Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Januari 2017

Aneh, Mengaku Muslim Tapi Menghina Ajarannya

wanita bercadar

Dizaman keterasingan islam ini, saya sering mendengar sebagian kaum muslimin yang menghina wanita muslimah yang mengenakan jilbab yang lebar dan bercadar dengan sebutan ninja atau aliran sesat atau yang lain tanpa dasar ilmu. Padahal hal tersebut adalah bagian dari syariat Islam. Berikut ini akan saya bawakan riwayat-riwayatnya sebagai pembelaanku terhadap syariat islam dan saudariku muslimah yang terdzalimi.

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min:"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab : 59).

Al Imam Abu Ja’far Muhammad Ibnu Jarir Ath Thabriy, beliau rahimahullah berkata dalam tafsir ayat ini : Allah  mengatakan kepada Nabi-Nya Muhammad  : Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min:" janganlah kalian/wanita menyerupai budak dalam hal pakaiannya, jika mereka keluar rumah untuk keperluannya, mereka membuka rambut dan mukanya, tapi hendaklah mereka mengulurkan jilbab (jubah)nya keseluruh tubuh mereka agar tidak diganggu orang jahat jika dia tahu bahwa mereka itu wanita merdeka dengan gangguan perkataan “ kemudian ahli tafsir berbeda pendapat tentang cara mengulurkan yang diperintahkan Allah kepada mereka , sebagian mengatakan:

* Para wanita menutup muka dan kepalanya dan tidak menampakkan kecuali satu mata saja. Beliau menyebutkan orang yang mengatakannya : Telah memberitahukan kepada saya Ali, dia berkata Abu Shalih telah meberitahukan kepada kami, dia berkata Muawiyyah telah memberitahukan kepada saya dari Ali2 dari Ibnu Abbas ,firman-Nya,”Allah memerintahkan wanita wanita mukminat bila keluar dari rumah untuk suatu kebutuhan agar menutup wajah mereka dengan jilbab yang diulurkan dari atas kepalanya dan hanya menampakan satu mata mereka saja. ( Sanadnya hasan sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh Abdul Qadir Habibullah As Sindiy, lihat Raf’ul Junnah Amama Jilbabil Mar’ah Al Muslimah Fil Kitab Was Sunnah Hal :138, Atsar ini mempunyai syahid yang kuat dengan sanad yang shahih dari Ubaidah As Salmaniy).

* Ya’qub telah memberi tahu saya, dia berkata Ibnu ‘Ulayyah telah memberi kabar kami dari Ibnu Aun dari Muhammad dari Ubaidah dalam firman-Nya,”Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min:"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka" maka Ibnu Aun mengenakannya di depan kami, dia berkata : Dan Muhammad mengenakannya di depan kami, Muhammad berkata : Ubaidah mengenakannya di depan kami, Ibnu berkata : Dengan kain rida’nya, terus beliau menutupi kepalanya dengan kain itu, terus menutupi hidungnya dan mata yang kiri dan mengeluarkan mata kanannya, dan mengulurkan rida’nya dari atas sampai menjadikannya dekat dengan alisnya atau pada alisnya.

* Ya’qub telah memberi kabarku, berkata : Husyaim telah mengkabarkan kami, berkata : Hisyam telah mengkabarkan kami, dari Ibnu Sirin, berkata : saya bertanya kepada Ubaidah tentang firman-Nya,” Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min:"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka" berkata : Maka beliau memperaktekan dengan kainnya, beliau tutup kepala dan wajahnya dan hanya menampakan salah satu mata. (Sanadnya shahih lihat Raf’ul Junnah :139).

* Al Imam Al Faqih ‘Imaduddin Ibnu Muhammad Ath Thabari yang terkenal dengan julukan Ilkiya Al Harras (Wafat 504 H) rahimahullah berkata dalam tafsirnya : Firman-Nya Ta’ala,” Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anakanak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min:"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka".  Jilbab adalah rida’(jubah), maka Dia memerintahkan mereka (wanita) supaya menutupi wajah dan kepala mereka, dan tidak mewajibkannya terhadap budak. (Tafsir Ilkiya Al Harras Ath Thabari 4/354).

Sebenarnya masih banyak riwayat-riwayat lain, namun saya rasa ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa wanita yang memakai kerudung yang lebar dan bercadar bukanlah aliran sesat sebagaimana tuduhan orang-orang.


Kamis, 27 Oktober 2016

Perbedaan Kita Dengan Para Generasi Terbaik Umat Ini


Dari fenomena yang tampak pada saat ini, kita menyaksikan khutbah-khutbah, nasehat-nasehat, pelajaran-pelajaran banyak sekali, melebihi pada zaman para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, tabi'in serta tabi'ut tabi'in. Namun bersamaan itu pula, amal perbuatan sedikit. Sering kali kita mendengarkan perintah Allah dan Rasul-Nya namun, sering juga kita tidak melihat ketaatan, dan sering kali kita mengetahuinya, namun seringkali juga kita tidak mengamalkan.

Inilah perbedaan antara kita dan sahabat-sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tabi'in dan tabi'ut tabi'in yang mereka itu hidup pada masa yang mulia. Sungguh pada masa mereka nasehat-nasehat, khutbah-khutbah dan pelajaran-pelajaran sedikit, hingga berkata salah seorang sahabat. "Artinya : Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala memberikan nasehat mencari keadaan dimana kita giat, lantaran khawatir kita bosan" [Muttafaqun 'Alaihi].

Di zaman para sahabat dahulu sedikit perkataan tetapi banyak perbuatan, mereka mengetahui bahwa apa yang mereka dengar dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam wajib diamalkan, sebagaimana keadaan tentara yang wajib melaksanakan komando atasannya di medan pertempuran, dan kalau tidak dilaksanakan kekalahan serta kehinaanlah yang akan dialami.

Allah subhanahu wata'ala berfirman yang artinya,"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu'min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu'min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata" [QS. Al-Ahzab : 36].

Para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu, menerima wahyu Allah 'Azza wa Jalla dengan perantaraan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan sikap mendengar, taat serta cepat mengamalkan. Tidaklah mereka terlambat sedikitpun dalam mengamalkan perintah dan larangan yang mereka dengar, dan juga tidak terlambat mengamalkan ilmu yang mereka pelajari dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Demikianlah , sikap para sahabat Nabi dahulu tatkala menerima wahyu dari Allah 'Azza wa Jalla, adapun kita (berbeda sekali), tiap pagi dan petang telinga kita mendengarkan perintah-peritah serta larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya, akan tetapi seolah-olah kita tidak mendengarkannya sedikitpun.

Minggu, 02 Oktober 2016

Banyak Dosa Tapi Sukses Dunianya. Waspadalah Itu Jebakan

istidraj

Tidak sedikit orang yang semakin banyak bermaksiat, semakin kaya. Semakin besar kedzhalimannya, semakin makmur di dunia. Semakin besar kekafirannya, semakin tinggi jabatannya, dan seterusnya.

Mereka adalah orang-orang yang ‘sukses’. Sukses dalam pandangan orang awam. ‘Sukses’ semacam itu hanyalah semu. Ia seakan-akan sukses, padahal menabung penderitaan yang berlipat dan berkepanjangan.

Baca juga : Masalah Jahiliyah ke-6: Berhujjah Dengan Apa Yang Ada Pada Nenek Moyang Mereka Tanpa Peduli Dengan Sandarannya

Semakin seorang jauh dari Allah, semakin ia makmur di dunia. Itu disebut sebagai istidraj. Allah mengulur untuknya. Allah beri limpahan nikmat yang terus berlipat seiring dengan kedurhakaannya, agar semakin bertumpuk dosanya, dan semakin besar adzabnya di sisi Allah. Ketika ia semakin berkubang dengan kemaksiatannya, semakin lalailah ia, dan secara tiba-tiba Allah mengadzabnya.

Rasul shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika engkau melihat Allah memberi bagian dari (kenikmatan) dunia kepada seseorang atas kemaksiatannya yang ia senangi, ketahuilah sesungguhnya itu adalah istidraj. Kemudian Rasul membaca firman Allah (yang artinya):

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Kami siksa mereka secara tiba-tiba, sehingga ketika itu mereka terdiam berputus asa (QS. al-An’aam : 46) (HR. Ahmad).

Jadi janganlah kita merasa iri ketika kita sudah berusaha semaksimal mungkin menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya tapi hidup kita masih saja miskin. Sedangkan mereka yang bergelimang dengan kemaksiatan malah justru diberi nikmat dunia yang lebih dari kita. Ketahuilah jika seandainya dunia ini punya nilai disisi Allah niscaya orang-orang kafir tidak akan diberi bagian. Namun karena dunia itu tidak ada nilainya disisi Allah maka orang-orang kafir pun diberi kenikmatan dunia ini. 

Sabtu, 01 Oktober 2016

Kisah Nyata, Inilah Akibatnya Jika Anda Mendahului Gerakan Imam

shalat

Kadang ketika shalat, saya melihat orang yang mendahului gerakan imam, baik itu saat ruku', i'tidal, sujud, maupun ketika bangkit dari sujud. Melihat hal ini, saya jadi teringat akan sebuah kisah nyata tentang seorang Syaikh yang meremehkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang ancaman bagi orang yang mendahului gerakan imam dalam shalatnya.

Dikisahkan bahwa dahulu ada seorang Syaikh ahli hadits yang mengajarkan hadits-hadits di daerah Dimasyq. Dan Syaikh tersebut memiliki murid yang cukup banyak. Setiap kali Syaikh tersebut menyampaikan ilmu maka Syaikh membuat tabir atau penutup wajah antara dirinya dengan para murid sehingga selama mereka belajar di sana tidak pernah sekali pun mereka melihat wajah gurunya. Rasa penasaran para murid pun semakin menjadi, hingga salah seorang diantara mereka yang merupakan murid yang paling semangat dalam menuntut ilmu dan paling cerdas membuntuti Syaikh hingga sampai dirumahnya.

Baca juga : Kenikmatan Yang Akan Diperoleh Para Penghuni Surga Bag 1

Akhirnya, Syaikh pun mengetahui hal tersebut dan kemudian Syaikh bertanya kepada muridnya itu tentang maksud dan tujuannya melakukan hal tersebut.“Ya, Syaikh! Engkau adalah guru kami dan kami sangat menghormatimu. Kami telah belajar kepadamu beberapa lama akan tetapi kami tidak pernah sekali pun melihat wajahmu, engkau selalu menutupnya dari kami. Oleh karena itu, kami penasaran akan hal itu maka ijinkanlah kami untuk melihat wajahmu agar kami dapat mengenalimu jika bertemu dijalan sehingga kami dapat melakukan penghormatan kepadamu selayaknya penghormatan seorang murid kepada gurunya!”, Ucap Sang Murid berusaha menerangkan kepada Syaikh.

“Wahai, anakku! Sungguh, aku menutup wajahku dari kalian karena buruknya rupaku, tak pantas aku memperlihatkannya kepada kalian sedangkan kalian waktu itu dalam jumlah yang banyak. Namun, sekarang aku akan membuka tabir antara aku denganmu!”, jawab Syaikh sambil membuka penutup wajahnya. Ketika tabir itu tersingkap, betapa terkejutnya Sang Murid melihat wajah gurunya. Ia tak percaya dengan apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri, ia tertegun beberapa lama karenanya. Dari rona wajahnya tersirat rasa kaget, penasaran, dan juga pilu. Ia tak percaya, ia melihat wajah gurunya serupa dengan wajah seekor keledai, ya...seekor keledai. Melihat gelagat Sang Murid, Syaikh kemudian menjelaskan perihal mengapa hal itu bisa menimpa dirinya,

“Wahai, anakku! Aku dahulu adalah seorang yang meremehkan dan menghinakan sebuah hadits shohih, yaitu hadits yang berbunyi :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ أَوْ أَلَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ

رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ

Artinya : Bersabda Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam : “Tidakkah salah seorang dari kamu takut atau hendaklah salah seorang dari kamu takut apabila mengangkat kepalanya mendahului imam bahwa Alloh akan mengubah kepalanya seperti kepala keledai (Himar) atau mengubah rupanya menjadi rupa keledai (Himar).” [HR. Bukhori (No.650) & Muslim (No.647)]

Hadits ini telah aku campakkan dengan mengatakan, “Hadits ini bohong! Tidak mungkin hanya karena mendahului imam maka kepalanya atau wajahnya akan diubah seperti kepala atau wajah keledai. Aku tidak percaya dengan hadits ini, Aku akan buktikan bahwa hadits ini bohong!”. Setelah berkata seperti itu, aku pun langsung mengamalkan apa yang aku ucapkan tersebut, aku sholat dibelakang imam dengan cara mendahului hampir seluruh gerakkannya. Seusai sholat, aku pun pulang ke rumah dan aku mendapati keluargaku berteriak histeris ketakutan melihatku, seolah-olah mereka telah melihat hal yang menyeramkan pada diriku. Saat itulah, aku tersadar bahwa wajahku telah berubah wujud menjadi wajah seekor keledai dan mulai saat itu pulalah aku bertobat dari perkataan dan perbuatanku tersebut. Oleh karena itu, hati-hatilah wahai anakku! Jangan sampai engkau mendahului imam...”

Sumber Kisah : Al Qoulul Mufid fi Adillatit Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushobiy menukil dari Al-Qoulul Mubin fi Akhthoo’il Mushollin, hal 252.

Jauhilah Empat Perkara Yang Membinasakan Bag 4

maksiat

4. KEBURUKAN YANG DOSANYA TERUS BERJALAN

Sesungguhnya ada keburukan-keburukan yang dosanya terus berjalan memakan kebaikan-kebaikan seseorang walaupun pelakunya telah meninggal dunia. Di antara keburukan-keburukan yang dosanya terus berjalan adalah menyesatkan kaum Muslimin dan merusak mereka, seperti fatwa dengan tanpa ilmu, menjauhkan seorang Muslim dari dari ketaatan, menyebarkan kaset-kaset yang membolehkan hal-hal yang haram atau video-video porno kepada orang lain, membeli parabola atau membuat jaringan internet untuk melihat video porno, dan lainnya.

Baca juga : Masalah Jahiliyah ke-15: Tidak Mau Menerima Kebenaran Dengan Alasan Yang Batil

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: "Barangsiapa membuat perbuatan yang buruk di dalam agama Islam (seperti kemaksiatan, bid'ah, dan lainnya, kemudian diikuti oleh orang-orang lain-pen), dia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun." (HR. Muslim, no. 2674, dari Jarir bin Abdullah).

Baca juga : Masalah Jahiliyah ke-8: Mereka Berdalil Bahwa Apa Yang Diamalkan Kaum Dhu'afa Bukan Suatu Kebenaran

Akhirnya, kita memohon kepada Allah agar menjadikan amalan kita ikhlas untuk mencari wajah Allah Azza wa Jalla dan agar memberikan manfaat kepada semua orang Islam, dan semoga Allah Azza wa Jalla menganugerahkan kepada kita semua kematian yang baik setelah panjangnya umur dan bagusnya amal. Wahai Allah jadikanlah akhir umur kami di dalam amalan ketaatan, Aamin.

Jauhilah Empat Perkara Yang Membinasakan Bag 3

dzalim

3. MENGGANGGU HAK ORANG LAIN

Mengganggu hak orang lain dan menyakiti mereka dengan perbuatan ghibah, celaan, makian, namimah, atau mengambil hak mereka dengan cara yang tidak dibenarkan agama, semua perbuatan itu akan menyebabkan kebaikan-kebaikan seseorang pada hari kiamat akan hilang. Kebaikan-kebaikan itu akan diberikan kepada orang-orang yang dia ganggu atau dia langar hak-hak mereka.

Baca juga : Masalah Jahiliyah ke-13: Bersikap Ghuluw Terhadap Ulama Dan Orang Shaleh

Sehingga dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut dari kebaikan-kebaikan, padahal sebelumnva dia sudah memiliki pahala yang begitu banyak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keadaan orang yang bangkrut pada hari kiamat di dalam haditsnya berikut ini:

Baca juga : Masalah Jahiliyah Ke-14: Menafikan Kebenaran Dan Menetapkan Kebatilan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Tahukah kamu siapakah orang bangkrut itu?" Para Sahabat menjawab, "Orang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang." Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya orang bangkrut di kalangan umatku yaitu orang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Tetapi dia mencaci orang ini, menuduh orang ini, makan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Maka orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya, dan orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum diselesaikan kewajibannya, kesalahan-kesalahan mereka diambil lalu ditimpakan padanya, kemudian dia dilemparkan di dalam neraka." (HR. Muslim, no. 2581).

Jauhilah Empat Perkara Yang Membinasakan Bag 2

amal shaleh

2. 'UJUB DAN TERPEDAYA DENGAN AMAL-AMAL SHALIH

'Ujub (membangakan diri) dan terpedaya dengan amalan-amalan shahih akan membatalkan pahalanya. Pelakunya menyangka dia akan masuk surga hanya dengan amalnya saja. Seorang Muslim harus tahu bahwa dia mampu melaksanakan amalan-amalan shalih itu karena karunia dan taufiq Allah.

Baca juga : Masalah Jahiliyah ke-10: Menuduh Orang Yang Berpegang Pada Agama Dengan Kedangkalan Pemahaman

Jangan sampai dia terpedaya dengan banyak amalannya, karena dia tidak tahu, apakah amalannya akan diterima oleh Allah atau tidak? Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla hanya menerima amalan shalih dari orang-orang yang bertakwa sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa (QS. Al-Maidah : 27).

Baca : Masalah Jahiliyah ke 11 Dan 12: Mereka Bersandar Pada Qiyas Yang Batil Dan Mengingkari Qiyas Yang Shahih

Juga seorang Muslim harus tahu bahwa semua amalanamalan shalihnya tidak sebanding dengan satu nikmat dari nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan kepadanya, seperti nikmat penglihatan.

Belum lagi, jika seseorang jujur melihat kenyataan, dia akan dapati banyak sekali para hamba Allah Azza wa Jalla yang lebih banyak amalannya dan pahalanya daripada dia. Lalu kenapa dia harus membanggakan amalannya?

Jumat, 30 September 2016

Jauhilah Empat Perkara Yang Membinasakan Bag 1

dosa

Sesungguhnya banyak sekali amal-amal shalih yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia yang memiliki pahala berlipat ganda. Akan tetapi selain itu, seorang hamba harus menjauhi segala perkara yang akan merusak amalannya. Jika tidak, maka amalannya akan sia-sia, dan dia tidak akan mendapatkan manfaatnya. Di antara perusak amal yang harus di jauhi adalah empat perkara berikut ini:

1. DOSA DAN KEMAKSIATAN

Dosa dan kemaksiatan, dua perkara yang paling banyak menggugurkan kebaikann dan memberatkan timbangan keburukan. Melakukan satu perbuatan dosa, seperti zina, atau melanggar larangan Allah Azza wa Jalla ketika sendirian, sudah cukup untuk menggugurkan kebaikankebaikan walaupun sebesar gunung. Di dalam sebuah hadits disebutkan:

Baca juga : Orang Yang Akan Bergembira Dengan Syafa'at Rasulullah

Dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Beliau bersabda, "Aku benar-benar mengetahui rombongan-rombongan orang dari umatku, mereka akan datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikankebaikan sebesar gunung Tihamah yang berwarna putih, akan tetapi Allah Azza wa Jalla akan menjadikannya sebagai debu yang berhamburan".

Tsauban radhiyallahu ‘anhu berkata, "Wahai Rasulullah! Terangkan sifat mereka kepada kami! Terangkan keadaan mereka kepada kami, agar kami tidak termasuk golongan mereka padahal kami tidak mengetahui!" Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

"Sesungguhnya mereka itu adalah saudara-saudara kamu, dan dari kulit kamu, mereka mengisi sebagian malam sebagaimana kamu mengisi, namun mereka adalah rombongan-rombongan orang yang jika menyendiri, mereka melanggar perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah". (HR. Ibnu Majah, no. 4245; dishahihkan oleh syaikh al-Albani; syaikh Salim al-Hilali dan lainnya).

Oleh karena itu kewajiban kita untuk bertakwa kepada Allah dimana saja berada, baik ketika sendirian atau ketika bersama banyak orang. Begitulah yang diwasiatkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam haditsnya:

Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, "Bertaqwalah kepada Allah dimana saja engkau berada; Iringilah keburukan dengan perbuatan baik! Niscaya kebaikan itu akan menghapusnya; Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlaq yang baik". (1)

Bersambung...

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

1. HR. Ahmad, 5/153, 158, 177, 236; At-Tirmidzi, no. 1987; Ad-Darimi, 2/323; Al-Hakim, 1/54; At-Thabrani dalam Mu'jamul Kabir, 20/145, Mu'jamul Ausath, 4/125, Mu'jamus Shaghir, no. 350. Dimuat oleh Imam Nawawi dalam Arba'in, no. 18. Hadits dinilai sebagai hadits yang hasan oleh oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami', no. 97

Hakikat Zuhud Terhadap Dunia

zuhud

“Zuhudlah engkau di dunia maka Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah engkau terhadap apa yang dimiliki manusia niscaya mereka mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah dan Albani menshahihkannya).

Zuhud terhadap dunia adalah sebagaimana yang diamalkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan sahabat-sahabat beliau. Zuhud bukanlah mengharamkan hal-hal yang baik dan mengabaikan harta, tidak pula zuhud itu berpakaian dengan pakaian yang kumal penuh tambalan. Zuhud bukanlah duduk bersantai-santai di rumah dan menunggu sedekah, karena sesungguhnya amal, usaha dan mencari nafkah yang halal adalah ibadah yang akan mendekatkan seorang hamba kepada Allah, dengan syarat menjadikan dunia hanya pada kedua tangannya tidak menjadikannya di dalam hatinya.

Baca juga : Masalah Jahiliyah ke-9 : Mereka Meneladani Dan Mengikuti Ulama Fasik Dan Ahli Ibadah Yang Bodoh

Jika dunia itu terletak di tangan hamba bukan di hatinya, sama menurut pandangannya baik ketika ia sejahtera maupun sengsara. Tidaklah ia bersuka cita dengan kesejahteraannya dan tidaklah pula ia berduka cita dengan kesengsaraannya. Berkata Ibnul Qayyim dalam mensifati hakikat zuhud :

"Tidaklah yang dimaksud dengan zuhud adalah menolak dunia, seperti kekuasaan, adalah Sulaiman dan Dawud ‘alaihima salam adalah termasuk orang terzuhud pada masanya, namun mereka memiliki harta, kerajaan dan para istri."

Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah manusia yang paling zuhud secara mutlak dan beliau memiliki sembilan istri.

Ali bin ‘Abi Tholib, Abdurahman bin ‘Auf, Zubair bin Awwam dan 'Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘anhum, walaupun termasuk orang-orang yang zuhud namun mereka adalah orang-orang yang berharta.

Adalah termasuk kebaikan apa yang dikatakan tentang zuhud, perkataan yang baik atau selainnya, yaitu tidaklah termasuk zuhud terhadap dunia dengan mengharamkan yang halal dan mengabaikan harta. Namun, zuhud adalah menjadikan apa-apa yang di tangan Allah lebih kau yakini daripada apa-apa yang ada pada tanganmu.

Datang seorang lelaki kepada Al-Hasan dan berkata : Aku punya tetangga yang tidak mau makan ‘Faludzaj’ (semacam pudding atau agar-agar, pent.). Berkata Hasan : Mengapa tidak mau? Orang itu menjawab : tetanggaku berkata, aku tak mampu memenuhi terima kasihnya. Berkata Hasan: Sesungguhnya tetanggamu itu jahil, apakah ia membalas terima kasihnya air yang dingin?!

Kesempurnaan Syari'at Islam Ditinjau Dari Sisi Akhlaqnya


islam

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah mengabarkan bahwa di antara salah satu tujuan dari diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.” (1)

Dan semua ajaran-ajaran generasi dahulu yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala syari'atkan bagi hamba-hamba-Nya, semuanya juga menganjurkan untuk berperilaku dengan akhlaq yang utama. Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa akhlaq yang mulia merupakan sebuah tuntunan yang telah disepakati bersama oleh semua syari'at. Akan tetapi, syari'at yang sudah sempurna ini telah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bawa lagi dengan berbagai kesempurnaan akhlaq yang mulia dan sifat-sifat yang terpuji.

Kita akan berikan contohnya adalah masalah Qishash. Para ulama telah menjelaskan tentang masalah qishash ini, yakni seandainya seseorang melakukan tindakan kriminal terhadap orang lain, apakah harus ditegakkan hukum qishash pada si pelaku ataukah tidak?. Mereka menyebutkan bahwa hukum qishash dalam syari'at ajaran Yahudi wajib dan harus dilaksanakan, tidak ada pilihan bagi keluarga si korban dalam masalah tersebut.

Adapun hukum qishash dalam ajaran Nasrani kebalikan dari ajaran Yahudi, yakni kewajiban memaafkan si pelaku. Akan tetapi, syari'at kita telah datang secara sempurna dari kedua sisi tersebut, boleh ditegakkan hukum dengan cara di-qishash, boleh juga dengan cara memaafkan si pelaku. Karena dengan melaksanaan hukum qishash terhadap si pelaku yang disebabkan oleh tindakan kriminalnya akan dapat menahan atau mencegah tindak kejahatan yang lainnya. Sedangkan memaafkannya merupakan tindakan baik dan bagus, serta memberikan perbuatan yang ma'ruf terhadap orang yang dimaafkan.

Maka, Alhamdulillah telah datang syari'at kita ini dalam keadaan yang sempurna, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan dua pilihan kepada orang yang mempunyai hak, yaitu antara memberi maaf jika kondisinya memungkinkan demikian atau mengambil haknya jika kondisinya lebih mendukung untuk dilaksanakannya hal tersebut. Dan hal ini  (tidak diragukan lagi) tentu lebih baik dari syari'at Yahudi yang telah menghilangkan hak keluarga korban untuk memberi maaf pada si pelaku, yang mungkin saja terdapat kemashlahatan di dalamnya. Dan juga, tentu lebih baik dari syari'at Nasrani yang telah menghilangkan hak keluarga korban juga, yang mana wajib atas mereka untuk memberi maaf, padahal mungkin saja ada kemashlahatan dari balasan dan pelaksanaan hukuman qishash tersebut.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

(1) Dikeluarkan oleh Imam Ahmad di kitab Al-Musnad (2 / 381), dan Hakim di kitab AlMustadrok (2 / 613) dan di-shahih-kan olehnya sesuai dengan persyaratan Imam Muslim serta disepakati oleh Imam Dzahabi. Dan dikeluarkan juga oleh Imam Bukhari di kitab alAdabul Mufrad, No (273), Baihaqi (10 / 192), Ibnu Abi Dunya dalam kitab Makaarimul Akhlaaq, No (13). Berkata Imam Al-Haitsami dalam kitab Majma'uz Zawaa-id (9 / 15): Diriwayatkan oleh Ahmad, dan para perawinya adalah perawi Shahih. Dan dishahihkan juga oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab Ash-Silsilatush Shahiihah, No (45).

Kamis, 29 September 2016

Inilah Golongan Dalam Islam Yang Paling Selamat

ahlus sunnah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang tegak dengan perintah Allah, tidak membahayakan mereka orang-orang yang menghinakan dan menyelisihi mereka sampai datangnya keputusan Allah (hari kiamat), sedangkan mereka selalu nampak dihadapan manusia”. (Muttafaqun alaih, HR. Bukhori: 3116, dan Muslim: 1924 dengan lafadznya dari hadits Muawiyah dan yang lainnya).

Telah ditafsirkan makna Ath Thoifah Al-Manshuroh dan Al-Firqoh An-Najiyah dengan Ahlul Hadits. Ibnu Mubarok Rahimahullahu berkata: “Mereka menurutku adalah Ahlul Hadits.” (lihat Syarofu Ashabil Hadits hal-26).

Ibnul Madini dan Bukhori Rahimahullahu berkata: “Mereka adalah Ahlul Hadits.” (lihat Syarofu Ahlul Hadits hal-27).

Yazid bin Harun dan Ahmad bin Hambal Rahimahullahu berkata: “Kalau mereka bukan Ahlul Hadits, maka aku tidak mengetahui siapakah mereka”. (lihat Syarofu Ashabil Hadits hal-26,27,49).

Ahmad bin Sinan Rahimahullahu berkata: “Mereka adalah para Ulama’ dan Ahlul Atsar (Ahlul Hadits). (lihat Syarofu Ashabil Hadits hal-27).

Baca juga : Fitnah Yang Beratnya Hampir Sama Dengan Dajjal

Al-Khotib al-Baghdadi Rahimahullahu berkata: “Allah telah  menjadikan Ahlul Hadits sebagai pondasi syari’at dan melenyapkan dengan mereka setiap bid’ah yang sesat. Mereka adalah kepercayaan Allah dari makhluk-Nya, dan perantara antara Nabi n dan umatnya, serta orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam menjaga ajarannya. Cahaya mereka berkilauan, keutamaan-keutamaan mereka cemerlang, tanda-tanda mereka bersinar terang, madzhab mereka nampak, hujjah-hujjah mereka sangat kuat. Seluruh golongan mengedepankan hawa nafsu atau menganggap baik sebuah pendapat dalam mengembalikan suatu permasalahan, kecuali Ahlul Hadits; kitabullah senjata mereka, sunnah Rasulullah hujjah mereka, Rasul n golongan mereka, kepadanya mereka menisbatkan diri, mereka tidak condong kepada hawa nafsu dan tidak berpaling dengan pendapat. Hadits-hadits yang mereka riwayatkan dari Rasul diterima, karena mereka adalah orang-orang kepercayaan dan orangorang yang adil, mereka penjaga dan pembela agama, mereka orangorang yang memperhatikan ilmu dan pembawanya. Apabila ada hadits yang diperselisihkan, kepada merekalah tempat kembali, kalau mereka menghukumi maka keputusan mereka didengar dan diterima. Dari mereka semua (muncul) Ulama’ dan Fuqoha’, para imam yang mulia dan terhormat, orang yang zuhud dari setiap upah, dan mereka memiliki keutamaan yang mulia, serta pembaca AlQur’an yang mahir dan khotib yang fasih, mereka adalah golongan yang mulia dan jalan mereka adalah jalan yang lurus. Seluruh ahlu bid’ah memerangi aqidah mereka, namun terhadap madzhab selain madzhab Ahlul Hadits tidak memusuhinya. Maka siapa yang memusuhi mereka (yaitu Ahlul Hadits) niscaya Allah akan menghancurkannya, dan siapa yang menentang mereka niscaya Allah akan membinasakannya. Tidak membahayakan mereka orangorang yang menghinakannya dan tidak akan beruntung orang yang meninggalkannya. Orang-orang yang berhati-hati terhadap agamanya sangat membutuhkan nasehat mereka, dan orang-orang yang memandang mereka dengan kebencian pasti akan menyesal, sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka.” (lihat Syarofu ashabil Hadits hal 8-9).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu berkata: “Madzhab Ahlul Hadits, mereka adalah salaf (orang-orang yang terdahulu) dari tiga generasi (pertama) dan siapa yang meniti jalan mereka.” (lihat Majmu’ Fatawa: 6/355).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu berkata: “Manusia yang lebih berhak menjadi golongan yang selamat adalah Ahlul Hadits dan Sunnah. Mereka tidak memiliki panutan yang diikuti kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka manusia yang paling mengetahui perkataannya dan perbuatan Nabi n. Mereka manusia yang paling membedakan antara hadits yang shohih dan yang lemah. Para imam hadits adalah ulama’ yang faqih, mereka adalah manusia yang paling memahami makna hadits dan mengikutinya dengan keyakinan, perbuatan, kecintaan dan loyalitas kepada siapa yang loyalitas terhadap sunnah. Mereka memusuhi siapa yang memusuhi sunnah, yaitu orang-orang yang menolak nash-nash yang bersifat global yang datang dari Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka bukanlah orang yang mengambil perkataan, lalu menjadikannya sebagai dasar agama dan keyakinan mereka, walaupun tidak sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Rasul, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang menjadikan seluruh apa yang dibawa Rasul n dari Al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar yang mereka yakini dan jadikan sandaran.” (lihat Majmu’ Fatawa: 3/347).

Jalan Yang Lurus Dan Benar Bersama Ahlul Hadits dan Atsar

hadits

Imam Ahmad Rahimahullahu berkata: “Ahlul Hadits adalah sebaikbaik manusia yang berkata tentang ilmu.” (Atsar Shohih diriwayatkan Khotib Baghdadi Rahimahullahu di Syarofu Ashabil Hadits: 95).

Al-Auza’i Rahimahullahu juga berkata dengan yang semisalnya. (lihat Syarofu Ashabil Hadits: 97).

Ibnul Mubarok Rahimahullahu berkata: “Manusia yang paling teguh diatas jalan yang lurus adalah Ahlul Hadits.” (lihat Syarofu Ashabil Hadits: 117).

Imam Syafi’i Rahimahullahu berkata:  “Siapa yang menulis Hadits akan kuat hujahnya.” (lihat Syarofu Ashabil Hadits: 148).

Kholifah Harun Ar-Rosyid Rahimahullahu berkata: “Aku mencari kebenaran, lalu aku mendapatinya bersama Ahlul Hadits.” (lihat Syarofu Ashabil Hadits: 110).

Baca juga : 7 Orang Yang Tidak Bisa Mencium Bau Surga

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu berkata: “Manusia yang paling luas ilmunya (ilmu syar'i) dan paling dekat dengan Rasul, paling mengetahui perkataannya dan perbuatannya, gerak-geriknya dan diamnya, masuk dan keluarnya (dari rumah), lahir dan batinnya, paling mengenal sahabatnya, sejarahnya dan hari-harinya, paling besar perannya dalam mengumpulkan hadits dan meriwayatkannya, paling teguh dalam mentaatinya dan mengikutinya, dan menjadikannya sebagai suri tauladan, mereka adalah Ahlu Sunnah dan Hadits. Mereka menghafal sunnahnya dan mengetahui antara hadits yang shohih dan yang lemah dengan ilmu dan pemahaman yang Allah berikan kepada mereka dalam memahami maknanya, dengan keimanan, pembenaran, ketaatan dan ketundukan. Meraka mengikutinya dan mengambilnya sebagai suri tauladan. Mereka juga memiliki akal yang sangat kuat, memahami qiyas, mampu membedakan (antara hadits shohih dan lemah). Maka tidakkah orang-orang yang rendah agama dan akalnya mengetahui bahwasanya mereka adalah manusia yang berhak disifati dengan kejujuran, ilmu dan iman, yang berhak meneliti siapa yang menyelisihi mereka. Mereka mempunyai ilmu yang tidak diakui oleh orang-orang jahil dan ahli bid’ah, padahal apa yang ada di sisi mereka adalah kebenaran yang nyata. Adapun orang-orang yang jahil tentang urusan (petunjuk) mereka dan orang-orang yang menyelisihi mereka adalah orang-orang yang hina dan penuh dengan kesesatan.” (lihat Majmu’ Fatawa: 4/85, 4/49, 6/354).

Ibnu Qutaibah Rahimahullahu berkata: "Adapun Ahlul Hadits, mereka mencari kebenaran dari tempatnya dan mengambilnya dari sumbernya, mereka mendekatkan diri (beribadah) kepada Allah dengan mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan mengumpulkan atsar-atsarnya (jejaknya) dan kabarkabarnya (hadits-haditsnya) dari timur dan barat. Kemudian mereka senantiasa mencari kabar-kabar dan menelitinya sampai mereka mengetahui mana yang shohih dan yang lemah, yang nasikh (menghapus) dan mansukh (yang dihapus). Mereka juga mengetahui siapa yang menyelisihi dari (sebagian) ulama’ yang condong kepada pendapat, maka merekapun memperingatkan akan hal itu sehingga kebenaran nampak setelah ia tersembunyi sebelumnya, dan ia pun tinggi menjulang setelah sebelumnya hilang, dan ia berkumpul setelah sebelumnya bercerai-berai. Mereka menuntun  manusia kepada Sunnah setelah mereka melupakannya, sehingga manusia mengambil hukum dari Hadits Rasulillah setelah mereka berhukum dengan perkataan Si A dan Si B walaupun perkataan tersebut menyelisihi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.” (lihat Ta’wilu Mukhtalifil Hadits hal 73-74).

Abul Qosim Al-Ashbahani Rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya jalan yang lurus bersama Ahlul Hadits, dan kebenaran adalah apa yang mereka riwayatkan dan yang mereka nukil.” (lihat al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah karya Abul Qoshim Al Ashbahani: 2/223, dengan sedikit ringkasan).

Abul Qosim Al-Ashbahani Rahimahullahu juga berkata: “Kebenaran yang di dakwahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah suatu yang kita yakini dan kita jadikan manhaj, akan tetapi Allah tidak menghendaki kebenaran dan aqidah yang murni melainkan bersama Ahlul Hadits dan Atsar, karena mereka mengambil agama dan akidah mereka dari kholaf (ulama’ yang datang setelah salaf) ke salaf (ulama’ yang terdahulu), dari generasi ke generasi, sampai kepada Tabi’in, dan Tabi’in mengambil agama dari Sahabat Nabi, para Sahabat mengambil agama dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Maka tidak ada jalan untuk mengetahui apa yang didakwahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada manusia dari agama yang murni dan jalan lurus kecuali dengan jalan yang dilalui oleh Ahlul Hadits. Adapun seluruh golongan-golongan (sesat) mereka mencari agama dari jalan yang salah.” (lihat al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah karya Abul Qoshim Al-Ashbahani: 2/223, dengan sedikit ringkasan).

Rabu, 28 September 2016

CIRI-CIRI AHLUS SUNNAH

sunah

Salah satu ciri ahlus sunnah adalah kecintaan mereka terhadap para imam sunnah dan ulamanya, para penolong dan para walinya. Dan mereka membenci tokoh-tokoh ahli bid'ah yang mereka itu mengajak kepada jalan menuju neraka dan menggiring pengikutnya menuju kehancuran. Allah telah menghiasi dan menyinari ahlus sunnah dengan kecintaan mereka kepada ulama-ulama ahlus sunnah, sebagai karunia dan keutamaan dari Allah ta'ala.

Ahlus sunnah juga sepakat untuk merendahkan ahli bid'ah, menghinakan mereka, menjauhi dan memboikot mereka serta menghindari untuk bersahabat dengan mereka. Janganlah kamu tertipu oleh banyaknya ahli bid'ah, karena banyaknya jumlah ahli bid'ah dan sedikitnya ahlus sunnah merupakan tanda dekatnya hari kiamat, sebagaimana sabda Nabi:

"Sesungguhnya termasuk diantara tanda-tanda dekatnya hari kiamat yaitu sedikitnya ilmu dan menyebarluasnya kebodohan (dalam agama)".(47)

Ilmu itu sendiri merupakan sunnah dan kebodohan itu sendiri merupakan bid'ah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Iman itu akan mendekam di Madinah seperti ular yang mendekam dalam lubangnya."(48)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah datang hari kiamat, sampai tidak terdengar lagi di muka bumi ini orang yang menyebut nama Allah, Allah,Allah.” Dalam riwayat lain disebutkan ”lailaha illallah.”(49)

Baca juga : 12 Alasan Mengapa Rokok Itu Diharamkan

Siapa yang pada hari ini berpegang teguh dengan sunnah Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, melaksanakannya, istiqamah diatasnya serta mendakwahkannya, ia akan mendapatkan pahala yang lebih banyak dibandingkan dengan yang mengamalkan diawal munculnya Islam, sebagaimana sabda Nabi:

"Sesungguhnya dibelakang hari nanti akan datang hari-hari yang penuh kesabaran. Orang yang berpegang teguh dengan apa yang kalian pegang teguh akan mendapat 50 kali pahala yang kalian peroleh". Beliau ditanya (oleh sahabat) : "Mungkin 50 kali pahala diantara mereka". Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:"Bahkan 50 kali pahala kalian".(50)

Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam mengatakan demikian bagi orang yang mengamalkan sunnah dimana pada masanya umat sudah rusak.

Ibnu Syihab Az-Zuhri mengatakan: "Mengajarkan sunnah itu lebih utama daripada ibadah selama 200 tahun".

Baca juga : Malapetaka Akhir Zaman Dan Cara Mengatasinya

Suatu ketika Abu Muawiyah yang buta berbicara dengan Harun Ar-Rasyid, maka ia menyampaikan hadits: "Suatu saat Nabi Adam dan Musa 'alaihima sallam berdebat tiba-tiba Ali bin Ja'far menyela:

"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, masa kehidupan Nabi Adam dan Nabi Musa kan berbeda masa yang lama". Lalu khalifah Harun Ar-Rasyid menghardiknya: "Dia menceritakan kepadamu hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu kamu membantah dengan bagaimana mungkin?" Beliau terus mengulang-ulangi, sampai Ali bin Ja'far terdiam". Abu Utsman berkata: "Demikianlah seharusnya seseorang dalam mengagungkan hadits-hadits Nabi, menerimanya dengan sepenuh penerimaan, kepasrahan dan mengimaninya. Membantah orang yang menempuh jalan selain ini, sebagaimana yang dilakukan oleh Harun Ar Rasyid -rahimahullah- terhadap orang yang berani membantah hadits dengan mengatakan: "Bagaimana mungkin?" yang tujuannya adalah membantah dan mengingkarinya. Padahal seharusnya ia menerima semua yang diberitakan oleh Nabi.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk diantara mereka yang ketika mendengar hadits kemudian mengikutinya. Berpegang teguh sepanjang hidup dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, serta menghindari hawa nafsu yang menyesatkan, pendapat-pendapat yang sesat dan berbagai kejahatan yang menghinakan dengan karunia dan keutamaan dari Allah ta'ala. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarganya serta para sahabat ridhwanullahu 'alaihi ajma'in.

Sumber : AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS Abu Isma'il Ash-Shabuni

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

47 HR. Bukhari, Muslim dan lainnya
48 HR. Bukhari, Muslim dan lainnya
49 HR. Ahmad, Muslim dan lainnya
50 HR. Ibnu Nashar dalam As-Sunnah dengan sanad shahih

SETIAP MAKHLUK TELAH DITENTUKAN AJALNYA

ajal manusia


Mereka juga bersaksi dan berkeyakinan bahwa Allah 'azza wa jalla telah menentukan batas akhir kehidupan bagi setiap makhluk. Sesungguhnya setiap jiwa itu tidak akan mati kecuali dengan izin Allah dan takdir dari-Nya.

Apabila sudah ditakdirkan waktunya mati, maka tidak ada pilihan lagi kecuali mati. Tidak bergeser sedikitpun. Allah berfirman:

"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya sesaatpun dan tidak pula memajukannya" (QS. Al-A'raaf : 34).

Allah juga berfirman: "Setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah sebagai ketentuan yang telah ditetapkan waktunya." (QS. Ali-Imran : 145).

Mereka juga bersaksi dan berkeyakinan bahwa siapa yang mati atau terbunuh, maka hal itu merupakan takdir. Allah berfirman:

"Katakanlah: "Sekiranya kamu berada dirumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ketempat mereka terbunuh..."(QS. Ali-'Imran : 154).

Allah juga berfirman: "Dimanapun kamu berada, kematian akan menemuimu, walaupun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh..."(QS.An-Nisaa : 78).

Sumber : AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS Abu Isma'il Ash-Shabuni

Selasa, 27 September 2016

Kisah Sedih Ini Banyak Bikin Orang Menangis..


Pada suatu hari ada anak yang berumur 4 tahun bertanya pada ibunya?.
"bu, kenapa tiap ulang taun gak Pernah ngasih apa2?

Ibunya cuma meneteskan air mata belum bisa menjawab, akhirnya berkata :

''Nak kan masih Lama?''

Hari berlalu, dan si anak kini tumbuh semakin besar.

Hingga pada suatu hari, saat anak ini umur 6 tahun, dia mengalami kecelakaan.

Sang ibu sangat shock dan bergegas pergi ke rumah sakit, setiba di rumah sakit, seorang dokter berkata pada ibunya itu?

''Maaf bu, saya tidak yakin anak ibu bisa bertahan,Jantungnya terluka dan sangat kecil kemungkinan untuk bertahan.

Mendengar itu, ibunya langsung menghampiri anaknya.
Anaknya terbaring lemas dan berkata?'' :

''Apakah dokter tadi memberi tahu ibu kalau aku Akan segera mati?

ibunya tak kuasa membendung air matanya,kemudian ia menggengam tangan putranya sambil menangis.

Waktupun berlalu dan anaknya yang sekarat Akhirnya udah sembuh.

Tepat di hari ulang tahunnya yang ke 8 Tahun, ketika ia tiba dirumahnya, dia mendapati secarik kertas diatas kasurnya.

Dia membuka pelan2 dan membacanya? Dalam surat itu isinya? :

''Nak, ibu senang banget jika akhirnya kamu bisa Membaca surat ini. karena dengan itu, ibu memastikan kamu baik saja. kamu masih ingat gak hari dimana kamu bertanya apa yang ibu berikan pada hari ulang tahun kamu yang ke 8 Tahun, mungkin ketika itu ibu belum bisa menjawabnya...

Pada akhirnya ibu bahagia bisa memberikan kamu hadiah yang tak ternilai. ibu menitipakan jantung ibu padamu. jaga baik2 Nak, selamat ulang tahun penuh keberkahan ya...

Anaknya pun menangis baru kemarin2 di tinggal ayahnya sekarang sang ibunda menyusul telah tiada Sedih...

SUBHANALLAH..
Sang bunda sejati meninggal dunia karena lebih memilih mendonorkan jantungnya demi menyelamatkan putranya.

Sumber : Renungan islam

Minggu, 25 September 2016

Penyandaran Kebaikan Dan Kejelekan Pada Allah Ta'ala


Ahlus Sunnah bersaksi dan berkeyakinan bahwa kebaikan dan kejelekan, manfa'at dan mudzarat (kejadian yang manis maupun yang pahit) semuanya dari takdir dan ketentuan Allah ta'ala, tidak ada yang mampu mencegahnya, penyimpangkannya atau menjauhkannya. Seseorang tidak akan tertimpa suatu musibah melainkan apa yang telah ditakdirkan. Meskipun seluruh makhluk berusaha keras untuk menolong orang tersebut, akan tetapi Allah menakdirkan untuk tertimpa musibah maka usaha tersebut tidak berhasil.
Demikian juga meskipun seluruh makhluk berusaha untuk mencelakakan dirinya akan tetapi orang tersebut tidak ditakdirkan celaka, maka usaha tersebut tidak akan berhasil, hal ini sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas radiallahu'anhu.

Allah berfirman: "Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya.." (QS. Yunus : 107).

Termasuk dari pemahaman dan manhaj Ahlus Sunnah (selain keyakinan mereka bahwa kebaikan dan kejelekan semuanya dari takdir Allah) mereka juga menetapkan bahwa tidak diperkenankan menyadarkan kepada Allah apa-apa yang berkesan negatif bila diucapkan secara terpisah. Tidak boleh dikatakan, misalnya: Allah itu pencipta monyet, babi, kumbang kelapa dan jangkrik, meskipun kita tahu tidak ada makhluk yang tidak diciptakan oleh Allah. Dalam hal ini terdapat hadits tentang do'a istiftah:

"Sungguh Maha Suci dan Maha Tinggi Engkau ya Allah, kebaikan seluruhnya di kedua tangan-Mu dan kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu"(HR. Ahmad, Muslim dan lainnya).

Maksudnya, wallahu a'lam, kejelekan tidak termasuk yang bisa disandarkan kepada Allah secara terpisah, seperti: "Wahai Pencipta keburukan, atau wahai yang menakdirkan kejelekan". Meskipun benar bahwasanya Dialah yang menciptkan dan menakdirkan kejelekan tersebut. Oleh karena itu Nabi Khidir 'alaihissalam menyandarkan kehendak untuk merusak perahu kepada dirinya sendiri, seperti dikisahkan dalam Al-Qur'an:

"Adapun kapal itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku hendak merusakkan kapal itu, karena dihadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap kapal." (QS. Al-Kahfi : 79).

Namun ketika beliau menyebutkan kebaikan, kebajikan, dan rahmat, beliau menyandarkan kehendaknya kepada Allah, Allah ta'ala berfirman:"..maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu.." (QS. Al-Kahfi : 82).

Allah juga memberitakan tentang diri Ibrahim 'alaihissalam dalam firman-Nya: "dan apabila aku sakit. Dialah yang menyembuhkan aku" (QS. Asy-Syu'ara : 80).

Beliau menyandarkan sakit kepada dirinya sendiri dan menyandarkan kesembuhan kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Meskipun keduanya datangnya dari Allah Yang Maha Mulia.

Sumber : AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS Abu Isma'il Ash-Shabuni

Hukum Orang Yang Meninggalkan Shalat Dengan Sengaja


Ulama Ahli Hadits berbeda pendapat mengenai orang yang meninggalkan shalat wajib dengan sengaja. Imam Ahmad dan banyak ulama salaf{36} menganggap kafir orang tersebut dan mengeluarkannya dari Islam, berdasarkan hadits shahih bahwasanya Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"Yang membatasi antara seorang hamba dan kemusyrikan adalah meninggalkan shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir."{37}

Sementara Imam Syafi'i, para sahabatnya dan banyak ulama salaf menganggap orang tersebut belum kafir, selama masih meyakini kewajiban shalat tersebut. Akan tetapi mereka berpendapat bahwa orang tersebut harus dibunuh, sebagaimana dibunuhnya orang-orang murtad. Mereka menafsirkan sabda Nabi shallallahu'alaihi wa sallam: "Barangsiapa yang meninggalkan shalat (dengan mengingkari kebajibannya) maka ia kafir". Hal itu sebagaimana firman Allah:

"..Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orangorang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka kafir (ingkar) kepada hari kemudian" (QS. Yusuf : 37).

Beliau (Yusuf) meninggalkan mereka bukan karena tindakan yang belum jelas kekufurannya, namun karena mereka mengingkari (Allah dan hari akhir).

Note :

36] Mereka diantaranya:Ishaq bin Rahawaih, Ibnul Mubarak, Ibrahim An-Nakha'i, Al-Hakam bin Utaibah, Ayyub As-Sakhtiyani, Abu Bakar bin Syaibah, Abu Khaitsamah, Zuhaeir bin Harab dan lainnya. Adapun dari kalangan Sahabat: Um ar bin Khatab, Mu'adz bin Jabal, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Jabir bin Abdullah, Abu Darda dan lainnya.

37] Dikeluarkan oleh Ibnu Nashar, Muslim, Ahmad dan lainnya.


Sumber : AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS Abu Isma'il Ash-Shabuni

Jumat, 23 September 2016

TURUNNYA ALLAH KELANGIT DUNIA DAN KEDATANGAN-NYA


Ahlu Hadits menetapkan kebenaran akan turunnya Allah ta'ala pada setiap malam kelangit dunia, tanpa menyerupakan dengan turunnya makhluk, tanpa memperumpamakannya serta tanpa mereka-reka bagaimananya. Namun mereka menetapkan sebatas yang ditetapkan oleh Rasulullah, dan menafsirkan berdasarkan dzahirnya, sementara hakikat maknanya mereka serahkan kepada Allah! Demikian juga mereka menetapkan berita yang diturunkan Allah ta'ala dalam Al-Qur'an diantaranya mengenai "Al-Maji'" dan "Al-Ityan" (kehadiran dan kedatangan Allah), Allah berfirman yang artinya:

"Tiada yang mereka nanti-nanti [pada hari kiamat] melainkan datangnya Allah dan malaikat dalam naungan awan..."(QS. Al-Baqarah : 210).

"Dan datanglah Rabbmu, sedang malaikat berbaris-baris."(QS. Al-Fajr : 22).

Kita mengimani sepenuhnya apa yang diberitakan tanpa mempersoalkan bagaimananya. Seandainya Allah menghendaki tentu akan menjelaskannya kepada kita caranya, oleh karena itu kita mencukupkan dengan apa yang telah Allah jelaskan kepada kita dan meninggalkan apa yang samar maknanya [hakikatnya], sebagaimana yang Allah perintahkan yang artinya:

"Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an). Diantara [isinya] ada ayat-ayat yang muhkam, itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an dan sebagian yang lain [ayat-ayat] mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang dalam ilmunya berkata:'Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu datang dari Rabb kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran [daripadanya] melainkan orang-orang yang berakal."(QS. Ali-'Imran :7).

Rasulullah bersabda: "Rabb kita tabaraka wa ta'ala turun pada setiap malam ke langit dunia, ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir, Dia berfirman [artinya]: "Siapa yang berdo'a kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan, siapa yang memohon kepada-Ku niscaya akan Aku beri, siapa yang minta ampun niscaya akan Aku ampuni" (HR. Bukhari, Muslim).

Ummu Salamah [istri Nabi] mengatakan:"Seindah-indah hari adalah hari dimana Allah azza wa jalla turun ke langit dunia, maka dia ditanya: " Hari apakah itu" Beliau menjawab: "Hari Arafah". (Hadits hasan, dikeluarkan oleh Ad-Darimi dalam 'Ar-Ra'du 'ala Jahmiyyah).

Sumber : AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS Abu Isma'il Ash-Shabuni

BERSEMAYAMNYA ALLAH DI ATAS 'ARSY



Ahlul Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah subhanahu wa ta'ala berada di atas tujuh lapis langit, di atas 'Arsy-Nya, sebagaimana dalam surat Yunus:

"Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada keizinan-Nya" (QS. Yunus : 3).

"Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan.Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Rabbmu".(QS. Ar-Ra'd : 2).

".. kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang Maha Mengetahui" (QS.Al-Furqan : 59).

"...kemudian Dia-pun bersamayam di atas 'Arsy".(QS. As-Sajdah : 4).

"...dan kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik.."(QS. Fathir : 10).

"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya..". (QS. As-Sajadah : 5).

"Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga tiba-tiba bumi itu bergoncang". (QS. Al-Mulk : 16).

Allah subhanahu wa ta'ala memberitakan tentang Fir'aun yang terlaknat, bahwasanya ia pernah berkata kepada Haman (pembantunya):

"Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintupintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Ilah Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta..." (QS. Al-Mu'min : 36-37).

Fir'aun berkata demikian karena ia mendengar Musa mengabarkan bahwa Rabbnya berada di atas langit. Para ulama dan tokoh imam-imam dari kalangan salaf tidak pernah berbeda pendapat, bahwa Allah 'azza wa jalla' berada diatas 'arsy-Nya. Dan 'arsy-Nya berada di atas tujuh lapis langit. Mereka menetapkan segala yang ditetapkan Allah, mengimaninya serta membenarkannya. Mereka menyatakan seperti yang Allah katakan bahwa Allah bersamayam di atas 'Arsy-Nya. Mereka membiarkan makna ayat itu berdasarkan dhahirnya, dan menyerahkan hakikat sesungguhnya kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Mereka mengatakan:

"Kami mengimani, semuanya itu dari sisi Rabb kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal."(QS. Ali-'Imran : 7).

Sebagaimana Allah terangkan tentang orang-orang yang dalam ilmunya mengatakan demikian, dan Allah ridha serta memujinya.

Imam Malik pernah ditanya dalam majelisnya tentang ayat Allah: "Ar-Rahman bersemayam di atas 'Arsynya".(QS. Thaha : 5), Bagaimana caranya Allah bersemayam?. Maka Imam Malik menjawab:" Bersemayam itu maklum (diketahui maknanya), bagaimananya (caranya) tidak diketahui, menanyakan bagaimananya adalah bid'ah, dan saya memandang kamu (penanya) sebagai orang yang sesat, kemudian memerintahkan untuk mengeluarkan penanya tersebut dari majelis.

Abdullah bin Al-Mubarak berkata: "Kami mengetahui Rabb kami berada di atas 7 lapis langit, bersemayam di atas 'Arsy-Nya, terpisah dengan makhluk-Nya. Dan kami tidak menyatakan seperti ucapan Jahmiyyah bahwa Allah ada di sini, beliau menunjuk ke tanah (bumi)".(Sanadnya hasan).

Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata: "Barangsiapa yang tidak menetapkan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala berada di atas 'Arsy-Nya maka dia kufur kepada Rabbnya, halal darahnya, diminta taubat, kalau menolak maka dipenggal lehernya, lalu bangkainya dicampakkan ke pembuangan sampah agar kaum muslimin dan orang-orang mu'ahad tidak terganggu oleh bau busuk bangkainya, hartanya dianggap sebagai fa'i (rampasan perang)-tidak halal diwarisi oleh seorang pun muslimin, karena seorang muslim tidak mewarisi harta orang kafir, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Seorang Muslim tidak mewarisi orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim"(HR. Bukhari).

Dalam hadits Mu'awiyah bin Hakam, bahwa ia berniat membebaskan budak sebagai kifarat. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menguji budak
wanita. Beliau bertanya:"dimanakah Allah?", maka ia menjawab di atas langit, beliau bertanya lagi:"Siapa aku?", maka ia menjawab: "Anda utusan Allah".(HR. Muslim dan lainnya). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghukumi sebagai muslimah karena ia menyatakan bahwa Allah diatas langit.

Imam Az-Zuhri imamnya para imam berkata: "Allahlah yang berhak memberi keterangan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang berhak menyampaikan dan kita wajib pasrah menerimanya."

Wahhab bin Munabbih berkata kepada Ja'ad bin Dirham: "Sungguh celaka engkai wahai Ja'ad karena masalah itu (karena Ja'ad mengingkari sifat-sifat Allah)!, seandainya Allah tidak mengkhabarkan dalam Kitab-Nya bahwa Ia memiliki tangan, mata dan wajah, niscaya aku tidak berani mengatakannya, takutlah kepada Allah!"

Khalid bin Abdillah Al-Qisri suatu ketika berkhutbah pada hari raya 'Idul Adha di Basrah, pada akhir khutbahnya ia berkata: "Pulanglah kalian kerumah masing-masing dan sembelihlah kurban-kurban kalian, semoga Allah memberikahi kurban kalian. Sesungguhnya pada hari ini aku akan menyembelih Ja'ad bin Dirham, karena ia berkata: Allah tidak pernah mengangkat Ibrahim 'alaihissalam sebagai kekasih-Nya, dan tidak pernah mengajak Musa berbicara. Sungguh Maha Suci Allah dari apa yang dikatakan Ja'ad karena kesombongan, maka Khalid turun dari mimbar dan menyembelih Ja'ad dengan tangannya sendiri, kemudian memerintahkan untuk disalib.

Rujukan : AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS Abu Isma'il Ash-Shabuni

AL-QUR'AN KALAMULLAH BUKAN MAKHLUK



Ahlus Sunnah bersaksi dan berkeyakinan bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah (ucapan Allah), Kitab-Nya dan wahyu yang diturunkan, bukan makhluk. Barangsiapa yang menyatakan dan berkeyakinan bahwa ia makhluk maka kafir menurut pandangan Ahlus Sunnah.

Al-Qur'an merupakan wahyu dan kalamullah yang diturunkan melalui Jibril kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam dengan bahasa Arab untuk orang-orang yang berilmu sebagai peringatan dan kabar gembira, sebagaimana firman Allah ta'ala:

”Dan sesungguhnya al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (Asy-Syu'ara:192-195).

Al-Qur'an disampaikan oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam kepada umatnya sebagaimana yang diperintahkan Allah: "Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu". (Al-Maidah:67), dan yang disampaikan oleh beliau adalah kalamullah. Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Apakah kalian yang akan menghalangiku untuk menyampaikan kalam (ucapan) Rabbku" (HR. Bukhari dalam Af'alul 'ibad, At-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Ibnu Majah).

Al-Qur'an yang dihafal dalam hati, dibaca oleh lisan, dan ditulis dalam mushaf-mushaf, bagaimanapun caranya Alqur'an dibaca oleh qari, dilafadzkan oleh seseorang, dihafal oleh hafidz, atau dibaca dimanapun ia dibaca, atau ditulis dalam mushaf-mushaf dan papan catatan anak-anak dan yang lainnya adalah kalamullah,bukan makhluk.

Barangsiapa yang beranggapan bahwa ia makhluk, maka telah kufur kepada Allah Yang Maha Agung. Al-Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah
berkata:

"Al-Qur'an adalah kalamullah-bukan makhluk. Barangsiapa yang mengatakan Al-Qur'an adalah makhluk, maka dia telah kufur kepada Allah Yang Maha Agung, tidak diterima persaksiannya, tidak dijenguk jika sakit, tidak dishalati jika mati, dan tidak boleh dikuburkan di pekuburan kaum muslimin. Ia diminta taubat, kalau tidak mau maka dipenggal lehernya." (Sanadnya shahih, disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Tadzkiratul Huffadz).

Abu Ishaq bin Ibrahim pernah ditanya tentang lafadz AlQur'an, maka Beliau berkata:"Tidak pantas untuk diperdebatkan. 'Al-Qur'an kalamullah, bukan makhluk'".

Imam Ahmad bin Hambal berkata:"Orang yang menganggap makhluk lafadz Al-Qur'an adalah Jahmiyah, Allah berfirman:'..maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalamullah' (At-Taubah:6). Dari mana ia mendengar?(Sanadnya shahih).

Abdullah bin Al-Mubarak berkata:"Barangsiapa yang mengkufuri satu huruf Al-Qur'an saja, maka ia kafir (ingkar) dengan Al-Qur'an. Barangsiapa yang mengatakan: Saya tidak percaya dengan Al-Qur'an maka ia kafir".

Sumber : AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS Abu Isma'il Ash-Shabuni