-nya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrien menambahkan beberapa hal yang diperhatikan untuk menjaga keistiqamahan diantaranya Berusaha mengamalkan Assunnah semampunya sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Dari Abdullah bin Amru bin Al Ash berkata : Rasulullah bersabda “Akan terjadi pada umatku apa yang terjadi pada bani Isra’il setapak demi setapak ,sampai kalau ada diantara mereka yang mendatangi ibunya dalam keadaan terbuka juga akan terjadi pada umatku seperti itu ,dan sesungguhnya bani Isra’il terpecah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan semuanya di Neraka kecuali satu ,para sahabat bertanya :siapa mereka itu ya Rasulullah ? beliau menjawab“ siapa yang bisa seperti –Ku dan sahabat-Ku. [HR. At turmudzi no 2641 kitab Iman bab Iftiraqul ummah hadist ini punya syawahid yang banyak sebagaimana pada awal kitab AS-Syari’ah karangan Imam Al-Ajurriy).

Di samping itu seorang yang ingin tetap istiqamah harus banyak thalabul ilmu agar tidak terjebak kepada amaliyah yang tidak ada tuntunan syariahnya. Dari sinilah Imam Al-Bukhari menulis sebuah bab dalam kitabnya “Bab al’ilmu qabla alqaul wa’lamal” Juga berusaha menjauhi perbuatan maksiat atau hal yang tidak bermanfaat, Allah Azza wa Jalla berfirman,” Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah - Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengatahui. (QS. 3:135).

Yang dimaksud dengan al-ishrar (meneruskan perbuatan kejinya) dalam ayat diatas adalah “Seorang mengerjakan dosa kemudian menyepelekannya. (Syu’abul iman Imam Al Baihaqi no 7154).

Untuk menjaga keistiqamahan Syaikh Abu Mushab dalam kitabnya al- Ilmam fi Asbaab Dho’ fi al-Iltizam menyebutkan beberapa perbuatan yang bisa melemahkan keistiqamahan diantaranya lemahnya keikhlasan, kurangnya ilmu syar’i dan jauhnya dari ahli agama, futur, lemahnya muhasabah, sibuk dengan keluarga, al-Faudhawiyah (kesemrawutan), sibuk dengan aib orang lain, tidak menghargai waktu, bergaul dengan orang yang tidak baik, dan tidak mempunyai semangat dan harapan.

Akhirnya marilah senantiasa kita berdoa kepada Allah agar Dia memberikan kita
keistiqamahan hati di dalam agama-Nya.

Sabtu, 01 Oktober 2016

Kisah Nyata, Inilah Akibatnya Jika Anda Mendahului Gerakan Imam

shalat

Kadang ketika shalat, saya melihat orang yang mendahului gerakan imam, baik itu saat ruku', i'tidal, sujud, maupun ketika bangkit dari sujud. Melihat hal ini, saya jadi teringat akan sebuah kisah nyata tentang seorang Syaikh yang meremehkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang ancaman bagi orang yang mendahului gerakan imam dalam shalatnya.

Dikisahkan bahwa dahulu ada seorang Syaikh ahli hadits yang mengajarkan hadits-hadits di daerah Dimasyq. Dan Syaikh tersebut memiliki murid yang cukup banyak. Setiap kali Syaikh tersebut menyampaikan ilmu maka Syaikh membuat tabir atau penutup wajah antara dirinya dengan para murid sehingga selama mereka belajar di sana tidak pernah sekali pun mereka melihat wajah gurunya. Rasa penasaran para murid pun semakin menjadi, hingga salah seorang diantara mereka yang merupakan murid yang paling semangat dalam menuntut ilmu dan paling cerdas membuntuti Syaikh hingga sampai dirumahnya.

Baca juga : Kenikmatan Yang Akan Diperoleh Para Penghuni Surga Bag 1

Akhirnya, Syaikh pun mengetahui hal tersebut dan kemudian Syaikh bertanya kepada muridnya itu tentang maksud dan tujuannya melakukan hal tersebut.“Ya, Syaikh! Engkau adalah guru kami dan kami sangat menghormatimu. Kami telah belajar kepadamu beberapa lama akan tetapi kami tidak pernah sekali pun melihat wajahmu, engkau selalu menutupnya dari kami. Oleh karena itu, kami penasaran akan hal itu maka ijinkanlah kami untuk melihat wajahmu agar kami dapat mengenalimu jika bertemu dijalan sehingga kami dapat melakukan penghormatan kepadamu selayaknya penghormatan seorang murid kepada gurunya!”, Ucap Sang Murid berusaha menerangkan kepada Syaikh.

“Wahai, anakku! Sungguh, aku menutup wajahku dari kalian karena buruknya rupaku, tak pantas aku memperlihatkannya kepada kalian sedangkan kalian waktu itu dalam jumlah yang banyak. Namun, sekarang aku akan membuka tabir antara aku denganmu!”, jawab Syaikh sambil membuka penutup wajahnya. Ketika tabir itu tersingkap, betapa terkejutnya Sang Murid melihat wajah gurunya. Ia tak percaya dengan apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri, ia tertegun beberapa lama karenanya. Dari rona wajahnya tersirat rasa kaget, penasaran, dan juga pilu. Ia tak percaya, ia melihat wajah gurunya serupa dengan wajah seekor keledai, ya...seekor keledai. Melihat gelagat Sang Murid, Syaikh kemudian menjelaskan perihal mengapa hal itu bisa menimpa dirinya,

“Wahai, anakku! Aku dahulu adalah seorang yang meremehkan dan menghinakan sebuah hadits shohih, yaitu hadits yang berbunyi :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ أَوْ أَلَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ

رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ

Artinya : Bersabda Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam : “Tidakkah salah seorang dari kamu takut atau hendaklah salah seorang dari kamu takut apabila mengangkat kepalanya mendahului imam bahwa Alloh akan mengubah kepalanya seperti kepala keledai (Himar) atau mengubah rupanya menjadi rupa keledai (Himar).” [HR. Bukhori (No.650) & Muslim (No.647)]

Hadits ini telah aku campakkan dengan mengatakan, “Hadits ini bohong! Tidak mungkin hanya karena mendahului imam maka kepalanya atau wajahnya akan diubah seperti kepala atau wajah keledai. Aku tidak percaya dengan hadits ini, Aku akan buktikan bahwa hadits ini bohong!”. Setelah berkata seperti itu, aku pun langsung mengamalkan apa yang aku ucapkan tersebut, aku sholat dibelakang imam dengan cara mendahului hampir seluruh gerakkannya. Seusai sholat, aku pun pulang ke rumah dan aku mendapati keluargaku berteriak histeris ketakutan melihatku, seolah-olah mereka telah melihat hal yang menyeramkan pada diriku. Saat itulah, aku tersadar bahwa wajahku telah berubah wujud menjadi wajah seekor keledai dan mulai saat itu pulalah aku bertobat dari perkataan dan perbuatanku tersebut. Oleh karena itu, hati-hatilah wahai anakku! Jangan sampai engkau mendahului imam...”

Sumber Kisah : Al Qoulul Mufid fi Adillatit Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushobiy menukil dari Al-Qoulul Mubin fi Akhthoo’il Mushollin, hal 252.

Rabu, 28 September 2016

CIRI-CIRI AHLUS SUNNAH

sunah

Salah satu ciri ahlus sunnah adalah kecintaan mereka terhadap para imam sunnah dan ulamanya, para penolong dan para walinya. Dan mereka membenci tokoh-tokoh ahli bid'ah yang mereka itu mengajak kepada jalan menuju neraka dan menggiring pengikutnya menuju kehancuran. Allah telah menghiasi dan menyinari ahlus sunnah dengan kecintaan mereka kepada ulama-ulama ahlus sunnah, sebagai karunia dan keutamaan dari Allah ta'ala.

Ahlus sunnah juga sepakat untuk merendahkan ahli bid'ah, menghinakan mereka, menjauhi dan memboikot mereka serta menghindari untuk bersahabat dengan mereka. Janganlah kamu tertipu oleh banyaknya ahli bid'ah, karena banyaknya jumlah ahli bid'ah dan sedikitnya ahlus sunnah merupakan tanda dekatnya hari kiamat, sebagaimana sabda Nabi:

"Sesungguhnya termasuk diantara tanda-tanda dekatnya hari kiamat yaitu sedikitnya ilmu dan menyebarluasnya kebodohan (dalam agama)".(47)

Ilmu itu sendiri merupakan sunnah dan kebodohan itu sendiri merupakan bid'ah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Iman itu akan mendekam di Madinah seperti ular yang mendekam dalam lubangnya."(48)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah datang hari kiamat, sampai tidak terdengar lagi di muka bumi ini orang yang menyebut nama Allah, Allah,Allah.” Dalam riwayat lain disebutkan ”lailaha illallah.”(49)

Baca juga : 12 Alasan Mengapa Rokok Itu Diharamkan

Siapa yang pada hari ini berpegang teguh dengan sunnah Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, melaksanakannya, istiqamah diatasnya serta mendakwahkannya, ia akan mendapatkan pahala yang lebih banyak dibandingkan dengan yang mengamalkan diawal munculnya Islam, sebagaimana sabda Nabi:

"Sesungguhnya dibelakang hari nanti akan datang hari-hari yang penuh kesabaran. Orang yang berpegang teguh dengan apa yang kalian pegang teguh akan mendapat 50 kali pahala yang kalian peroleh". Beliau ditanya (oleh sahabat) : "Mungkin 50 kali pahala diantara mereka". Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:"Bahkan 50 kali pahala kalian".(50)

Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam mengatakan demikian bagi orang yang mengamalkan sunnah dimana pada masanya umat sudah rusak.

Ibnu Syihab Az-Zuhri mengatakan: "Mengajarkan sunnah itu lebih utama daripada ibadah selama 200 tahun".

Baca juga : Malapetaka Akhir Zaman Dan Cara Mengatasinya

Suatu ketika Abu Muawiyah yang buta berbicara dengan Harun Ar-Rasyid, maka ia menyampaikan hadits: "Suatu saat Nabi Adam dan Musa 'alaihima sallam berdebat tiba-tiba Ali bin Ja'far menyela:

"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, masa kehidupan Nabi Adam dan Nabi Musa kan berbeda masa yang lama". Lalu khalifah Harun Ar-Rasyid menghardiknya: "Dia menceritakan kepadamu hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu kamu membantah dengan bagaimana mungkin?" Beliau terus mengulang-ulangi, sampai Ali bin Ja'far terdiam". Abu Utsman berkata: "Demikianlah seharusnya seseorang dalam mengagungkan hadits-hadits Nabi, menerimanya dengan sepenuh penerimaan, kepasrahan dan mengimaninya. Membantah orang yang menempuh jalan selain ini, sebagaimana yang dilakukan oleh Harun Ar Rasyid -rahimahullah- terhadap orang yang berani membantah hadits dengan mengatakan: "Bagaimana mungkin?" yang tujuannya adalah membantah dan mengingkarinya. Padahal seharusnya ia menerima semua yang diberitakan oleh Nabi.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk diantara mereka yang ketika mendengar hadits kemudian mengikutinya. Berpegang teguh sepanjang hidup dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, serta menghindari hawa nafsu yang menyesatkan, pendapat-pendapat yang sesat dan berbagai kejahatan yang menghinakan dengan karunia dan keutamaan dari Allah ta'ala. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarganya serta para sahabat ridhwanullahu 'alaihi ajma'in.

Sumber : AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS Abu Isma'il Ash-Shabuni

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

47 HR. Bukhari, Muslim dan lainnya
48 HR. Bukhari, Muslim dan lainnya
49 HR. Ahmad, Muslim dan lainnya
50 HR. Ibnu Nashar dalam As-Sunnah dengan sanad shahih

Minggu, 25 September 2016

Penyandaran Kebaikan Dan Kejelekan Pada Allah Ta'ala


Ahlus Sunnah bersaksi dan berkeyakinan bahwa kebaikan dan kejelekan, manfa'at dan mudzarat (kejadian yang manis maupun yang pahit) semuanya dari takdir dan ketentuan Allah ta'ala, tidak ada yang mampu mencegahnya, penyimpangkannya atau menjauhkannya. Seseorang tidak akan tertimpa suatu musibah melainkan apa yang telah ditakdirkan. Meskipun seluruh makhluk berusaha keras untuk menolong orang tersebut, akan tetapi Allah menakdirkan untuk tertimpa musibah maka usaha tersebut tidak berhasil.
Demikian juga meskipun seluruh makhluk berusaha untuk mencelakakan dirinya akan tetapi orang tersebut tidak ditakdirkan celaka, maka usaha tersebut tidak akan berhasil, hal ini sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas radiallahu'anhu.

Allah berfirman: "Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya.." (QS. Yunus : 107).

Termasuk dari pemahaman dan manhaj Ahlus Sunnah (selain keyakinan mereka bahwa kebaikan dan kejelekan semuanya dari takdir Allah) mereka juga menetapkan bahwa tidak diperkenankan menyadarkan kepada Allah apa-apa yang berkesan negatif bila diucapkan secara terpisah. Tidak boleh dikatakan, misalnya: Allah itu pencipta monyet, babi, kumbang kelapa dan jangkrik, meskipun kita tahu tidak ada makhluk yang tidak diciptakan oleh Allah. Dalam hal ini terdapat hadits tentang do'a istiftah:

"Sungguh Maha Suci dan Maha Tinggi Engkau ya Allah, kebaikan seluruhnya di kedua tangan-Mu dan kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu"(HR. Ahmad, Muslim dan lainnya).

Maksudnya, wallahu a'lam, kejelekan tidak termasuk yang bisa disandarkan kepada Allah secara terpisah, seperti: "Wahai Pencipta keburukan, atau wahai yang menakdirkan kejelekan". Meskipun benar bahwasanya Dialah yang menciptkan dan menakdirkan kejelekan tersebut. Oleh karena itu Nabi Khidir 'alaihissalam menyandarkan kehendak untuk merusak perahu kepada dirinya sendiri, seperti dikisahkan dalam Al-Qur'an:

"Adapun kapal itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku hendak merusakkan kapal itu, karena dihadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap kapal." (QS. Al-Kahfi : 79).

Namun ketika beliau menyebutkan kebaikan, kebajikan, dan rahmat, beliau menyandarkan kehendaknya kepada Allah, Allah ta'ala berfirman:"..maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu.." (QS. Al-Kahfi : 82).

Allah juga memberitakan tentang diri Ibrahim 'alaihissalam dalam firman-Nya: "dan apabila aku sakit. Dialah yang menyembuhkan aku" (QS. Asy-Syu'ara : 80).

Beliau menyandarkan sakit kepada dirinya sendiri dan menyandarkan kesembuhan kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Meskipun keduanya datangnya dari Allah Yang Maha Mulia.

Sumber : AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS Abu Isma'il Ash-Shabuni

Hukum Orang Yang Meninggalkan Shalat Dengan Sengaja


Ulama Ahli Hadits berbeda pendapat mengenai orang yang meninggalkan shalat wajib dengan sengaja. Imam Ahmad dan banyak ulama salaf{36} menganggap kafir orang tersebut dan mengeluarkannya dari Islam, berdasarkan hadits shahih bahwasanya Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"Yang membatasi antara seorang hamba dan kemusyrikan adalah meninggalkan shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir."{37}

Sementara Imam Syafi'i, para sahabatnya dan banyak ulama salaf menganggap orang tersebut belum kafir, selama masih meyakini kewajiban shalat tersebut. Akan tetapi mereka berpendapat bahwa orang tersebut harus dibunuh, sebagaimana dibunuhnya orang-orang murtad. Mereka menafsirkan sabda Nabi shallallahu'alaihi wa sallam: "Barangsiapa yang meninggalkan shalat (dengan mengingkari kebajibannya) maka ia kafir". Hal itu sebagaimana firman Allah:

"..Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orangorang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka kafir (ingkar) kepada hari kemudian" (QS. Yusuf : 37).

Beliau (Yusuf) meninggalkan mereka bukan karena tindakan yang belum jelas kekufurannya, namun karena mereka mengingkari (Allah dan hari akhir).

Note :

36] Mereka diantaranya:Ishaq bin Rahawaih, Ibnul Mubarak, Ibrahim An-Nakha'i, Al-Hakam bin Utaibah, Ayyub As-Sakhtiyani, Abu Bakar bin Syaibah, Abu Khaitsamah, Zuhaeir bin Harab dan lainnya. Adapun dari kalangan Sahabat: Um ar bin Khatab, Mu'adz bin Jabal, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Jabir bin Abdullah, Abu Darda dan lainnya.

37] Dikeluarkan oleh Ibnu Nashar, Muslim, Ahmad dan lainnya.


Sumber : AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS Abu Isma'il Ash-Shabuni

Jumat, 23 September 2016

Bukti Kebenaran Islam, Sayap Lalat Mengandung Anti Biotik


Mungkin masih banyak orang yang belum mengetahui tentang kebenaran sabda Rasulullah bahwa dalam satu sayap lalat terdapat penyakit dan sayap yang satunya mengandung penawarnya. Oleh karena itu saya mengutip penjelasan tersebut dari laman bersamadakwah.net.

Sewaktu muda, Syaikh Abdel Daem Al Kaheel pernah tak mampu menjawab pertanyaan orang ateis yang menghina salah satu hadits Nabi. “Bagaimana mungkin Nabi kalian menyuruh menenggelamkan lalat yang hinggap di minuman sembari menjelaskan di salah satu sayapnya ada obat. Lalu kalian mau meminum minuman seperti itu?” tanyanya nyinyir.

Al Kaheel paham bahwa yang dimaksud orang atheis tersebut adalah sabda Rasulullah:

“Jika ada seekor lalat yang terjatuh pada minuman kalian maka tenggelamkan, kemudian angkatlah (lalat itu dari minuman tersebut), karena pada satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat” (HR. Al Bukhari)

Tentu sebagai mukmin ia yakin dengan kebenaran hadits ini. Tetapi, bagaimana menjelaskan kepada orang atheis yang tidak mempercayai apapun kecuali materi?

Beberapa tahun kemudian, ketika menulis buku Asrar As Sunnah An Nabawiyah (Rahasia Sunnah Nabi), Syaikh Abdel Daem Al Kaheel menjelaskan kebenaran hadits ini dalam satu bab tersendiri dengan didukung oleh sejumlah penelitian, terutama penelitian Joan Clark.

Dokter dari Australia itu melakukan penelitian tentang lalat dan menemukan bahwa permukaan luar tubuh lalat mengandung antibiotik yang dapat mengobati banyak penyakit. Penelitian ini juga menjelaskan bahwa obat pada sayap itulah yang membuat lalat tidak terkena penyakit yang dibawanya sendiri.

Hasil penelitian Joan Clark ini cukup mengejutkan sekaligus memancing banyak ilmuwan lain untuk melakukan penelitian berikutnya. Hasilnya menunjukkan fakta lebih rinci bahwa cara terbaik mengeluarkan zat antibiotik pada lalat adalah dengan cara mencelupkannya ke dalam air. sebab, zat antibiotik tersebut terutama terdapat pada permukaan luar tubuh dan sayapnya.

Setelah penelitian tersebut, seorang dokter dari Rusia kemudian mengembangkan pengobatan baru dengan lalat. Sedangkan Profesor Juan Alvarez Bravo dari Universitas Tokyo mengisyaratkan pengembangan pemanfaatan ekstrak lalat untuk pengobatan.

Masya Allah, fakta-fakta ilmiah ini baru terungkap mulai abad ke-20. Sedangkan Rasulullah telah mensabdakannya 1400 tahun sebelumnya. Lalu siapa yang mengajari Rasulullah kalau bukan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Hal ini juga menjadi salah satu bukti kebenaran Islam yang seharusnya membuat iman dan rasa syukur kita kian meningkat. Wallahu a’lam bish shawab.

BERSEMAYAMNYA ALLAH DI ATAS 'ARSY



Ahlul Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah subhanahu wa ta'ala berada di atas tujuh lapis langit, di atas 'Arsy-Nya, sebagaimana dalam surat Yunus:

"Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada keizinan-Nya" (QS. Yunus : 3).

"Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan.Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Rabbmu".(QS. Ar-Ra'd : 2).

".. kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang Maha Mengetahui" (QS.Al-Furqan : 59).

"...kemudian Dia-pun bersamayam di atas 'Arsy".(QS. As-Sajdah : 4).

"...dan kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik.."(QS. Fathir : 10).

"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya..". (QS. As-Sajadah : 5).

"Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga tiba-tiba bumi itu bergoncang". (QS. Al-Mulk : 16).

Allah subhanahu wa ta'ala memberitakan tentang Fir'aun yang terlaknat, bahwasanya ia pernah berkata kepada Haman (pembantunya):

"Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintupintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Ilah Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta..." (QS. Al-Mu'min : 36-37).

Fir'aun berkata demikian karena ia mendengar Musa mengabarkan bahwa Rabbnya berada di atas langit. Para ulama dan tokoh imam-imam dari kalangan salaf tidak pernah berbeda pendapat, bahwa Allah 'azza wa jalla' berada diatas 'arsy-Nya. Dan 'arsy-Nya berada di atas tujuh lapis langit. Mereka menetapkan segala yang ditetapkan Allah, mengimaninya serta membenarkannya. Mereka menyatakan seperti yang Allah katakan bahwa Allah bersamayam di atas 'Arsy-Nya. Mereka membiarkan makna ayat itu berdasarkan dhahirnya, dan menyerahkan hakikat sesungguhnya kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Mereka mengatakan:

"Kami mengimani, semuanya itu dari sisi Rabb kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal."(QS. Ali-'Imran : 7).

Sebagaimana Allah terangkan tentang orang-orang yang dalam ilmunya mengatakan demikian, dan Allah ridha serta memujinya.

Imam Malik pernah ditanya dalam majelisnya tentang ayat Allah: "Ar-Rahman bersemayam di atas 'Arsynya".(QS. Thaha : 5), Bagaimana caranya Allah bersemayam?. Maka Imam Malik menjawab:" Bersemayam itu maklum (diketahui maknanya), bagaimananya (caranya) tidak diketahui, menanyakan bagaimananya adalah bid'ah, dan saya memandang kamu (penanya) sebagai orang yang sesat, kemudian memerintahkan untuk mengeluarkan penanya tersebut dari majelis.

Abdullah bin Al-Mubarak berkata: "Kami mengetahui Rabb kami berada di atas 7 lapis langit, bersemayam di atas 'Arsy-Nya, terpisah dengan makhluk-Nya. Dan kami tidak menyatakan seperti ucapan Jahmiyyah bahwa Allah ada di sini, beliau menunjuk ke tanah (bumi)".(Sanadnya hasan).

Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata: "Barangsiapa yang tidak menetapkan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala berada di atas 'Arsy-Nya maka dia kufur kepada Rabbnya, halal darahnya, diminta taubat, kalau menolak maka dipenggal lehernya, lalu bangkainya dicampakkan ke pembuangan sampah agar kaum muslimin dan orang-orang mu'ahad tidak terganggu oleh bau busuk bangkainya, hartanya dianggap sebagai fa'i (rampasan perang)-tidak halal diwarisi oleh seorang pun muslimin, karena seorang muslim tidak mewarisi harta orang kafir, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Seorang Muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim"(HR. Bukhari).

Dalam hadits Mu'awiyah bin Hakam, bahwa ia berniat membebaskan budak sebagai kifarat. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menguji budak
wanita. Beliau bertanya:"dimanakah Allah?", maka ia menjawab di atas langit, beliau bertanya lagi:"Siapa aku?", maka ia menjawab: "Anda utusan Allah".(HR. Muslim dan lainnya). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghukumi sebagai muslimah karena ia menyatakan bahwa Allah diatas langit.

Imam Az-Zuhri imamnya para imam berkata: "Allahlah yang berhak memberi keterangan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang berhak menyampaikan dan kita wajib pasrah menerimanya."

Wahhab bin Munabbih berkata kepada Ja'ad bin Dirham: "Sungguh celaka engkai wahai Ja'ad karena masalah itu (karena Ja'ad mengingkari sifat-sifat Allah)!, seandainya Allah tidak mengkhabarkan dalam Kitab-Nya bahwa Ia memiliki tangan, mata dan wajah, niscaya aku tidak berani mengatakannya, takutlah kepada Allah!"

Khalid bin Abdillah Al-Qisri suatu ketika berkhutbah pada hari raya 'Idul Adha di Basrah, pada akhir khutbahnya ia berkata: "Pulanglah kalian kerumah masing-masing dan sembelihlah kurban-kurban kalian, semoga Allah memberikahi kurban kalian. Sesungguhnya pada hari ini aku akan menyembelih Ja'ad bin Dirham, karena ia berkata: Allah tidak pernah mengangkat Ibrahim 'alaihissalam sebagai kekasih-Nya, dan tidak pernah mengajak Musa berbicara. Sungguh Maha Suci Allah dari apa yang dikatakan Ja'ad karena kesombongan, maka Khalid turun dari mimbar dan menyembelih Ja'ad dengan tangannya sendiri, kemudian memerintahkan untuk disalib.

Rujukan : AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS Abu Isma'il Ash-Shabuni

AL-QUR'AN KALAMULLAH BUKAN MAKHLUK



Ahlus Sunnah bersaksi dan berkeyakinan bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah (ucapan Allah), Kitab-Nya dan wahyu yang diturunkan, bukan makhluk. Barangsiapa yang menyatakan dan berkeyakinan bahwa ia makhluk maka kafir menurut pandangan Ahlus Sunnah.

Al-Qur'an merupakan wahyu dan kalamullah yang diturunkan melalui Jibril kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam dengan bahasa Arab untuk orang-orang yang berilmu sebagai peringatan dan kabar gembira, sebagaimana firman Allah ta'ala:

”Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (Asy-Syu'ara:192-195).

Al-Qur'an disampaikan oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam kepada umatnya sebagaimana yang diperintahkan Allah: "Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu". (Al-Maidah:67), dan yang disampaikan oleh beliau adalah kalamullah. Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Apakah kalian yang akan menghalangiku untuk menyampaikan kalam (ucapan) Rabbku" (HR. Bukhari dalam Af'alul 'ibad, At-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Ibnu Majah).

Al-Qur'an yang dihafal dalam hati, dibaca oleh lisan, dan ditulis dalam mushaf-mushaf, bagaimanapun caranya Alqur'an dibaca oleh qari, dilafadzkan oleh seseorang, dihafal oleh hafidz, atau dibaca dimanapun ia dibaca, atau ditulis dalam mushaf-mushaf dan papan catatan anak-anak dan yang lainnya adalah kalamullah,bukan makhluk.

Barangsiapa yang beranggapan bahwa ia makhluk, maka telah kufur kepada Allah Yang Maha Agung. Al-Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah
berkata:

"Al-Qur'an adalah kalamullah-bukan makhluk. Barangsiapa yang mengatakan Al-Qur'an adalah makhluk, maka dia telah kufur kepada Allah Yang Maha Agung, tidak diterima persaksiannya, tidak dijenguk jika sakit, tidak dishalati jika mati, dan tidak boleh dikuburkan di pekuburan kaum muslimin. Ia diminta taubat, kalau tidak mau maka dipenggal lehernya." (Sanadnya shahih, disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Tadzkiratul Huffadz).

Abu Ishaq bin Ibrahim pernah ditanya tentang lafadz AlQur'an, maka Beliau berkata:"Tidak pantas untuk diperdebatkan. 'Al-Qur'an kalamullah, bukan makhluk'".

Imam Ahmad bin Hambal berkata:"Orang yang menganggap makhluk lafadz Al-Qur'an adalah Jahmiyah, Allah berfirman:'..maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalamullah' (At-Taubah:6). Dari mana ia mendengar?(Sanadnya shahih).

Abdullah bin Al-Mubarak berkata:"Barangsiapa yang mengkufuri satu huruf Al-Qur'an saja, maka ia kafir (ingkar) dengan Al-Qur'an. Barangsiapa yang mengatakan: Saya tidak percaya dengan Al-Qur'an maka ia kafir".

Sumber : AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS Abu Isma'il Ash-Shabuni

Rabu, 21 September 2016

Perkara Jahiliyah ke-17


Menisbatkan Kebatilan Yang Mereka Lakukan Kepada Para Nabi

Orang-orang jahiliyah menisbatkan kebatilan yang mereka lakukan kepada para Nabi. Sebagaimana hal itu disebutkan di dalam firman Allah subhanahu wa ta'ala," Dan sulaiman tidak kafir..." (QS. Al Baqarah:102). Dan Allah subhanahu wata'ala berfirman," Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang nashrani”. ( Ali 'Imran: 67).

Note :

Termasuk jalan hidup orang-orang jahiliyah adalah menisbatkan kekufuran da n kesesatan mereka kepada para Nabi. Sebagaimana kaum Yahudi yang menisbatkan ilmu sihir kepada Nabi Sulaiman. Mereka berkata,"Sihir itu adalah sebagian dari perbuatan Sulaiman. Dengan ilmu tersebut, dia mempunyai kemampuan menguasai dan mengendalikan jin dan setan."

Mereka pura-pura tidak mengetahui bahwa para setan itu adalah sebagian dari makhluk Allah. Allah ta'ala berhak mengendalikan mereka sesuai kehendak-Nya. Dan sesungguhnya Allah telah mengendalikan mereka untuk Nabi-Nya, Sulaiman 'alaihissalam. Lalu kaum Yahudi menisbatkan ilmu sihir pada Sulaiman dalam rangka agar tersebar di kalangan manusia. Dan mereka berkata,"Ini merupakan amalan dan perbuatan para Nabi."

Orang-orang Yahudi dan Nashrani juga menisbatkan kekafiran mereka kepada Ibrahim 'alaihissalam, imamnya orang-orang yang bertauhid dan bapaknya para Nabi. Mereka menisbatkan kekufuran mereka kepadanya dengan mengatakan,"Ini adalah ajaran dan agama Ibrahim." Oleh karena itu Allah membantah mereka dengan firman-Nya,"Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nashrani. Akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri(kepada Allah). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik."(QS. Ali 'Imran).

Inilah agama Ibrahim 'alaihissalam. Sesungguhnya beliau berada diatas agama tauhid, berlepas diri dari kesyirikan dan orang musyrik. Bertentangan dengan apa  yang dipegangi oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani. Dan juga tidaklah muncul agama Yahudi dan Nashrani itu kecuali setelah masa Ibrahim dan beberapa generasi. Maka agaimana bisa agama Yahudi dan Nashrani dinisbatkan kepadanya?! Ini adalah suatu kedustaan yang paling jelek. Sejarah juga mendustakan mereka. Karena antara mereka dan Ibrahim ada jarak beberapa masa yang cukup panjang. Sedangkan Taurat tidak diturunkan kepada Musa dan demikian juga Injil kepada 'Isa kecuali setelah masa Ibrahim 'alaihissalam. Sebagaimana Allah berfiman,

"Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim? Padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berfikir?" (QS. Ali 'Imran : 65).

Demikian juga apa yang terjadi diumat ini. Muncul orang-orang yang menisbatkan kebatilan mereka kepada Nabi dengan membuat hadits-hadits yang penuh kedustaan untuk menolong kebatilannya.

Perkara Jahiliyah ke-16


Orang-Orang Yahudi Mengganti Taurat Dengan Kitab-kitab Sihir

Orang-orang Yahudi mengganti apa yang telah Allah datangkan kepada mereka (berupa kitab Taurat) dengan kitab-kitab sihir. Sebagaimana Allah menyebutkan hal itu dalam firman-Nya, "Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada
pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah). Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka
mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia ..." (QS. Al-Baqarah : 101-10).

Note:

Orang-orang yahudi telah mengingkari Taurat yang di dalamnya terdapat tentang keterangan sifat-sifat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan memerintahkan kepada mereka untuk mengikutinya. Sebagaimana Allah berfirman,"(Yaitu) Orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.
Yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar. Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. Dan membuang bagi mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka." (QS. Al A'raf : 157).

Dan sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi 'Isa 'alaihissalam di dalam Injil, ketika ia berkata,"Hai bani Israil,  sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat. Dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)."(QS.Ash-Shaf : 6).

Kabar tentang datangnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah disebutkan di dalam Taurat dan Injil, baik tentang nama, risalah maupun sifat-sifatnya. Sampai-sampai mereka mengenalinya seperti mengenali anak-anak mereka sendiri. Maka ketika ereka mengingkari kitab Allah Taurat dan tidak mau mengamalkan isinya, Allah timpakan bencana pada mereka. Yaitu mereka mengambil kitab-kitab sihir yang hal itu merupakan amalan setan. Mereka rela menjadikan amalan setan sebagai pengganti wahyu Allah, yang merupakan penguasa semesta alam. Ini adalah suatu adzab buat mereka. Dan setiap orang yang berpalin dari kebenaran, sungguh dia akan di uji dan di timpa kebatilan.

Orang yang meninggalkan dakwah para Rasul yang mana dakwahnya para Rasul merupakan dakwah kepada Tauhid dan mengesakan Allah di dalam ibadah, maka mereka akan diuji dengan dia menyebarkan kesyirikan dan berbagai khurafat. Bahkan dia mendatangkan dalil untuknya dan menyebarkannya di kalangan manusia bahwa perkara itu adalah perkara yang dibenarkan. 

Jumat, 16 September 2016

Orang­-Orang Yang Tidak Mendapatkan Fitnah Kubur



Setiap manusia pasti akan merasakan mati. Dan setiap manusia akan ditanya di alam kuburnya oleh dua malaikat, kecuali orang-orang berikut ini :

1. Para Nabi
   Sesungguhnya para nabi lebih mulia dibandingkan syuhada dan sungguh para nabi itu telah mengkabarkan, bahwa para syuhada itu dilindungi dari fitnah kubur,“Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya itu sebagai
ujian/fitnah baginya.” (HR. An­ Nasa’i)

2. Para Shiddiqin
   Mereka tidak akan ditanya karena kedudukan mereka yang lebih tinggi dibandingkan kedudukan syuhada. Apabila syuhada saja tidak ditanya, maka shiddiqin lebih utama untuk tidak ditanya di alam kubur. Ada juga  ulama yang berpendapat bahwa mereka juga akan ditanya berdasarkan keumuman dalil.

3. Syuhada
   Adapun para syuhada yang terbunuh di jalan Allah, sesungguhnya mereka  tidak akan ditanya karena telah tampak kebenaran iman mereka dengan jihad  mereka.“Sesungguhnya Allah telah membeli dari kaum mukminin diri dan harta mereka dengan surga, mereka berperang di jalan Allah. Mereka membunuh dan mereka dibunuh.” (QS. At Taubah : 111).

4. Orang­Orang Yang Ribath
   Sesungguhnya mereka itu tidak akan difitnah atau diuji. Dalam Shahih Muslim, sesungguhnya Rasulullah bersabda,“Ribath (berjaga diperbatasan­pent) sehari semalam itu lebih baik dari pada berpuasa sambil melakukan shalat malam selama sebulan. Dan jika dia mati maka akan mengalir amalannya yang biasa dia kerjakan dan mengalir terus rizkinya dan akan aman dari fitnah kubur.” (HR. Muslim)

5. Anak Kecil Dan Orang Gila
   Sebagian ulama mengatakan mereka diuji karena termasuk dalam keumuman  dalil. Kalau telah hilang taklif (beban syariat) maka keadaan setelah  kematiannya itu berbeda dengan keadaan ketika hidup di dunia. Berkata  sebagian ulama, sesungguhnya anak kecil dan orang gila itu tidak ditanya, karena mereka itu tidak mukallaf.

Itulah 5 orang yang tidak akan ditanya di alam liburnya. Semoga kita semua selamat dari fitnah dan azab kubur. Wallahua'lam bishshawab.

Kamis, 15 September 2016

Kisah Gadis Cantik Amerika Memeluk Islam Part 2


Hal ini terbukti dalam ucapannya,“Sesungguhnya tujuanku yang pokok ialah saya berjuang membela Islam dan memerangi kapitalis, kedzaliman, kejahatan serta segala bentuk keburukan. Saya yakin bahwa Islam adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan manusia dari bahaya perang, kelaparan dan nyanyian.”

Ketika ia ditanya mengapa hanya Islam yang menjadi penyelamat manusia? ia menjawab: “Karena hanya Islam yang mampu menyajikan pemecahan problema dunia sekarang ini, baik dari sudut sosial maupun politik. Karena ia adalah peraturan hidup yang kompleks yang mempunyai keseimbangan antara tuntutan rohani dan jasmani tanpa ada kekurangan. Sungguh saya telah mendapatkan jawaban secara filosofis di dalam Islam, yang dulu pertanyaan-pertanyaan itu membuatku gelisah sampai tidak bisa tidur
nyenyak.

Dan Hajar pada waktu berbicara tentang Islam, ia meyakini dengan sebenarnya atas kebenaran apa yang diucapkannya. Bahkan kadang-kadang ia menguraikan gambaran Islam yang diyakininya dengan bahasa Arab. Pada pokoknya ia benar-benar mengerti bahwa Islam adalah peraturan hidup yang multi kompleks, bukan hanya sekadar untuk ibadah saja.

Ajaran jihad dalam Islam menurut Hajar merupakan yang paling penting dan yang paling diperlukan oleh umat Islam pada saat sekarang ini. Sejak memeluk Islam ia mengubah cara hidupnya. Ia memakai busana muslimah dan melaksanakan shalat lima waktu. Ia mencurahkan segala daya dan upaya untuk menghafal ayat-ayat Al Qur’an, agar mampu melaksanakan shalat secara lebih sempurna.

Suatu hal yang wajar, jika ia menghadapi rintangan dari keluarga dan rekan-rekannya. Namun hal itu dianggapnya sebagai hal yang ringan saja. Ia mengatakan: “Dalam rangka menjalankan keyakinanku, segala rintangan kuanggap sebagai hal yang ringan dan hal itu adalah wajar bagi seorang muslim. Sebelumnya juga memang sudah banyak terjadi orang muslim disiksa, akan tetapi mereka tetap dalam pangkuan Islam. Demikian pula saya, tidak ada yang saya perdulikan kecuali bahwa saya adalah seorang muslim.”

Kegiatan Hajar tidak terbatas dalam bidang sosial dan agama saja. Ia juga aktif dalam bidang politik dan beranggapan bahwa harus ada hak yang harus ditunaikan dengan adil bagi bangsa Palestina Muslim. Karena itu ia selalu memberikan ceramah tentang penindasan dan penganiayaan terhadap bangsa Palestina.

Hajar memang gadis tunggal yang tiada duanya. Ia seorang gadis berkulit putih yang merubah profesinya menjadi da’iyah Islamiyah yang membela urusan bangsa Palestina, padahal ia hidup di tengah-tengah masyarakat yang tidak mau mendengarkan seruannya. Namun ia tidak goyah dan tidak bosan untuk terus melakukannya.

Tugas dakwahnya secara umum ditujukan kepada segenap umat Islam dan secara khusus ditujukan kepada bangsa Arab. "Wahai bangsa Arab, kalau anda menyinari jalan semua umat manusia, janganlah anda lemah menghadapi Israel dan antek-anteknya yang telah merampas bumimu yang suci itu."

Kisah Gadis Cantik Amerika Memeluk Islam Part 1


Hajar adalah nama baru bagi Yamila. Seorang gadis Amerika berumur 28 tahun, mahasiswi Missouri University, Colombia, jurusan ilmu sosial. Dua tahun yang lalu ia mulai mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh dan mendalami hakikat agama Islam. Masalah seperti ini adalah masalah yang sulit yang belum pernah dijumpai di Amerika yang materialistis.

Setelah dua tahun mendalami Islam ia memproklamirkan dirinya memeluk agama Islam dan mengubah namanya dari Yamila menjadi Hajar. Ia mencintai nama itu karena ada hubungannya dengan Islam. Hajar menceritakan pengalamannya:

“Sudah lama timbul pertanyaan dalam hati saya tentang alam ini, existensi dan kehidupan di dalam alam ini. Untuk mendapatkan jawaban ini secara filosofis telah membuat saya menjadi kurus,” katanya.

“Karena saya sewaktu mempelajari kebudayaan Amerika tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan mengenai hal itu.” Saya sebenarnya sudah pernah mendengar tentang agama Islam tetapi gambarannya belum jelas dalam hatiku. Bahkan gambaran yang saya dapati malah teramat buruk. Saya menduga bahwa Islam adalah agama pemisah antara laki-laki dan perempuan dan berdiri di atas kebengisan dan kekerasan.

Demikianlah saya belum juga mengerti tentang hakikat Islam. Setelah saya menekuninya, barulah saya tahu tentang kesucian Islam dan mengerti bahwa ia adalah agama yang menentang kekuatan materialis. Dari sejak itulah saya lebih giat lagi mempelajarinya walaupun terasa sangat berat, karena di sana tidak ada buku-buku berbahasa inggris yang menjelaskan Islam secara benar.

Hal ini bukan menjadi penghalang bagi saya, sebab saya memang sudah cinta kepada Islam dan saya yakin benar bahwa Islam adalah agama yang adil dan obyektif, yang memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya sendiri. Demikianlah terus-menerus saya pahami dan saya bertambah sadar, yang akhirnya atas petunjuk Allah ? saya memeluk agama Islam.”

Setelah Hajar memeluk Islam, ia bekerja sungguh-sungguh untuk menyebarkan Islam. Karena ia sadar bahwa tugasnya sekarang adalah berjuang membela dan menegakkan Islam serta menyampaikan da’wah Islamiyah kepada orang-orang Amerika. Mereka menjadi bodoh tentang Islam karena ulah musuh-musuh Islam yang dengki, yang memberikan gambaran buruk tentang Islam. Islam sungguh telah mengubah keadaan Hajar secara total. Kalau dulu sebelum Islam ia hidup seperti gadis-gadis Amerika lainnya, bermain-main dan menghibur diri. Kini ia menjadi orang yang patuh kepada ajaran dan norma-norma Islam. 

Rabu, 14 September 2016

Kisah Masuk Islamnya Seorang Warga Amerika



Di Amerika Serikat banyak orang yang sedang membahas tentang jalan hidup baru. Ada yang cenderung kepada jalan hidup yang di ajarkan Islam, ada yang memilih cara hidup yang digariskan oleh agama Kristen, Budha atau Hindu. Kesimpulannya mereka membutuhkan jalan yang dibimbing oleh Tuhan. Tetapi di sana sedikit sekali orang yang dapat
menjelaskan bahwa Islam merupakan jalan yang dipilihkan Allah ta'ala untuk kita.

• Semula perhatianku kucurahkan untuk mempelajari agama budha, karena saya ingin menjadi pendeta budha. Setelah saya memperbandingkan agama itu di suatu perguruan tinggi, perhatian saya tertuju kepada Islam. Setelah selesai di perguruan tinggi saya belajar di negeri Belanda bersama dua orang teman karibku. Satu dari teman itu adalah mahasiswa dari Yordan dan yang satu lagi dari Jerman. Yang kedua ini sudah agak tua dan mempunyai kedudukan terhormat. Ia sudah 30 tahun mencurahkan hidupnya di negeri Belanda untuk Allah ta'ala. Akibat pengaruh dua teman inilah saya masuk Islam tanpa memperhatikan kebaikannya atau efeknya. Bahkan saya merasa puas dan mengakui bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sebenarnya adalah utusan Allah ta'ala. Dan apabila saya berpaling dari perintah Allah ta'ala dan utusan-Nya, maka Allah ta'ala juga akan berpaling dari saya.

• Lima tahun dari umurku yang terakhir ini, saya habiskan di Amerika dan sebagiannya di dunia Arab. Sehingga sampailah saya pada suatu kesimpulan bahwa saya cinta dan menghargai agama Islam. Saya mengambil pelajaran daripadanya mengenai bagaimana agama Islam ini menggambarkan kehidupan manusia dan menjadikannya sebagai kehidupan yang suci dan penuh berkah. Sungguh suatu tragedi yang sangat mengiris hati, jika saya melihat banyak di antara umat Islam yang sudah hilang kepercayaannya terhadap Islam. Di mana rakyat dan pemerintahnya mengekor Amerika dan negara-negara barat. Sementara orang-orang Amerika dan orang-orang barat sendiri telah putus asa dan kecewa terhadap tradisi, peraturan dan kepercayaan mereka. Berjuta-juta orang di dunia Arab ingin meniru dan mengambil pelajaran dari sana, padahal berjuta-juta orang Amerika mengakui bahwa negara dan rakyat mereka makin hari makin buruk dan semakin hancur. Bahkan mereka mengharap agar negaranya cepat hancur.

• Sebagian orang Islam Amerika memang ada yang kuat imannya, terutama mereka yang pindah dari agama lain. Namun demikian, kita masih sangat memerlukan tambahan pengetahuan tentang Islam. Kita sering mengerjakan amal yang kurang tepat. Bahkan kadang kadang perbuatan yang berbahaya yang semuanya memakai nama Islam atau atas nama Islam. Di samping itu, memang sedikit sekali rakyat Amerika yang mengenal dan mengerti bagaimana memberikan petunjuk kepada saudara-saudara mereka. Begitu pula karena sedikitnya orang Islam yang mempraktekkan ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat, kemudian ada orang yang pergi ke Amerika untuk berdakwah menyebarkan Islam dan hendak meluruskan dan membangunnya atas dasar yang benar. Karena terus terang, bahwa masyarakat Islam yang ada di dunia sekarang ini sebenarnya belum mengamalkan ajaran Islam sebagaimana mestinya. Masih banyak da’i-da’i muslim yang datang ke Amerika bukan untuk berdakwah dan memperkokoh agama.

• Akhirnya saya mengharap mudah-mudahan kiranya sepuluh tahun mendatang, mahasiswa-mahasiswa yang sedang belajar sudah mempunyai pandangan yang luas tentang pusat-pusat kebudayaan Islam yang orisinil. Begitu juga saya mengharapkan, semoga mereka di sana mendapat dukungan yang kuat, sehingga dapat melakukan perbuatan yang menta'ati perintah Allah ta'ala. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Islam Datang Mengangkat Derajat Wanita


Islam memuliakan derajat wanita dengan jalan, menjadikan mereka sebagai pendidik generasi mendatang dan menggantungkan baik atau buruknya umat kepadanya. Islam mewajibkan wanita menutup aurat untuk menyelamatkan mereka dari tangan-tangan jahil dan menghindarkan masyarakat dari dampak negatif.

Perlu ditambahkan bahwa yang demikian itu menciptakan rasa kasih sayang antara suami isteri. Sebab laki- laki yang melihat perempuan yang lebih cantik daripada isterinya dapat menimbulkan gangguan yang
bisa berakibat pada perceraian. Allah ta'ala berfirman:

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin,"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (QS.Al Ahzab : 59).

Anne Bizan, tokoh wanita internasional pernah mengatakan,“Seringkali datang menghinggapi pikiran saya bahwa wanita dalam naungan Islam lebih merdeka (bebas) ketimbang di agama-agama lain. Sebab Islam banyak menjaga hak-hak wanita jika dibandingkan dengan agama lain yang melarang poligami.

Demikian pula ajaran Islam lebih adil bagi wanita dan lebih menjamin kebebasannya. Sedang wanita di Inggris tidak memperoleh hak milik kecuali sejak 20 tahun yang lalu saja, padahal Islam telah menentukan hak milik bagi wanita sejak datangnya agama Islam yang pertama kali. Adalah omong kosong kalau dikatakan bahwa Islam menganggap wanita sebagai orang yang tidak bernyawa.”

Ia melanjutkan penuturannya: “Bila kita timbang secara adil, maka poligami secara Islam yang menjaga, melindungi, memberi makan, pakaian dan perhatian kepada wanita adalah lebih baik daripada prostitusi ala barat yang membolehkan laki-laki melampiaskan syahwatnya pada wanita kemudian wanita itu dibuang di jalanan."

Franzoa Sagan, seorang orientalis barat pernah berkata: "Wahai wanita timur, ketahuilah bahwa orang yang memanggil namamu dan mengajakmu beremansipasi dengan laki-laki sebenarnya adalah orang-orang yang menertawakan kami sebelum kamu."

Fon harmer pernah berkata: "Menutup aurat bagi wanita adalah alat untuk menjaga kehormatannya serta martabat yang didambakannya."

Selasa, 13 September 2016

12 Alasan Mengapa Rokok Itu Diharamkan


Rokok memang tidak ada pada zaman Rasulullah, tetapi Islam datang membawa kaidah-kaidah umum yang melarang segala sesuatu yang mendatangkan mudharat bagi badan atau mengganggu teman pergaulan atau menyia-nyiakan harta. Berikut ini 12 alasan mengapa rokok itu diharamkan.

1. Firman Allah ta'ala:
   “Dan (Rasul) menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS. Al A’raf : 157).
Dan rokok termasuk yang buruk dan membahayakan, tak sedap baunya.

2. Firman Allah ta'ala:
   “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (Q.S; Al Baqarah: 195).
Rokok mengakibatkan penyakit yang membinasakan, seperti kanker paru-paru dan lain sebagainya.

3. Allah ta'ala berfirman:
   “Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri.” (QS. An Nisa : 29).
Rokok adalah proses membunuh diri secara perlahan-lahan.

4. Firman-Nya pula:
   “Tetapi dosa keduanya (arak dan judi) lebih besar dari manfa'atnya.” (QS. Al Baqarah: 219).
Begitu juga dengan rokok, bahayanya lebih besar daripada manfaatnya.

5. Dan Firman-Nya pula:
   “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Israa’: 26-27).

6. Rasulullah bersabda:
   “Tidak boleh membahayakan diri sendiri atau orang lain.” (HR. Ahmad).
Rokok membahayakan bagi si perokok, mengganggu tetangga dan membuang-buang harta.

7. Rasulullah bersabda:
   “Dan Allah membenci untukmu perbuatan menyia-nyiakan harta.” (HR.Bukhari dan Muslim).
Merokok adalah menyia-nyiakan harta, dan dibenci oleh Allah ta'ala.

8. Sabda Rasulullah:
   “Perumpamaan kawan duduk yang baik dengan kawan duduk yang jelek ialah seperti penjual minyak wangi dengan peniup api tukang besi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Perokok adalah kawan duduk yang jelek yang meniupkan api.

9. Sabda Rasulullah pula:
   “Barangsiapa meminum racun hingga mati, maka racun itu akan berada di tangannya dan diminumnya di neraka Jahannam selama-lamanya.” (HR. Muslim).
Rokok mengandung racun (nikotin) yang membunuh penghisapnya perlahan-lahan dan menyiksanya.

10. Sabda Rasulullah:
   “Barangsiapa yang makan bawang putih atau bawang merah, hendaknya ia menyingkir dari kami dan menyingkir dari masjid kami dan cukuplah ia duduk di rumahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rokok lebih busuk baunya daripada bawang putih atau bawang merah.

11. Sebagian besar ahli fiqih mengharamkan rokok. Sedang yang tidak mengharamkannya belum melihat bahayanya yang nyata, yaitu penyakit kanker.

12. Apabila orang membakar uang puluhan ribu, kita pasti mengatakannya orang gila. Bagaimana orang membakar rokok yang harganya lebih dari itu yang berakibat membahayakan dirinya serta para tetangganya?.

Dari semua hadits maupun ayat Al Qur’an tersebut di atas jelaslah bahwa rokok termasuk di antara semua yang mengandung dampak negatif dan membahayakan pengisapnya juga tetangganya.

Apakah engkau masih termasuk orang yang beragama dan berperasaan?. Apabila rokokmu membuat orang terganggu dan mengotori udara, maka mengotori udara hukumnya haram seperti halnya mengotori air yang dapat membahayakan orang lain.

Andaikata kita bertanya kepada orang yang mengisap rokok, apakah rokokmu itu akan dimasukkan dalam amal baik ataukah amal buruk? Ia pasti menjawab bahwa hal itu termasuk dalam amal yang buruk.

Memohonlah kepada Allah ta'ala agar engkau bisa meninggalkan rokok. Karena barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Dia akan memberikan pertolongan. Dan bersabarlah dalam menjauhinya, karena Allah ta'ala beserta orang-orang yang sabar.

Pilar-Pilar Kemenangan Kaum Muslimin


Pada waktu Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu untuk menaklukkan Persia, ia menulis pesan yang isinya sebagai berikut:

1. Bertakwa kepada Allah subhanahu wata'ala.

Aku perintahkan kepadamu dan semua pasukan yang ikut bersamamu untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wata'ala dalam keadaan bagaimanapun jua. Sebab takwa adalah senjata yang paling ampuh untuk menaklukkan musuh serta siasat perang yang paling hebat.

2. Meninggalkan segala bentuk perbuatan maksiat.

Aku perintahkan pula kepadamu dan orang-orang yang ikut bersamamu, agar menjaga diri dari perbuatan maksiat lebih cermat daripada menjaga serangan musuh. Karena dosa-dosa yang dilakukan oleh tentara itu lebih menakutkan mereka sendiri daripada musuhnya. Andaikata mereka berbuat maksiat pasti orangorang Islam tidak mempunyai kekuatan. Sebab jumlah pasukan, kekuataan serta bekal mereka tidak sebanyak dan sekuat musuh mereka.

Andaikata mereka sama-sama berbuat maksiat pasti musuh Islam lebih kuat. Seandainya kita tidak diberi kekuatan dengan takwa dan meninggalkan maksiat, pasti kita tidak dapat mengalahkan mereka. Ketahuilah bahwasanya sewaktu engkau berangkat ke Persia, maka setiap kamu diawasi oleh malaikat yang mengetahui segala perbuatanmu. Hendaknya engkau merasa malu kepada mereka.

Dan janganlah berbuat maksiat di tengah kaum yang sedang berjuang menegakkan agama Allah subhanahu wata'ala, begitu pula jangan beranggapan bahwa musuh kita lebih buruk daripada kita, karena dengan demikian mereka tidak mungkin mengalahkan kita walaupun kita berbuat buruk. Karena banyak manusia yang dipimpin oleh orang yang lebih buruk daripada mereka, seperti Bani Israil, karena perbuatan maksiat akhirnya mereka dipimpin oleh orang kafir majusi.

3. Memohon pertolongan kepada Allah subhanahu wata'ala.

Memohonlah kepada Allah subhanahu wata'ala untuk meraih kemenangan serta selamat daripada godaan maksiat sebagaimana engkau memohon kemenangan atas musuhmu. Dan mohonlah kepada Allah subhanahu wata'ala baik untuk kami maupun untuk dirimu sendiri.

(Ibnu Katsir, Al Bidayah Wan Nihayah).

Jumat, 09 September 2016

Hadits Arba'in Nawawiyah, Faidah Hadits ke-2


Pokok-pokok Ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan

Dari Umar radhiyallahu `anhu juga dia berkata :
Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk di hadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam) seraya berkata, “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, Maka bersabdalah Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam: “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata, “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda, “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasulrasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudia dia berkata, “ anda benar“. Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda, “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakanakan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata, “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda,“ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya ". Dia berkata,“ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda, “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba, (kemudian)berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah shallahu`alaihi wasallam) bertanya,“ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. Aku berkata,“ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda,“ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “. (HR. Muslim).


Catatan:
• Hadits ini merupakan hadits yang sangat dalam maknanya, karena didalamnya terdapat pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.

• Hadits ini mengandung makna yang sangat agung karena berasal dari dua makhluk Allah yang terpercaya, yaitu: Amiinussamaa’ (kepercayaan makhluk di langit/Jibril) dan Amiinul Ardh (kepercayaan makhluk di bumi/ Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam ).

Kandungan Hadist :
1. Disunnahkan untuk memperhatikan kondisi pakaian, penampilan dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama, orang-orang mulia dan penguasa.

2. Siapa yang menghadiri majlis ilmu dan menangkap bahwa orang–orang yang hadir butuh untuk mengetahui suatu masalah dan tidak ada seorangpun yang bertanya, maka wajib baginya bertanya tentang hal tersebut meskipun dia mengetahuinya agar peserta yang hadir dapat mengambil manfaat darinya.

3. Jika seseorang yang ditanya tentang sesuatu maka tidak ada cela baginya untuk berkata, “Saya tidak tahu“, dan hal tersebut tidak mengurangi kedudukannya.

4. Kemungkinan malaikat tampil dalam wujud manusia.

5. Termasuk tanda hari kiamat adalah banyaknya pembangkangan terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan hamba-sahayanya.

6. Tidak disukainya mendirikan bangunan yang tinggi dan membaguskannya selama tidak dibutuhkan.

7. Di dalamnya terdapat dalil bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala.

8. Di dalamnya terdapat keterangan tentang adab dan cara duduk dalam majlis ilmu.

Masalah ke-15:
Tidak Mau Menerima Kebenaran Dengan Alasan Yang Batil

Alasan mereka tidak mau mengikuti apa yang telah Allah datangkan kepada mereka adalah tidak memahami (terhadap dakwah yang disampaikan). Sebagaiman ucapan mereka di dalam ayat," Dan mereka berkata, 'hati-hati kami tertutup'," (QS.Al-Baqarah : 88).

"Wahai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu." (QS.Hud : 91). Maka Allah mendustakan mereka dan menerangkan bahwa hal itu disebabkan tertutupnya hati-hati mereka. Sedangkan tertutupnya hati-hati mereka disebabkan oleh kekufuran mereka.

Note :

Mereka mengatakan bahwa alasan mereka tidak mau menerima kebenaran adalah karena mereka tidak memahami terhadap da'wah yang disampaikan. Sebagaimana Allah telah menyebutkan tentang Yahudi tatkala Rasulullah menyeru mereka kepada islam, mereka berkata,"Dan mereka berkata,'Hati-hati kami tertutup'. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka, maka sedikit sekali mereka yang beriman." (QS.Albaqarah : 88).

Makna dari kata "Ghulfun" adalah diatasnya ada penutup. Maksudnya, perkataan Rasulullah tidak sampai pada mereka dan hati mereka tidak merasa tentram dengan ucapannya. Mereka menjadikan ini sebagai hujjah untuk mendustakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dan ini makna yang masyhur untuk ayat ini.

Dan makna yang kedua:
"Dan mereka berkata,'Hati-hati kami tertutup'." (QS.Albaqarah : 88). Maksudnya: Bahwasanya hati-hati mereka dipenuhi ilmu, sehingga mereka tidak membutuhkan ucapan seorangpun. Dan mereka menganggap bahwa mereka tidak membutuhkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Dan Allah ta'ala menjelaskan, bahwa penyebabnya bukanlah apa yang mereka katakan itu. Akan tetapi sebabnya bahwasanya Allah telah melaknat mereka akibat kekafiran mereka. Yakni mengusir dan menjauhkan mereka dari rahmat-Nya. Sehingga mereka tidak bisa menerima kebenaran akibat kekafiran mereka.

Oleh sebab itu mereka tidak mampu memahami ucapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Da juga karena Allah ta'ala telah memalingkan mereka sebagai balasan untuk mereka. Sebagaimana firman Allah,"Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka." (QS.Ash-Shaf : 5).

Maka barangsiapa yang tidak mau menerima kebenaran, niscaya Allah akan mengujinya dengan kebatilan. Sehingga setelah itu dia tidak mau menerima kebenaran karena kebatilan itu telah merusak hatinya. Apabila fitrah seseorang telah rusak, maka dia tidak dapat menerima kebenaran. Sebagai contoh adalah tanah. Apabila telah rusak dan menjadi lahan tandus, maka ia tidak akan bisa ditumbuhi karena dia telah rusak. Demikian pula hati manusia. Apabila telah rusak, niscaya ia tidak akan bisa menerima kebenaran. Wal 'iyyadzu billah.