Tampilkan postingan dengan label hari akhir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hari akhir. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 September 2016

Kenikmatan Yang Akan Diperoleh Para Penghuni Surga Bag 1


Allah Ta’ala telah menyiapkan surga sebagai tempat kembali hamba-hambaNya yang beriman dan beramal saleh. Banyak ayat al-Quran yang membahasnya. Demikian juga hadits-hadits yang shahih. Kita perlu mempelajarinya dan sering mengingatnya agar semakin rindu pada surga dan terus beramal. Penghuni surga akan mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan yang sempurna.

Allah berfirman, “Orang-orang yang baik sungguh berada dalam kenikmatan. Mereka di atas dipan-dipan sambil memandang. Engkau bisa mengetahui di wajah mereka kebahagiaan karena nikmat.” (QS. al-Muthaffifin : 22-24).

Mereka mendapatkan berbagai kemewahan disana. Nabi shallallahu'alaihi wasallam bersabda:

“Sisir-sisir mereka emas, keringat mereka minyak wangi misik, kayu wewangian mereka gaharu, isteri mereka bidadari, dan postur mereka sama, seperti kakek mereka Adam, enam puluh hasta.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Mereka akan dibebaskan dari semua kesulitan, termasuk meludah sekalipun, Rasulullah bersabda :

"Mereka tidak kencing, tidak berak, tidak meludah dan tidak keluar ingus." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Derajat terendah di surga melebihi kenikmatan para raja di dunia, bahkan melebihi dunia seisinya, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sungguh aku tahu penghuni neraka yang terakhir keluar darinya dan penghuni surga yang terakhir memasukinya; seorang yang keluar dari neraka dengan merangkak, maka Allah berkata kepadanya: Pergi dan masuklah surga! Ia mendatanginya dan melihatnya seolah-olah penuh. Iapun kembali dan berkata: Tuhanku, aku mendapatkannya telah penuh. Allah pun berkata kepadanya: Pergi dan masuklah surga! Ia mendatanginya dan melihatnya seolah-olah penuh. Iapun kembali dan dan
berkata: Tuhanku, aku mendapatkannya telah penuh. Allah berkata kepadanya: Pergi dan masuklah surga, sungguh kamu berhak mendapatkan seisi dunia dan sepuluh kali lipatnya. Ia pun bertanya:
Apakah Engkau mengejek atau menertawakanku – dan Engkaulah Sang Penguasa? Ibnu Mas'ud berkata: Sungguh saya melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tertawa sampai kelihatan gigi taring Beliau. Dan dikatakan bahwa itulah peghuni surga yang paling rendah kedudukannya.(HR. Bukhari dan Muslim).

Bersambung...

Seseorang Masuk Surga Bukan Karena Amal Kebaikannya



Mereka juga bersaksi dan berkeyakinan bahwa seseorang tidak bisa dipastikan masuk surga (walaupun ia telah melakukan amalan-amalan yang baik [ibadahnya nampak ikhlas, dan ketaatannya demikian tinggi] dan jalan kehidupannya pantas untuk diteladani) kecuali jika di izinkan oleh Allah, sebagai keutamaan yang diberikan kepadanya. Maka dengan keutamaan dan karunia-Nya itu ia masuk surga.

Karena amal baik yang ia lakukan tidaklah dapat dilakukan dengan mudah kecuali karena kemudahan dari Allah. Jika Allah tidak memberi kemudahan niscaya ia tidak dapat melakukannya. Dan jika Allah tidak mengarunianya hidayah niscaya ia tidak mendapat hidayah selama-lamanya, meskipun ia telah berupaya keras.

Hal ini sebagaimana firman Allah ta'ala: "...Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki..."(QS. An-Nuur : 21).

Allah juga berfirman memberitakan tentang penduduk surga: "..Dan mereka berkata: "segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.." (QS. Al-A'raaf : 43).

Sumber : AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS Abu Isma'il Ash-Shabuni

Sabtu, 24 September 2016

Orang Yang Akan Bergembira Dengan Syafa'at Rasulullah


Orang-orang yang berada dalam ilmu agama dan sunnah Rasul-Nya, meyakini adanya kebangkitan sesudah mati di hari kiamat, dan segala apa yang dikhabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam berupa suasana mencekam pada hari kiamat, beraneka ragam keadaan hamba dan makhluk ketika melihat dan menerima hasil perbuatannya. Bagaimana mereka menerima catatan amal apakah dengan tangan kanan atau tangan kiri, menjawab berbagai pertanyaan, serta kegoncangan yang dijanjikan Allah. Pada hari yang agung, dalam suasana yang mencekam dibentangan sirath, timbangan, catatan amal meskipun hanya sebutir dzarrah kebaikan dan lain sebagainya.

Orang-orang yang dalam ilmu agama dan sunnah rasul-Nya meyakini adanya syafa'at Nabi untuk para pelaku dosa besar dari kalangan ahlu tauhid, dan yang melakukan dosa-dosa besar dikalangan mereka, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

"Syafa'atku diberikan bagi pelaku dosa-dosa besar dari kalangan umatku." (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan lainnya, dikatakan oleh Tirmidzi hadits ini hasan shahih).

Abu Hurairah pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam:"Yaa Rasulullah, siapakah yang paling senang mendapat syafa'atmu pada hari kiamat?" Beliau menjawab:"Aku mengira tak seorangpun yang
menanyakan hal ini sebelum kamu, hal ini karena aku melihat kamu bersemangat dalam mencari hadits, 'Orang yang paling senang mendapat syafa'atku pada hari kiamat yaitu orang yang mengucapkan laila ha illallah dengan jujur dari sanubarinya" (HR. Bukhari, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Abi 'Ashim dan yang lainnya).

Ibnu Hajar mengomentari dalam Fathul Bari:"Ada yang dengan syafa'at itu tidak jadi dimasukkan ke neraka, ada yang menjadi masuk sorga tanpa hisab, ada yang derajat di surga dinaikkan."

Sumber : AQIDAH SALAF ASHHABUL HADITS Abu Isma'il Ash-Shabuni

Minggu, 18 September 2016

Apakah Nikmat Atau Adzab Kubur Itu Pada Badan Atau Ruh?




Seorang muslim wajib meyakini adanya nikmat atau adzab kubur, karena hal tersebut termasuk dalam kandungan beriman pada hari akhir. Ketika seorang  mayit ditanya oleh dua malaikat, kemudian dia berkata,“Saya tidak tahu”  maka dia akan dipukul dengan mirzabah dan di sana juga ada mayit yang menjawab dengan benar maka dibukakan pintu surga untuknya dan dilapangkan kuburnya.

Maka ini adalah nikmat atau adzab kubur, apakah hal ini ditimpakan kepada  badan atau pada ruh saja? Atau ruh bersama dengan badan?.

Kita  katakan:  Yang ma’ruf menurut Ahlussunnah wal Jama’ah bahwasanya  pada asalnya adzab itu ditimpakan atas ruh, sedangkan badan itu  sekedar mengikuti ruhnya saja. Sebagaimana adzab di dunia itu menimpa badan, dan ruhnya hanya mengikuti saja, sebagaimana hukum­hukum syar’iyyah di dunia  itu berlaku atas dzahirnya dan di akhirat itu sebaliknya.

Maka di alam kubur, adzab atau nikmat kubur itu terjadi kepada ruh akan  tetapi jasad itu terpengaruh dengannya dan mengikutinya, jadi tidak secara langsung. Dan terkadang adzab itu terjadi pada badan dan ruh itu mengikutinya, akan tetapi hal ini tidak terjadi kecuali jarang sekali.

Sesungguhnya pada asalnya adzab itu  terjadi pada ruhnya, dan badan sekedar  ikut. Demikian pula kenikmatan itu terjadi pada ruh dan badan cuma ikut saja. Al Qur’an dan As Sunnah telah menerangkan adanya nikmat dan adzab kubur, bahkan kita katakan ijma’ kaum muslimin. Diantara dalil adanya siksa dan nikmat kubur dalam Al Qur'an adalah :

“Keluarkanlah nyawa kalian! hari ini kalian akan dibalas dengan adzab yang menghinakan.”(QS. Al­An’am : 93).

“Orang­orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan bagus mereka (para malaikat) berkata : keselamatan atas kalian dan masuklah ke dalam surga.”(QS. An­Nahl : 32).

Adapun dalam As­Sunnah yang menjelaskan tentang adzab kubur dan  kenikmatannya itu mutawatir. Rasulullah bersabda,“Sesungguhnya kedua penghuni kubur ini sedang diadzab, dan tidaklah mereka diadzab karena perkara yang berat untuk mereka tinggalkan. Adapun yang pertama, dia dahulu selalu berbuat namimah (adu domba) dan adapun yang kedua adalah dahulu tidak menjaga dirinya dari kencingnya.” (HR. Al­Bukhari Muslim).

Adapun dalam ijma’ maka setiap muslim akan berkata dalam shalat mereka :
“Aku  berlindung  kepada Allah ta'ala dari Adzab jahannam dan dari adzab  kubur.” Jika memang adzab kubur itu tidak ada, maka tidaklah benar kalau berlindung kepada Allah ta'ala darinya, karena berarti berlindung dengan sesuatu yang tidak ada. Maka ini menunjukkan bahwa mereka itu beriman  dengan adzab kubur. Wallahu a'lam.