Tampilkan postingan dengan label ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibadah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Januari 2017

Tata Cara Sujud Yang Sempurna

Secara umum, tata cara sujud yang benar telah disebutkan dalam hadis berikut:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota badan: Dahi –dan beliau berisyarat dengan menyentuhkan tangan ke hidung beliau–, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua kaki.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadis, tujuh anggota sujud dapat kita rinci:

a. Dahi dan mencakup hidung
b. Dua telapak tangan
c. Dua lutut
d. Dua ujung-ujung kaki.

Adapun bentuk sujud yang sempurna secara rinci dijelaskan sebagai berikut:

1. Menempelkan Dahi dan Hidung di Lantai
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menempelkan dahi dan hidungnya ke lantai…” (HR. Abu Daud, Turmudzi dan dishahihkan Al Albani dalam Sifat Shalat, Hal. 141)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak menempelkan hidungnya ke tanah, sebagaimana dia menempelkan dahinya ke tanah.” (HR. Ad Daruqutni dan At Thabrani dan dishahihkan Al Albani dalam Sifat Shalat, Hal. 142)

Hadis ini menunjukkan, menempelkan hidung ketika sujud hukumnya wajib.

2. Meletakkan Kedua Tangan di Lantai dan Sejajar dengan Pundak atau Telinga
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua tangannya (ketika sujud) sejajar dengan pundaknya.” (HR. Abu Daud, Turmudzi dan dishahihkan Al Albani dalam Sifat Shalat, Hal. 141)

Dan terkadang “Beliau  meletakkan tangannya sejajar dengan telinga.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i dengan sanad shahih sebagaimana disebutkan Al Albani dalam Sifat Shalat, Hal. 141)

3. Merapatkan Jari-jari Tangan dan Menghadapkannya ke Arah Kiblat
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merapatkan jari-jari tangan ketika sujud.” (HR. Ibn Khuzaimah dan Al Baihaqi dan dishahihkan Al Albani)

“Beliau menghadapkan jari-jarinya ke arah kiblat.” (HR. Al Baihaqi dengan sanad shahih, sebagaimana keterangan Syaikh Al Albani dalam Sifat Shalat)

Ibn Umar radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suka menghadapkan anggota tubuhnya ke arah kiblat ketika shalat. Sampai beliau menghadapkan jari jempolnya ke arah kiblat.” (HR. Ibn Sa’d dan dishaihkan Al Albani dalam Sifat Shalat, Hal. 142)

4. Mengangkat Kedua Lengan dan Membentangkan Keduanya Sehingga Jauh dari Lambung
“Beliau tidak meletakkan lengannya di lantai.” (HR. Al Bukhari dan Abu Daud)

“Beliau mengangkat kedua lengannya dan melebarkannya sehingga jauh dari lambungnya, sampai kelihatan ketiak beliau yang putih dari belakang.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

“Beliau melebarkan lengannya, sehingga anak kambing bisa lewat di bawah lengan beliau.” (HR. Muslim dan Abu ‘Awanah)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh dalam merenggangkan kedua lengannya kekita sujud, sampai ada sebagian sahabat yang mengatakan, “Sungguh kami merasa kasihan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau sangat keras ketika membentangkan kedua lengannya pada saat sujud.” (HR. Abu Daud dan Ibn Majah dengan sanad hasan sebagaimana keterangan Syaikh Al Albani dalam Sifat Shalat)

Catatan:
Membentangkan kedua lengan ketika sujud dianjurkan jika tidak mengganggu orang lain yang berada di sampingnya. Jika mengganggu orang lain, misalnya ketika shalat berjamaah, maka tidak boleh membentangkan tangan, namun tetap harus mengangkat siku agar tidak menempel dengan lantai. Karena menempelkan siku ketika sujud termasuk tata cara sujud yang dilarang.

5. Menempelkan Kedua Lutut di Lantai
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota badan:….salah satunya bertumpu pada kedua lutut.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Catatan:
Kedua lutut dirapatkan ataukah direnggangkan?

Tidak terdapat keterangan tentang masalah ini. Oleh karena itu, posisi lutut ketika sujud sebaiknya di sesuaikan dengan kondisi yang paling nyaman menurut orang yang shalat. Jika dia merasa nyaman dengan merenggangkan lutut, maka sebaiknya direnggangkan dan sebaliknya, jika dia merasa nyaman dengan kondisi dirapatkan kedua lututnya, maka sebaiknya dirapatkan.

Syaikh Ibn Al Utsaimin mengatakan, “Hukum asal (gerakan shalat) adalah meletakkan anggota badan sesuai dengan kondisi asli tubuh sampai ada dalil yang menyelisihinya.” (Asy Syarhul Mumthi’, 1:574)

6. Bersikap I’tidal Ketika Sujud
Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin menjelaskan bahwa yang dimaksud “i’tidal ketika sujud” adalah merenggangkan antara betis dengan paha, dan meregangkan antara perut dengan paha, masing-masing kurang lebih 90 derajat. Namun tidak boleh berlebihan ketika meregangkan betis dengan paha, sehingga lebih dari 90 derajat.(Asy Syarhul Mumthi’, 1:579)

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Bersikaplah I’tidal ketika sujud.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Humaid radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan tata cara shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: …Ketika beliau sujud, beliau renggangkan kedua pahanya, tanpa sedikit pun menyentuhkan paha dengan perut beliau. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh As Syaukani dalam Nailul Authar)

As Syaukani mengatakan: Hadis ini dalil dianjurkannya meregangkan kedua paha ketika sujud dan mengangkat perut sehingga tidak menyentuh paha. Dan tidak ada perselisihan ulama tentang anjuran ini. (Nailul Authar, 2:286)

7. Meletakkan Ujung-ujung Kaki dan Ditekuk Sehingga Ujung-ujungnya Menghadap Kiblat
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan dua lututnya dan ujung kedua kakinya di tanah.” (HR. Al Baihaqi dengan sanad shahih, dinyatakan shahih oleh Al Hakim dan dishahihkan Al Albani)

“Beliau menegakkan kedua telapak kakinya.” (HR. Al Baihaqi dengan sanad shahih dan dishahihkan Al Albani) Dan “Beliau memerintahkan (umatnya) untuk melakukannya.” (HR. At Turmudzi, Al Hakim dan dishahihkan Al Albani)

“Beliau menghadapkan punggung kakinya dan ujung-ujung jari kaki ke arah kiblat.” (HR. Al Bukhari dan Abu Daud)

8. Merapatkan Tumit
“Beliau merapatkan kedua tumitnya (ketika sujud).” (HR. At Thahawi dan Ibn Khuzaimah dan dishahihkan Al Albani)

9. Melaksanakan Gerakan Sujud Sebagaimana di Atas dengan Sungguh-sungguh
Karena demikianlah sunnah yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Agar shalat kita bisa sempurna maka sunnah yang mulia ini harus kita jaga.

Kamis, 01 Desember 2016

Ternyata Kesyirikan di Zaman Kita Lebih Parah Dari Zaman Rasulullah

syirik

Sesungguhnya kaum musyrikin di zaman kita lebih parah kesyirikannya dibandingkan kesyirikan kaum musyrikin zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Karena kaum musyrikin zaman dahulu mereka berbuat syirik ketika mereka dalam keadaan lapang dan mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika mereka dalam keadaan sempit.

Sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita, kesyirikan mereka berlangsung terus menerus, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala yang artinya,“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS. Al 'Ankabut : 65).

Demikianlah keadaan kaum musyrikin di zaman Nabi, di saat mereka dalam keadaan sempit misalnya saat berada di tengah laut dan mereka takut tenggelam maka mereka memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata, mereka tinggalkan sekutu-sekutu yang biasa mereka persekutukan dengan Allah. Namun,  saat kesempitan itu telah hilang dari mereka maka kembalilah mereka menyekutukan Allah.

Adapun di zaman ini, sebagian orang menyekutukan Alloh dalam keadaan lapang maupun sempit. Contoh dari pernyataan ini adalah kenyataan di negeri kita sendiri, di mana di suatu daerah kesyirikan telah menjadi ritual tahunan, dengan mempersembahkan ini dan itu kepada tempat-tempat yang dianggap keramat. Maka tatkala wilayah itu terkena musibah gempa, bukannya mereka bertaubat kepada Allah atas kesyirikan yang mereka lakukan, justru mereka malah mengadakan ritual tolak bala ke sebuah laut, mempersembahkan ini dan itu, dan seterusnya, padahal seharusnya mereka kembali kepada Allah dengan bertaubat dan memurnikan ibadah kepada Allah, karena hanya Allah lah yang mampu menghilangkan musibah yang menimpa mereka, bukan yang lainnya.

Inilah kenyataan yang ada, bahwa kesyirikan di zaman ini lebih parah daripada kesyirikan di zaman Nabi, maka usaha untuk membersihkan akidah kaum muslimin dari berbagai noda syirik adalah usaha yang mendesak yang harus dilakukan sebelum usaha-usaha lainnya, wallahu a’lam.

Jumat, 04 November 2016

Hilangnya Ikhlas Sebagai Sebab Tertolaknya Amal Ibadah

ikhlas

Sebagaimana diketahui bahwa salah satu syarat diterimanya amal perbuatan seorang hamba adalah adanya keikhlasan dalam dirinya. Banyak dalil yang menunjukan hal tersebut baik dalam Al Qur'an maupun As Sunnah. Namun disini, saya hanya akan menukil sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

Sesungguhnya orang yang paling pertama akan diadili pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang mati syahid maka Allah-pun memperkenalkan nikamat-Nya kepadanya dan diapun mengetahuinya. Allah bertanya: Apakah yang engkau perbuat untuk mendapatkan nikamat tersebut?. Maka lelaki tersebut menjawab: Aku telah berperang dalam rangka menegakkan kalimat-Mu sampai mati syahid. Dia membantah lelaki tersebut: “Engkau telah berdusta, akan tetapi engkau berperang agar dikatakan sebagai seorang pemberani, dan itu telah dikatakan kepadamu. Kemudian diperintahkan untuk diseret di atas wajahnya sehingga dicampakkan ke dalam api neraka.

Kemudian seorang lelaki yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an. Maka diapun didatangkan menghadap Allah untuk memperlihatkan nikamtnya sehingga diapun mengetahuinya. Allah bertanya: Apakah yang telah engkau perbuat untuk meraih kenikmatan tersebut?. Lelaki tersebut menjawab: “Aku belajar ilmu agama dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an semata karena diri-Mu. Allah membantah: Engkau telah berdusta, sesungguhnya engkau menimba ilmu agar dikatakan orang yang alim dan membaca Al-Qur’an  agar orang memujimu sebagai  orang pandai membaca, dan itu telah dikatakan bagimu, maka diperintahkanlah malaikat menggeretnya di atas wajahnya sehingga dilemparkan ke dalam api neraka.

Dan seorang lelaki yang diluaskan rizkinya oleh Allah dan diberikan baginya bermacam-macam harta. Maka dia dihadapkan kepada Allah dan Dia memperkenalkan baginya nikmat-nikamatnya. Lalu Allah bertanya kepadanya: Apakah yang telah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?. Dia menjawab: Tidaklah satu jalanpun yang engkau senangi untuk diinfaqkan harta padanya kecuali aku menginfaqkan harta padanya karena diriMu”. Allah membantahnya: “Engkau telah berdusta, akan tetapi engkau mengerjakan perbuatan tersebut agar dikatakan sebagai orang yang dermawan dan hal tersebut telah dikatakan bagimu”. Kemudian dirinya digeret di atas wajahnya kemudian dicampakkan ke dalam api neraka. Lalu pada saat hadits ini sampai kepada Mu’awiyah maka diapun menangis dengan sejadi-jadinya, lalu pada saat dia telah sadar dia berkata:  Maha benar dan Rasul-Nya.

Riwayat diatas menunjukan pada kita tentang pentingnya ikhlas ketika kita beramal. Sebab jika amalan yang kita lakukan dicampuri dengan riya' atau sum'ah, maka hancurlah amalan kita dan tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata'ala. Bahkan kita diancam dengan adzab neraka yang pedih sebagimana riwayat diatas.

Oleh karena itu hendaknya kita berusaha agar setiap amalan yang kita lakukan didasari atas keikhlasan dan mengharap ridha dari Allah subhanahu wata'ala. Serta berdoa memohon kepada Allah agar setiap amalan kita diterima oleh-Nya.

Kamis, 03 November 2016

Wajibnya Merapatkan, Meluruskan dan Menyempurnakan Shaf Shalat

shaf shalat

Kadang saya merasa miris saat mendapati shaf shalat yang kurang rapi, bengkak-bengkok, dan tidak rapat serta sangat longgar. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyuruh kita agar meluruskan, merapatkan dan menyempurnakan shaf shalat kita. Hal inilah yang melatar belakangi saya menulis tulisan ini. Semoga tulisan yang sedikit ini bermanfaat bagi saudaraku sekalian.

Sesungguhnya terdapat begitu banyak hadits yang menganjurkan kita untuk meluruskan, merapatkan dan menyempurnakan shaf. Diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Dari An Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,“Sungguh luruskanlah shaf kalian, atau (jika tidak) Allah akan benar-benar menimbulkan perselisihan di antara wajah-wajah kalian.” [HR Al Bukhari (177) dan Muslim (436)].

Hadits ini mengandung perintah yang sangat tegas bagi kita untuk meluruskan shaf , dan ancaman yang sangat keras bagi yang tidak melakukannya. Imam An Nawawi rahimahullah berkata: “Yang tampak (bagi kami) -wallahu a’lam- maknanya adalah: Allah akan menimbulkan permusuhan, kebencian, dan perselisihan hati di antara kalian.”

2. “Shalat telah ditegakkan (iqamah), lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menghadap kepada kami, lalu berkata: “Luruskan shaf-shaf kalian dan saling merapatlah kalian. Sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari belakang punggungku.” [HR Al Bukhari (719) dari Anas bin Malik radhiyallahu'anhu].

Di dalam hadits ini terdapat perintah tambahan, yaitu perintah untuk saling merapatkan shaf.

3. “Luruskanlah shaf-shaf, sejajarkanlah pundak dengan pundak, isilah bagian yang masih renggang, bersikap lembutlah terhadap lengan teman-teman kalian (ketika mengatur shaf), dan jangan biarkan ada celah untuk (dimasuki oleh) syaithan. Barangsiapa yang menyambung shaf maka Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya), dan barangsiapa yang memutus shaf maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya).” [HR Abu Dawud (666) Hadits shahih].

4. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata,“Dahulu (pada masa Nabi) salah seorang dari kami menempelkan pundaknya dengan pundak teman (di sebelah)nya dan tapak kakinya dengan tapak kaki teman (di sebelah)nya.” [HR Al Bukhari (725)].

5. Dari An Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu, dia berkata,"Saya melihat seseorang menempelkan pundaknya dengan pundak teman (di sebelah)nya, lututnya dengan lutut teman (di sebelah)nya, dan mata kakinya dengan mata kaki teman (di sebelah)nya." [HR Abu Dawud (662)].

Kedua hadits di atas, yaitu hadits Anas dan hadits An Nu’man radhiyallahu ‘anhuma, menerangkan kepada kita tentang cara merapatkan dan meluruskan shaf dengan benar.

6. “Tidakkah kalian bershaf sebagaimana para malaikat bershaf di sisi Rabb mereka?” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara para malaikat bershaf di sisi Rabb mereka?” Nabi menjawab: “Mereka menyempurnakan shaf-shaf yang terdepan dan saling merapat di dalam shaf.” [HR Muslim (430)].

7. “Sempurnakankanlah shaf yang lebih depan, kemudian barulah yang setelahnya. Jika ada kekurangan (makmum), maka hendaklah pada shaf yang terakhir.” [HR Abu Dawud (671). Hadits shahih].

Hadits ini menerangkan bahwa shaf-shaf yang terdepan haruslah dipenuhkan dengan sempurna. Bila jumlah makmum yang belum mengatur barisan tinggal sedikit, maka hendaknya mereka membentuk barisan shaf di bagian paling belakang.

8. "Luruskan dan ratakan shaf-shaf kalian"(HR Abu Dawud).

9. "Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat."(HR Muslim).

Sebenarnya masih banyak lagi dalil lain yang menunjukan wajibnya meluruskan, merapatkan dan menyempurnakan shaf saat shalat berjama'ah. Namun sebagian orang merasa risih ketika ada orang yang berusaha merapatkan shaf. Bagi mereka yang penting shalat walaupun tidak terpenuhi adab-adab shalat berjama'ah.


Jumat, 28 Oktober 2016

Bahaya, Jangan Bersumpah Dengan Nama Ini


Haram hukumnya bersumpah dengan makhluk, seperti Nabi, Ka’bah, amanat, tanggung jawab, anak, orang tua, kehormatan, seorang wali atau orang shaleh dan lain sebagainya. Hal ini adalah termasuk syirik Ashghar (kecil), karena mempersekutukan Allah dengan mengagungkan selain-Nya ketika bersumpah dengan namanya. Dan perbuatan semacam itu termasuk dosa besar yang wajib dilarang, ditinggalkan dan bertaubat darinya.

Baca juga : 14 Waktu Yang Di Sunnahkan Bershalawat

Tetapi sumpah dengan nama selain Allah bisa menjadi syirik akbar, jika orang yang bersumpah dengan wali atau orang shaleh umpamanya, mempunyai kepercayaan bahwa orang tersebut akan melakukan balas dendam kepadanya bila ia dusta dalam sumpahnya, karena dia telah mempersekutukan Allah dengan si wali atau orang shaleh dalam melakukan balas dendam dan mendatangkan mudharat.

Dalil dari larangan diatas adalah sebagai berikut :

1. “Janganlah kamu bersumpah dengan nama bapakmu. Barangsiapa yang bersumpah dengan nama Allah maka hendaknya ia berkata benar, barangsiapa diberi sumpah dengan nama Allah maka supaya menerima, dan barangsiapa yang tidak menerima maka terlepas dari Allah.” (Shahih, riwayat Ibnu Majah. Lihat Shahih Al Jami’ No. 7124).

2. “Janganlah kamu bersumpah dengan nama bapakmu, atau ibumu, atau sekutu-sekutu. Janganlah kamu bersumpah kecuali dengan nama Allah. Dan janganlah kamu bersumpah kecuali dengan berkata benar.” (Shahih, riwayat Abu Daud. Lihat Shahih Al Jami’ No. 7126).

3. “Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat syirik.” (Hadits shahih, riwayat Imam Ahmad dan periwayat lainnya).

Baca juga : 7 Orang Yang Tidak Bisa Mencium Bau Surga

4. “Barangsiapa melakukan sumpah yang diharuskan kepadanya (oleh penguasa) untuk mengambil harta kekayaan seorang Muslim, tetapi dia dusta, maka ketika berjumpa dengan Allah (pada hari kiamat) Dia akan murka kepadanya.” (Muttafaq Alaih).

5. “Barangsiapa bersumpah, lalu memandang lebih baik membatalkan sumpahnya, maka hendaklah ia mengambil yang lebih baik dan melaksanakan kaffarat atas sumpahnya itu.” (H.R; Muslim).

6. “Barangsiapa bersumpah, tetapi mengatakan: “Insya Allah”, maka jika dia mau, boleh melaksanakan sumpahnya; dan jika tidak, boleh tidak melaksanakan tanpa harus membayar kaffarat.” (Hadits Shahih, riwayat An-Nasa’i. Lihat Shahih Al Jami’ No. 6082).

7. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata : “Bersumpah dengan nama Allah tapi ia dusta, lebih baik bagiku daripada bersumpah dengan selain nama Allah meskipun ia benar.”

8. “Barangsiapa di antara kamu bersumpah dengan menyebut nama Al-Latta dan Al-Uzza, maka hendaklah ia mengatakan: Laa Ilaaha Illallah.” Dan barangsiapa berkata kepada sahabatnya : “Mari kita berjudi”, maka hendaklah ia mensedekahkan sesuatu.” (Muttafaq Alaih).

9. “Barangsiapa bersumpah dengan (menyebut) agama selain Islam, sekalipun dusta, maka ia adalah sebagaimana yang dikatakannya.” (Muttafaq Alaih).

Maksudnya, apabila seorang muslim mengatakan bahwa jika ia berbuat demikian maka ia adalah orang Yahudi, atau Nasrani. Dalam masalah ini, apabila maksudnya mengagungkan hal itu adalah kafir. Tetapi apabila yang dimaksud hanyalah pengandaian, maka perlu diteliti, jika ia ingin menjadi seperti itu adalah kafir, tetapi jika ia ingin menjauhi hal yang demikian maka tidak kafir. (lihat Fathul Bari, jilid; 11, hal. 536).

Inilah 14 Waktu Mustajab Untuk Berdoa

berdoa

Allah Subhanahu wata'ala berfirman dalam Al Qur'an yang artinya,“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan kabulkan doa kalian. Sungguh orang-orang yang menyombongkan diri karena enggan beribadah kepada-Ku, akan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60).

Salah satu usaha agar doa kita dikabulkan oleh Allah Ta’ala adalah dengan memanfaatkan waktu-waktu tertentu yang dijanjikan oleh Allah bahwa doa ketika waktu-waktu tersebut dikabulkan. Diantara waktu-waktu tersebut adalah:

1. Pada hari Arafah
Hari Arafah merupakan hari dimana semua jama’ah haji melakukan wukuf di Arafah atau tanggal 9 Dzulhijjah. Pada hari Arafah, semua jama'ah disarankan berdoa sebanyak-banyaknya, tak terkecuali jama'ah yang tengah berhaji ataupun jamaah yang tidak tengah menunaikan ibadah haji. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,“Doa yang terbaik adalah doa ketika hari Arafah” (HR. At Tirmidzi).

2. Bulan Ramadhan
Pada shalat taraweh, setelah melaksanakan witir, dianjurkan untuk berdoa dengan mengucapkan, lafadz, "Subhanalmalikilquddus" sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud dari Ubay bin Ka’ab. Serta dianjurkan pula untuk mengucapkan kalimat itu sebanyak tiga kali sebagaimana disebutkan didalam riwayat an Nasai.

3. Hari Jum’at
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menuturkan perihal hari Jumat lalu beliau bersabda: ‘Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta’. Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut” (HR. Bukhari 935, Muslim 852 dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu).

4. Sepertiga Malam Terakhir
“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang akhir pada setiap malamnya. Kemudian berfirman: ‘Orang yang berdoa kepada-Ku akan Ku kabulkan, orang yang meminta sesuatu kepada-Ku akan Kuberikan, orang yang meminta ampunan dari-Ku akan Kuampuni‘” (HR. Bukhari no.1145, Muslim no. 758).

5. Di Antara Adzan dan Iqamat
“Sesungguhnya do’a yang tidak tertolak adalah do’a antara adzan dan iqomah, maka berdo’alah (kala itu).” (HR. Ahmad).

6. Ba'da (setelah) Shalat
Dari Abu Umamah, dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanya; wahai Rasulullah, doa apakah yang paling di dengar? Beliau berkata: "Doa di tengah malam terakhir, serta setelah shalat-shalat wajib." (HR. at-Tirmidzi).

7. Saat Turun Hujan
“Doa tidak tertolak pada 2 waktu, yaitu ketika adzan berkumandang dan ketika hujan turun” (HR Al Hakim, 2534, dishahihkan Al Albani di Shahih Al Jami’, 3078).

8. Hari Jum'at
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyebutkan tentang hari Jumat kemudian beliau bersabda: ‘Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta’. Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut” (HR. Bukhari 935, Muslim 852 dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu).

9. Hari Rabu Antara Dzuhur dan Ashar
“Pada hari Rabu lah doanya dikabulkan, yaitu di antara shalat Dzuhur dan Ashar” (HR. Ahmad, no. 14603, Al Haitsami dalam Majma Az Zawaid, 4/15, berkata: “Semua perawinya tsiqah”, juga dishahihkan Al Albani di Shahih At Targhib, 1185).

10. Saat Perang Berkecamuk
“Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang” (HR. Abu Daud, 2540, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Nata-ijul Afkar, 1/369, berkata: “Hasan Shahih”).

11. Saat Minum Air Zam-zam
“Khasiat Air Zam-zam itu sesuai niat peminumnya” (HR. Ibnu Majah, 2/1018. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah, 2502).

12. Saat Sujud Dalam Shalat
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,"Seorang hamba berada paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah berdoa ketika itu” (HR. Muslim, no.482).

13. Saat Adzan Berkumandang
“Doa tidak tertolak pada dua waktu, atau minimal kecil kemungkinan tertolaknya. Yaitu ketika adzan berkumandang dan saat perang berkecamuk, ketika kedua kubu saling menyerang” (HR. Abu Daud, 2540, Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Nata-ijul Afkar, 1/369, berkata: “Hasan Shahih”).

14. Saat Berbuka Puasa
‘”Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil dan doanya orang yang terzhalimi” (HR. Tirmidzi no.2528, Ibnu Majah no.1752, Ibnu Hibban no.2405, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi).

Kamis, 13 Oktober 2016

Takut Yang Dibenarkan Dalam Syari'at Islam

islam

Takut kepada Allah yang sebenarnya dan yang terpuji adalah takut yang menghalangi pemiliknya dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah dan mendorongnya untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya. Rasulullah bersabda:

"Barangsiapa takut niscaya dia berangkat di waktu akhir malam, dan barangsiapa berangkat di waktu akhir ma lam niscaya dia mencapai tempat tujuan. Ketahuilah sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal, ketahuilah sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga." (Hadits Shahih dengan syahidnya, riwayat al-Bukhari di dalam at-Taariikh, at-Tirmidzi, al-Hakim, Abd bin Humaid, Al-Uqaili, al-Qudha'i dan Abu Nu'aim. Lihat Silsilah al Ahaadits ash-Shahihah no: 2335).

Imam Ibnu Abil `Izzi al-Hanafi berkata,"Seorang hamba wa jib untuk takut dan berharap (kepada Allah), dan sesungguhnya takut yang terpuji dan yang sebenarnya adalah yang menghalangi pemiliknya dari apa-apa ya ng diharamkan oleh Allah. Apabila (takut) itu melewati batas, dikhawatirkan dia terjatuh pada sikap putus asa." (Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah: 371, takhrij Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, penerbit: al-Maktab al-Islami, cet: VII).

Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin ha zhahullah berkata,"Dan takut kepada Allah ada yang terpuji dan ada yang tidak terpuji. Yang terpuji adalah yang tujuannya / akhirnya akan menghalangimu dari maksiat terhadap Allah, yang mendorongmu untuk mengerjakan kewa jiban-kewajiban dan meninggalkan apa-apa yang diharamkan. Sedangkan yang tidak terpuji adalah yang membawa seorang hamba menjadi putus asa dari rahmat Allah, sehingga di saat itu hamba tadi menyesali (dirinya) dan patah semangat; bisa jadi dia terus-menerus menjalankan kemaksiatan karena keputus-asaannya yang kuat." (Syarh Tsalatsatul Ushul: 57, penerbit: Daar ats-Tsurayya, cet: III, tahun: 1417 H/ 1997 M).

Imam Ibnu Abil `Izzi al-Hanafi juga berkata,"Dan setiap orang, apabila engkau takut terhadapnya, niscaya engkau lari darinya, kecuali (takut) terhadap Allah Ta'ala, karena sesungguhnya apabila engkau takut terhadap-Nya, niscaya engkau lari kepada-Nya. Maka seseorang yang takut (kepada Allah) itu, dia lari dari Rabbnya menuju Rabbnya." (Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah: 372, takhrij Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, penerbit: al-Maktab al-Islami, cet: VII).

Sehingga takut seorang hamba yang sebenarnya kepada Allah itu tidak sebagaimana takutnya Iblis/setan kepada Allah. Karena setan itu juga takut kepada Allah, tetapi takutnya tidak mendorongnya untuk tunduk dan taat kepada-Nya, bahkan dia enggan dan sombong/takabbur untuk taat kepada-Nya. Allah ber firman:

"Dan ketika setan menjadikan mereka (orang-orang kafi r Quraisy-pen) memandang baik pekerjaan mereka, dan mengatakan: "Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu". Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat-melihat (berhadapan pada perang Badar-pen), setan itu balik ke belakang seraya berkata: "Sesungguhnya saya berlepas diri dari kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kalian tidak dapat melihat, sesungguhnya saya takut kepada Allah."Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (QS. Al- Anfal : 48).

Juga fi rman-Nya, (Bujukan orang-orang Manafi k itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia: "Kafi rlah kamu", maka tatkala manusia itu telah ka fir, setan berkata: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam." (QS. Al Hasyr : 16).

Dan setan termasuk golongan orang-orang ka fir karena dia enggan dan takabbur untuk mentaati Allah, walaupun dia juga takut kepada-Nya sebagaimana ayat-ayat di atas. Allah berfi rman,"Dan (ingatlah) ketika Kami berfi rman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka merekapun sujud kecuali Ibiis, dia enggan dan takabbur dan dia termasuk golongan orang-orang yang kafi r. (QS. AI Baqarah : 34).

Demikianlah takut yang sebenarnya kepada Allah, yang mendorong untuk menjalankan perintah-perintah-Nya, meninggalkan larangan-larangan-Nya dan bersegera menjalankan berbagai kebaikan. Allah memuji kepada orang yang mempunyai rasa takut semacam ini. Dia berfi rman,"Sesungguhnya orang yang berhati-hati karena takut (terhadap siksa) Rabb mereka. Dan orang -orang yang beriman terhadap ayat-ayat Rabb mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan (sesuatupun)dengan Rabb mereka, Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya." (QS. Al-Mukminun : 57 -61).

Di dalam kitab Musnad Imam Ahmad dan Sunan at-Tirmidzi dari Aisyah siapa yang berkata:
Aku bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ini. (Dan orang-orang yang membersihkan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut) (QS. Al-Mukminun: 60), apakah mereka adalah orang-orang yang berzina, minum khamr dan mencuri?". Beliau menjawab: "Tidak wahai (Aisyah) anak ash-Shidiiq, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, melaksanakan shalat, bershadaqah dan mereka khawatir (amalan mereka) tidak diterima." (Lihat al-Ahaadits ash-Shahihah no: 162).

Al-Hasan berkata,"Mereka telah beramal -demi Allah- dengan semua ketaatan-ketaatan dan mereka telah bersunggah-sungguh padanya, serta mereka takut (seandainya amalan-amalan mereka) ditolak. Sesungguhnya seorang mukmin itu menggabungkan antara berbuat baik dengan takut (tidak di terima amalannya), sedangkan orang munafi k menggabungkan antara berbuat buruk dengan (merasa) aman (dari siksa Allah)."

Dan fi rman-Nya,"Orang-orang laki-Iaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual-beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Dan mereka takut terhadap suatu hari yang (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS. An-Nur: 37).

Kamis, 06 Oktober 2016

14 Waktu Yang Di Sunnahkan Bershalawat

Bershalawat

Secara umum shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada dua:

Pertama, shalawat mutlak

Itulah shalawat yang dikerjakan di setiap kesempatan, tanpa batas waktu dan tempat tertentu. Kita dianjurkan untuk banyak membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana yang Allah firmankan,

“Sesungguhnya Allah dan malaikatnya bershalawat kepada nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan juga ucapkanlah salam untuknya.” (Qs. Al- Ahzab: 56).

Semakin banyak shalawat yang kita lantunkan, sebakin besar peluang untuk mendapat keistimewaan di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda' “Orang yang paling dekat dariku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.” (HR. At-Tirmidzi, dan dihasankan Al-Albani).

Kedua, shalawat muqayad

Itulah shalawat yang dikerjakan pada kesempatan khusus, baik dikerjakan pada waktu tertentu atau ketika melakukan amal tertentu. Ada sekitar 13 keadaan, dimana kita dianjurkan untuk membaca shalawat:

Ketika tasyahud awal atau akhir

Shalawat pada saat tasyahud awal hukumnya dianjurkan, sedangkan ketika tasyahud akhir hukumnya wajib. Dari Ka’ab bin Ujrah, bahwa para sahabat pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara shalawat ketika shalat. Beliau menjawab, ‘Ucapkanlah:

“Ya Allah, bershalawatlah kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Luas, Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Luas.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Ketika selesai adzan

Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian mendengar muadzin, jawablah adzannya. Kemduian bacalah shalawat untukku. Karena orang yang membaca shalawat untukku sekali maka Allah akan memberikan shalawat untuknya 10 kali.” (HR. Muslim).

Ketika hari jumat

Sejak malam hari jumat, sampai selesai siang hari jumat, kita dianjurkan memperbanyak membaca shalawat. Dari Aus bin Aus, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling mulia adalah hari jumat. Pada hari ini, Adam diciptakan… karena itu, perbanyaklah membaca shalawat untukku. Karena shalawat kalian ditunjukkan kepadaku.” (HR. Nasa’I, Abu Daud, Ibn Majah, dan dishahihkan Al-Albani).

Setiap pagi dan sore

Setiap pagi dan sore, kita dianjurkan membaca shalawat minimal 10 kali. Dari Abu Darda’ radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memberikan shalawat kepadaku ketika subuh 10 kali dan ketika sore 10 kali maka dia akan mendapat syafaatku pada hari qiyamat.” (HR. At Thabrani dan dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al-Jami’).

Ketika di Majlis

Ketika kita kumpul bersama banyak orang untuk memperbincangkan sesuatu, jangan lupa diselai dengan shalawat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika ada sekelompok kaum yang duduk bersama dan tidak mengingat Allah serta tidak memberi shalawat kepada nabi mereka maka itu akan menjadi bahan penyesalan baginya. Jika Allah berkehendak, Allah akan menghukum mereka, dan jika Allah berkehendak, Dia akan mengampuni mereka.” (HR. Ahmad, Turmudzi, dan dishahih Syuaib Al-Arnauth).

Ketika menyebut Nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ketika menyebut nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau mendengar nama atau gelar beliau disebut, kita dianjurkan untuk membaca shalawat. Dari Abu hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah orang yang ketika namaku disebut, dia tidak bershalawat untukku.” (HR. turmudzi, dan dinilai hasan sahih oleh Al-Albani).

Dari Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang bakhil adalah orang yang ketika namaku disebut, dia tidak bersjalawat untukku.” (HR. Ahmad dan sanadnya dinilai kuat oleh Syuaib Al-Arnauth).

Ketika berdoa

Mulailah doa anda dengan memuji Allah dan bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan harapan, doa anda bisa mustajab. Umar bin Khattab mengatakan,"Sesungguhnya doa itu terkatung-katung antara langit dan bumi, dan tidak bisa naik, sampai dibacakan shalawat untuk Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Turmudzi dan dihasankan Al-Albani).

Dari Ahmad bin Abi Hawari, bahwa beliau mendengnar Abu Sulaiman Ad-Darani menasehatkan, Siapa yang ingin memohon kepada Allah sesuatu, hendaknya dia mulai dengan bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian baru mengajukan doanya. Dan akhiri juga dengan shalawat untuk beliau. Karena shalawat untuk nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam statusnya maqbul, dan Allah Maha Pemurah, sehingga tidak akan menolak doa yang dibaca di antara dua shalawat.

Ketika masuk dan keluar masjid

Doa ini dibaca bersamaan dengan doa masuk masjid. Dari Abu Usaid radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian masuk masjid maka berilah salam untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian baca: Allahummaf-tahlii abwaaba rahmatik. Dan ketika dia keluar, hendaknya dia membaca: Allahumma inni as-aluka min fadhlik.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani).

Dari Fatimah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk masjid, beliau membaca shalawat dan salam untuk Muhammad, kemudian beliau berdoa: Rabbigh fir-lii dzunuubi…” (HR. Turmudzi dan dishahihkan Al-Albani).

Takbir kedua ketika shalat jenazah

Shalawat disyariatkan untuk dibaca ketka takbir kedua shalat jenazah. Imam As-Sya’bi mengatakan, “Takbir pertama shalat jenazah adalah memuji Allah. Takbir kedua bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. takbir ketiga doa untuk jenazah, dan takbir keempat salam.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf).

Ketika berada di Makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Abdullah bin Dinar mengatakan, “Saya melihat Abdullah bin Umar berdiri di dekat kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bershalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mendoakan Abu Bakr, dan Umar.” (HR. Malik dalam Al-Muwattha’ dan Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro).

Ketika setelah usai membaca qunut, disyariatkan diakhiri dengan membaca shalawat

Dari Abdullah bin Harits, beliau mengatakan,“Bahwa Abu Halimah, Muadz bin Harits, membaca shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika qunut.” (Fadhl As-Shalah ‘ala An-Nabi, Ismail bin Ishaq).

Ketika shalat Id

Shalawat ini dibaca di setiap takbir shalat id. Dari Alqamah, beliau mengatakan, Beberapa sahabat, diantaranya Ibnu Mas’ud, Abu Musa Al-Asy’ari, dan Hudzaifah didatangi oleh Al-Wald bin Uqbah (penguasa setempat ketika itu) sehari sebelum shalat hari raya. Al-Walid bertanya, “Hari id sudah dekat, bagaimana cara takbir di dalamnya.” Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Anda awali dengan takbiratul ihram sebagai pembuka shalat, anda puji Allah dan membaca shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian berdoa. Lalu bertakbir lagi, dan anda lakukan seperti di atas…dst” Hudzaifah dan Abu Musa menguatkan, “Ibnu Masud benar.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf).

Ketika meninggalkan majlis

Pada saat anda meninggalkan majlis perbincangan anda, bacalah shalawat. Dari Utsman bin Umar, beliau mengatakan, Aku mendengar Sufyan bin Said berkali-kali sampai tidak bisa kuhitung, setiap beliau hendak meninggalkan majlis, beliau membaca: “Semoga shalawat Allah dan para malaikatnya tercurah untuk Muhammad dan kepada para nabi Allah dan malaikatnya.”



Sumber: konsultasi syariah

Sabtu, 01 Oktober 2016

Kisah Nyata, Inilah Akibatnya Jika Anda Mendahului Gerakan Imam

shalat

Kadang ketika shalat, saya melihat orang yang mendahului gerakan imam, baik itu saat ruku', i'tidal, sujud, maupun ketika bangkit dari sujud. Melihat hal ini, saya jadi teringat akan sebuah kisah nyata tentang seorang Syaikh yang meremehkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang ancaman bagi orang yang mendahului gerakan imam dalam shalatnya.

Dikisahkan bahwa dahulu ada seorang Syaikh ahli hadits yang mengajarkan hadits-hadits di daerah Dimasyq. Dan Syaikh tersebut memiliki murid yang cukup banyak. Setiap kali Syaikh tersebut menyampaikan ilmu maka Syaikh membuat tabir atau penutup wajah antara dirinya dengan para murid sehingga selama mereka belajar di sana tidak pernah sekali pun mereka melihat wajah gurunya. Rasa penasaran para murid pun semakin menjadi, hingga salah seorang diantara mereka yang merupakan murid yang paling semangat dalam menuntut ilmu dan paling cerdas membuntuti Syaikh hingga sampai dirumahnya.

Baca juga : Kenikmatan Yang Akan Diperoleh Para Penghuni Surga Bag 1

Akhirnya, Syaikh pun mengetahui hal tersebut dan kemudian Syaikh bertanya kepada muridnya itu tentang maksud dan tujuannya melakukan hal tersebut.“Ya, Syaikh! Engkau adalah guru kami dan kami sangat menghormatimu. Kami telah belajar kepadamu beberapa lama akan tetapi kami tidak pernah sekali pun melihat wajahmu, engkau selalu menutupnya dari kami. Oleh karena itu, kami penasaran akan hal itu maka ijinkanlah kami untuk melihat wajahmu agar kami dapat mengenalimu jika bertemu dijalan sehingga kami dapat melakukan penghormatan kepadamu selayaknya penghormatan seorang murid kepada gurunya!”, Ucap Sang Murid berusaha menerangkan kepada Syaikh.

“Wahai, anakku! Sungguh, aku menutup wajahku dari kalian karena buruknya rupaku, tak pantas aku memperlihatkannya kepada kalian sedangkan kalian waktu itu dalam jumlah yang banyak. Namun, sekarang aku akan membuka tabir antara aku denganmu!”, jawab Syaikh sambil membuka penutup wajahnya. Ketika tabir itu tersingkap, betapa terkejutnya Sang Murid melihat wajah gurunya. Ia tak percaya dengan apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri, ia tertegun beberapa lama karenanya. Dari rona wajahnya tersirat rasa kaget, penasaran, dan juga pilu. Ia tak percaya, ia melihat wajah gurunya serupa dengan wajah seekor keledai, ya...seekor keledai. Melihat gelagat Sang Murid, Syaikh kemudian menjelaskan perihal mengapa hal itu bisa menimpa dirinya,

“Wahai, anakku! Aku dahulu adalah seorang yang meremehkan dan menghinakan sebuah hadits shohih, yaitu hadits yang berbunyi :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ أَوْ أَلَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ رَأْسَهُ

رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ

Artinya : Bersabda Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam : “Tidakkah salah seorang dari kamu takut atau hendaklah salah seorang dari kamu takut apabila mengangkat kepalanya mendahului imam bahwa Alloh akan mengubah kepalanya seperti kepala keledai (Himar) atau mengubah rupanya menjadi rupa keledai (Himar).” [HR. Bukhori (No.650) & Muslim (No.647)]

Hadits ini telah aku campakkan dengan mengatakan, “Hadits ini bohong! Tidak mungkin hanya karena mendahului imam maka kepalanya atau wajahnya akan diubah seperti kepala atau wajah keledai. Aku tidak percaya dengan hadits ini, Aku akan buktikan bahwa hadits ini bohong!”. Setelah berkata seperti itu, aku pun langsung mengamalkan apa yang aku ucapkan tersebut, aku sholat dibelakang imam dengan cara mendahului hampir seluruh gerakkannya. Seusai sholat, aku pun pulang ke rumah dan aku mendapati keluargaku berteriak histeris ketakutan melihatku, seolah-olah mereka telah melihat hal yang menyeramkan pada diriku. Saat itulah, aku tersadar bahwa wajahku telah berubah wujud menjadi wajah seekor keledai dan mulai saat itu pulalah aku bertobat dari perkataan dan perbuatanku tersebut. Oleh karena itu, hati-hatilah wahai anakku! Jangan sampai engkau mendahului imam...”

Sumber Kisah : Al Qoulul Mufid fi Adillatit Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushobiy menukil dari Al-Qoulul Mubin fi Akhthoo’il Mushollin, hal 252.

Menyambut Tahun Baru Islam Dan Amalan Sunnahnya

bulan muharram


Bulan Muharram telah tiba dan tahun islam pun telah berganti. Kita semua berharap di tahun yang baru ini hidup kita semakin baik, baik dari segi dunia maupun dari sisi akhiratnya. Di bulan Muharram ini adakah amalan khusus yang di perintahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam?

Jawabnya tentu ada, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim).

Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: “Saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih satu hari untuk puasa yang lebih beliau unggulkan dari pada yang lainnya kecuali puasa hari Asyura’, dan puasa bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Puasa 'Asyura’ (puasa 10 Muharram)

Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Dulu hari 'Asyura’ dijadikan orang yahudi sebagai hari raya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasalah kalian.” (HR. Al Bukhari).

Dari Abu Qatadah Al Anshari radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa 'Asyura’, kemudian beliau menjawab: “Puasa Asyura’ menjadi penebus dosa setahun yang telah lewat.” (HR. Muslim dan Ahmad).

Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau mengatakan: Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, sementara orang-orang yahudi berpuasa 'Asyura’. Mereka mengatakan: Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat: “Kalian lebih berhak terhadap Musa dari pada mereka (orang yahudi), karena itu berpuasalah.” (HR. Al Bukhari).

Puasa 'Asyura’ merupakan kewajiban puasa pertama dalam islam sebelum Ramadlan. Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan: Suatu ketika, di pagi hari 'Asyura’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang mendatangi salah satu kampung penduduk Madinah untuk menyampaikan pesan: “Siapa yang di pagi hari sudah makan maka hendaknya dia puasa sampai maghrib. Dan siapa yang sudah puasa, hendaknya dia lanjutkan puasanya.” Rubayyi’ mengatakan: Kemudian setelah itu kami puasa, dan kami mengajak anak-anak untuk berpuasa. Kami buatkan mereka mainan dari kain. Jika ada yang menangis meminta makanan, kami memberikan mainan itu. Begitu seterusnya sampai datang waktu berbuka. (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Setelah Allah wajibkan puasa Ramadlan, puasa Asyura’ menjadi puasa sunnah. 'Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan: Dulu hari 'Asyura’ dijadikan sebagai hari berpuasa orang Quraisy di masa jahiliyah. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melaksanakn puasa 'Asyura’ dan memerintahkan sahabat untuk berpuasa. Setelah Allah wajibkan puasa Ramadlan, beliau tinggalkan hari 'Asyura’. Siapa yang ingin puasa 'Asyura’ boleh puasa, siapa yang tidak ingin puasa 'Asyura’ boleh tidak puasa. (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Puasa Tasu’a (puasa 9 Muharram)

Dari Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma, beliau menceritakan: Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa Asyura’ dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. Kemudian ada sahabat yang berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang diagungkan orang yahudi dan nasrani. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahun depan, kita akan berpuasa di tanggal sembilan.” Namun, belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamsudah diwafatkan. (HR. Al Bukhari).

Adakah anjuran puasa tanggal 11 Bulan Muharram? 

Sebagian ulama berpendapat, dianjurkan melaksanakan puasa tanggal 11 Muharram, setelah puasa Asyura’. Pendapat ini berdasarkan hadis: “Puasalah hari Asyura’ dan jangan sama dengan model orang yahudi. Puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” (HR. Ahmad, Al Bazzar).

Hadis ini dihasankan oleh Syaikh Ahmad Syakir. Hadis ini juga dikuatkan hadis lain, yang diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra dengan lafadz: “Puasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.”

Dengan menggunakan kata hubung وَ (yang berarti “dan”) sementara hadis sebelumnya menggunakan kata hubung أَوْ (yang artinya “atau”). Al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan status hadis di atas:

Hadis ini diriwayatkan Ahmad dan al-Baihaqi dengan sanad dhaif, karena keadaan perawi Muhammad bin Abi Laila yang lemah. Akan tetapi dia tidak sendirian. Hadis ini memiliki jalur penguat dari Shaleh bin Abi Shaleh bin Hay. (Ittihaf al-Mahrah, hadis no. 2225) Demikian keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Munajed.

Sementara itu, ulama lain berpendapat bahwa puasa tanggal 11 tidak disyariatkan, karena hadis ini sanadnya dhaif. Sebagaimana keterangan Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam ta’liq musnad Ahmad. Hanya saja dianjurkan untuk melakukan puasa tiga hari, jika dia tidak bisa memastikan tanggal 1 Muharam, sebagai bentuk kehati-hatian.

Imam Ahmad mengatakan: Jika awal bulan Muharram tidak jelas maka sebaiknya puasa tiga hari: (tanggal 9, 10, dan 11 Muharram), Ibnu Sirrin menjelaskan demikian. Beliau mempraktekkan hal itu agar lebih yakin untuk mendapatkan puasa tanggal 9 dan 10. (Al Mughni, 3/174. Diambil dari Al Bida’ Al Hauliyah, hal. 52).

Disamping itu, melakukan puasa 3 hari, di tanggal 9, 10, dan 11 Muharram, masuk dalam cakupan hadits yang menganjurkan untuk memperbanyak puasa selama di bulan Muharram. Sebagaimana yang dinyatakan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim).

Ibnul Qayim menjelaskan bahwa puasa terkait hari Asyura ada tiga tingkatan: Tingkatan paling sempurna, puasa tiga hari. Sehari sebelum Asyura, hari Asyura, dan sehari setelahnya.Tingkatan kedua, puasa tanggal 9 dan tanggal 10 Muharram. Ini berdasarkan banyak hadis.Tingkatan ketiga, puasa tanggal 10 saja.(Zadul Ma’ad, 2/72).

Bolehkah puasa tanggal 10 saja?

Sebagian ulama berpendapat, puasa tanggal 10 saja hukumnya makruh. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berencana untuk puasa tanggal 9, di tahun berikutnya, dengan tujuan menyelisihi model puasa orang yahudi. Ini merupakan pendapat Syaikh Ibn Baz rahimahullah. Sementara itu, ulama yang lain berpendapat bahwa melakukan puasa tanggal 10 saja tidak makruh. Akan tetapi yang lebih baik, diiringi dengan puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, dalam rangka melaksanakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam majmu’ fatawa, Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya: Bolehkah puasa tanggal 10 Muharam saja, tanpa puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya. Mengingat ada sebagian orang yang mengatakan bahwa hukum makruh untuk puasa tanggal 10 muharram telah hilang, disebabkan pada saat ini, orang yahudi dan nasrani tidak lagi melakukan puasa tanggal 10.

Beliau menjawab: Makruhnya puasa pada tanggal 10 saja, bukanlah pendapat yang disepakati para ulama. Diantara mereka ada yang berpendapat tidak makruh melakukan puasa tanggal 10 saja, namun sebaiknya dia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. Dan puasa tanggal 9 lebih baik dari pada puasa tanggal 11. Maksudnya, yang lebih baik, dia berpuasa sehari sebelumnya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jika saya masih hidup tahun depan, saya akan puasa tanggal sembilan (muharram).” maksud beliau adalah puasa tanggal 9 dan 10 muharram…Pendapat yang lebih kuat, melaksanakan puasa tanggal 10 saja hukumnya tidak makruh. Akan tetapi yang lebih baik adalah diiringi puasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. (Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin, 20/42)

Jauhilah Empat Perkara Yang Membinasakan Bag 2

amal shaleh

2. 'UJUB DAN TERPEDAYA DENGAN AMAL-AMAL SHALIH

'Ujub (membangakan diri) dan terpedaya dengan amalan-amalan shahih akan membatalkan pahalanya. Pelakunya menyangka dia akan masuk surga hanya dengan amalnya saja. Seorang Muslim harus tahu bahwa dia mampu melaksanakan amalan-amalan shalih itu karena karunia dan taufiq Allah.

Baca juga : Masalah Jahiliyah ke-10: Menuduh Orang Yang Berpegang Pada Agama Dengan Kedangkalan Pemahaman

Jangan sampai dia terpedaya dengan banyak amalannya, karena dia tidak tahu, apakah amalannya akan diterima oleh Allah atau tidak? Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla hanya menerima amalan shalih dari orang-orang yang bertakwa sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa (QS. Al-Maidah : 27).

Baca : Masalah Jahiliyah ke 11 Dan 12: Mereka Bersandar Pada Qiyas Yang Batil Dan Mengingkari Qiyas Yang Shahih

Juga seorang Muslim harus tahu bahwa semua amalanamalan shalihnya tidak sebanding dengan satu nikmat dari nikmat-nikmat yang Allah anugerahkan kepadanya, seperti nikmat penglihatan.

Belum lagi, jika seseorang jujur melihat kenyataan, dia akan dapati banyak sekali para hamba Allah Azza wa Jalla yang lebih banyak amalannya dan pahalanya daripada dia. Lalu kenapa dia harus membanggakan amalannya?

Jumat, 30 September 2016

Jauhilah Empat Perkara Yang Membinasakan Bag 1

dosa

Sesungguhnya banyak sekali amal-amal shalih yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia yang memiliki pahala berlipat ganda. Akan tetapi selain itu, seorang hamba harus menjauhi segala perkara yang akan merusak amalannya. Jika tidak, maka amalannya akan sia-sia, dan dia tidak akan mendapatkan manfaatnya. Di antara perusak amal yang harus di jauhi adalah empat perkara berikut ini:

1. DOSA DAN KEMAKSIATAN

Dosa dan kemaksiatan, dua perkara yang paling banyak menggugurkan kebaikann dan memberatkan timbangan keburukan. Melakukan satu perbuatan dosa, seperti zina, atau melanggar larangan Allah Azza wa Jalla ketika sendirian, sudah cukup untuk menggugurkan kebaikankebaikan walaupun sebesar gunung. Di dalam sebuah hadits disebutkan:

Baca juga : Orang Yang Akan Bergembira Dengan Syafa'at Rasulullah

Dari Tsauban, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Beliau bersabda, "Aku benar-benar mengetahui rombongan-rombongan orang dari umatku, mereka akan datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikankebaikan sebesar gunung Tihamah yang berwarna putih, akan tetapi Allah Azza wa Jalla akan menjadikannya sebagai debu yang berhamburan".

Tsauban radhiyallahu ‘anhu berkata, "Wahai Rasulullah! Terangkan sifat mereka kepada kami! Terangkan keadaan mereka kepada kami, agar kami tidak termasuk golongan mereka padahal kami tidak mengetahui!" Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

"Sesungguhnya mereka itu adalah saudara-saudara kamu, dan dari kulit kamu, mereka mengisi sebagian malam sebagaimana kamu mengisi, namun mereka adalah rombongan-rombongan orang yang jika menyendiri, mereka melanggar perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah". (HR. Ibnu Majah, no. 4245; dishahihkan oleh syaikh al-Albani; syaikh Salim al-Hilali dan lainnya).

Oleh karena itu kewajiban kita untuk bertakwa kepada Allah dimana saja berada, baik ketika sendirian atau ketika bersama banyak orang. Begitulah yang diwasiatkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam haditsnya:

Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, "Bertaqwalah kepada Allah dimana saja engkau berada; Iringilah keburukan dengan perbuatan baik! Niscaya kebaikan itu akan menghapusnya; Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlaq yang baik". (1)

Bersambung...

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

1. HR. Ahmad, 5/153, 158, 177, 236; At-Tirmidzi, no. 1987; Ad-Darimi, 2/323; Al-Hakim, 1/54; At-Thabrani dalam Mu'jamul Kabir, 20/145, Mu'jamul Ausath, 4/125, Mu'jamus Shaghir, no. 350. Dimuat oleh Imam Nawawi dalam Arba'in, no. 18. Hadits dinilai sebagai hadits yang hasan oleh oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahihul Jami', no. 97

Senin, 26 September 2016

Kenikmatan Yang Akan Diperoleh Para Penghuni Surga Bag 2


Satu celupan saja dari kenikmatan surga akan melupakan kita pada semua kesusahan yang pernah di rasakan di dunia. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Pada hari kiamat akan didatangkan orang yang paling banyak kenikmatan di dunia di antara penghuni neraka. Lalu ia dicelupkan ke dalam neraka satu celupan, lalu ditanya: “Apakah engkau pernah melihat kebaikan dan merasakan kenikmatan?” Iapun menjawab: “Demi Allah tidak, wahai Tuhanku.” Dan akan didatangkan orang yang paling sengsara di dunia di antara penduduk surga. Lalu ia dicelupkan di surga satu celupan, lalu ditanya: “Apakah engkau pernah melihat kesengsaraan dan merasakan kesusahan?” Iapun menjawab: “Demi Allah tidak wahai Tuhanku, aku tidak pernah mengalami kesengsaraan dan tidak pernah melihat kesusahan sama sekali.” (HR. Muslim).

Yang disebut di atas hanyalah sebagian dari kenikmatan surga yang amat banyak. Mungkin sekarang anda sudah punya bayangan tentang indahnya surga. Ketahuilah bahwa semua bayangan anda itu salah. Surga jauh lebih nikmat dan indah dari apa yang bisa Anda bayangkan. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Allah berkata: Telah Aku siapkan untuk hamba-hambaKu yang saleh apaapa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah di dengar oleh telinga, dan tidak pernah terdetik di hati manusia." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Sekarang, tidakkah anda merindukan kenikmatan ini? Semua nikmat itu bisa kita raih, asal kita mau. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Semua umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, siapa sih yang enggan masuk surga? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: Barangsiapa yang mentaatiku akan masuk surga. Dan barang siapa yang bermaksiat kepadaku, maka ia telah
enggan. (HR. al-Bukhari).

Seseorang Masuk Surga Bukan Karena Amal Kebaikannya



Mereka juga bersaksi dan berkeyakinan bahwa seseorang tidak bisa dipastikan masuk surga (walaupun ia telah melakukan amalan-amalan yang baik [ibadahnya nampak ikhlas, dan ketaatannya demikian tinggi] dan jalan kehidupannya pantas untuk diteladani) kecuali jika di izinkan oleh Allah, sebagai keutamaan yang diberikan kepadanya. Maka dengan keutamaan dan karunia-Nya itu ia masuk surga.

Karena amal baik yang ia lakukan tidaklah dapat dilakukan dengan mudah kecuali karena kemudahan dari Allah. Jika Allah tidak memberi kemudahan niscaya ia tidak dapat melakukannya. Dan jika Allah tidak mengarunianya hidayah niscaya ia tidak mendapat hidayah selama-lamanya, meskipun ia telah berupaya keras.

Hal ini sebagaimana firman Allah ta'ala: "...Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki..."(QS. An-Nuur : 21).

Allah juga berfirman memberitakan tentang penduduk surga: "..Dan mereka berkata: "segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.." (QS. Al-A'raaf : 43).

Sumber : AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS Abu Isma'il Ash-Shabuni

Minggu, 25 September 2016

Hukum Orang Yang Meninggalkan Shalat Dengan Sengaja


Ulama Ahli Hadits berbeda pendapat mengenai orang yang meninggalkan shalat wajib dengan sengaja. Imam Ahmad dan banyak ulama salaf{36} menganggap kafir orang tersebut dan mengeluarkannya dari Islam, berdasarkan hadits shahih bahwasanya Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"Yang membatasi antara seorang hamba dan kemusyrikan adalah meninggalkan shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir."{37}

Sementara Imam Syafi'i, para sahabatnya dan banyak ulama salaf menganggap orang tersebut belum kafir, selama masih meyakini kewajiban shalat tersebut. Akan tetapi mereka berpendapat bahwa orang tersebut harus dibunuh, sebagaimana dibunuhnya orang-orang murtad. Mereka menafsirkan sabda Nabi shallallahu'alaihi wa sallam: "Barangsiapa yang meninggalkan shalat (dengan mengingkari kebajibannya) maka ia kafir". Hal itu sebagaimana firman Allah:

"..Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orangorang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka kafir (ingkar) kepada hari kemudian" (QS. Yusuf : 37).

Beliau (Yusuf) meninggalkan mereka bukan karena tindakan yang belum jelas kekufurannya, namun karena mereka mengingkari (Allah dan hari akhir).

Note :

36] Mereka diantaranya:Ishaq bin Rahawaih, Ibnul Mubarak, Ibrahim An-Nakha'i, Al-Hakam bin Utaibah, Ayyub As-Sakhtiyani, Abu Bakar bin Syaibah, Abu Khaitsamah, Zuhaeir bin Harab dan lainnya. Adapun dari kalangan Sahabat: Um ar bin Khatab, Mu'adz bin Jabal, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Jabir bin Abdullah, Abu Darda dan lainnya.

37] Dikeluarkan oleh Ibnu Nashar, Muslim, Ahmad dan lainnya.


Sumber : AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS Abu Isma'il Ash-Shabuni