Minggu, 12 Februari 2017

Kisah Wanita Tukang Sisir Anak Putri Fir'aun


Dari Ibnu Abbas radhiyallahu'anhuma beliau berkata, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,"Ketika malam aku di isra' kan aku mencium aroma yang sangat wangi, aku bertanya,'wahai Jibril, wangi apa ini? Jibril menjawab,'Ini adalah wangi wanita tukang sisir anak perempuan Fir'aun dan anak-anaknya.' Aku bertanya,'Bagaimana bisa demikian?' Jibril menjawab,' Ketika menyisir rambut anak putri Fir'aun, tiba-tiba sisirnya jatuh dari tangannya, maka dia mengucapkan,'Bismillah'. Anak putri Fir'aun berkata,'Hai,dengan nama bapakku.' Wanita tukang sisir menjawab,'Tidak, akan tetapi Tuhanku dan Tuhanmu demikian juga Tuhan ayahmu adalah Allah'. Anak putri Fir'aun bertanya,'Kalau begitu kamu punya Tuhan selain ayahku?' Wanita tukang sisir itu menjawab,'Ya' Anak putri Fir'aun menjawab,'Akan aku laporkan pada ayahku.' Wanita tukang sisir menjawab,'Silahkan'.

Kemudian anak putri Fir'aun memberitahukan kejadian ini kepada ayahnya dan akhirnya Fir'aun memanggilnya. Fir'aun bertanya,'Wahai Fulanah, betulkah kamu mempunyai Tuhan selain aku?' Wanita tukang sisir menjawab,' Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.'

Maka Fir'aun memerintahkan untuk mempersiapkan periuk besar dari tembaga untuk dipanaskan. Kemudian satu persatu anak wanita tukang sisir itu mulai dilemparkan ke dalam periuk yang mendidih.

Beberapa saat kemudian, wanita tukang sisir mengajukan permohonan kepada Fir'aun, dengan berkata,' Ada satu permintaan dariku.' Fir'aun menjawab,' Apa permintaanmu?' Wanita tukang sisir menjawab,' Aku ingin tulang tubuhku dan tulang-tulang anak-anakku kelak dibungkus dalam satu kain untuk kemudian dikuburkan bersama.' Fir'aun menjawab,' Akan aku penuhi permintaanmu.'

Anak-anak tukang sisir itu masih terus dilemparkan kedalam periuk mendidih hingga yang terakhir tiba giliran anak yang masih menyusu. Pada saat itu wanita tukang sisir nampak ragu-ragu, tetapi tiba-tiba bayi yang masih menyusu itu berkata,' Wahai ibuku, ceburkan diri ibu ke dalam periuk yang mendidihitu, karena sesungguhnya siksa dunia ini jauh lebih ringan dibanding siksa akhirat."

(HR. Ahmad 3/309, ath-Thabrani dalam al-Mu'jam al Kabir dan Ibnu Hibban 2892)

Pelajaran yang dapat di petik :
1) Anjuran untuk tetap sabar dan teguh ketika muncul fitnah dan pada saat ditimpa cobaan.

2) Balasan itu sesuai dengan jenis amal yang dikerjakan.

3) Orang yang bersabar dalam memegang teguh agama dan tidak takut dicela orang niscaya memperoleh pahala dan ganjaran yang sangat besar.

4) Seorang muslim diperbolehkan mengajukan permintaan yang mengandung kebaikan sekalipun kepada musuh Allah, sebagaimana dalam kisah tukang sisir diatas.

5) Sesungguhnya Allah senantiasa memberi jalan keluar untuk para kekasih-Nya dari musibah yang menimpa.

6) Ketetapan karamah Allah yang diberikan bagi orang yang shalih dan shalihah.

7) Karamah termasuk kategori peristiwa langka dan luar biasa.

Kamis, 09 Februari 2017

Kisah Nabi Musa 'alaihissalam Dan Batu Yang Melarikan Bajunya

kisah nabi musa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

"Bani Israil biasa mandi dengan bertelanjang, satu sama lain saling melihat anggota badan temannya. Tetapi Nabi Musa 'alaihissalam mandi seorang diri. Mereka mengatakan,"Demi Allah! tidak ada yang menghalangi Musa mandi bersama-sama dengan kita kecuali karena buah p*l*rnya besar.'

Pada suatu kali Nabi Musa mandi, kainnya diletakkan diatas batu, lalu batu itu melarikan kain Nabi Musa dan beliau menyusulnya sambil berteriak,'Kainku! Kainku! Hai batu!'

Sehingga oleh karena itu, Bani Israil dapat melihat (aurat) Nabi Musa lantas berkata,'Demi Allah! Musa tidak berpenyakit apa-apa.'

Lalu Nabi Musa mengambil kainnya dan dipukulnya batu itu."

Abu Hurairah berkata,"Demi Allah pada batu itu terdapat enam atau tujuh bekas pukulan."

Dan turunlah ayat yang berkenaan dengan cerita ini,"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia orang yang mempunyai kedudukan di sisi Allah." (QS. Al Ahzab : 69).

(HR. Bukhari no. 278, dan Muslim no. 2372)

Pelajaran yang dapat dipetik :

1) Dalam keadaan darurat diperbolehkan telanjang, adapun dalam kondisi wajar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda kepada Mu'awiyah bin Al Hakam,' Jagalah auratmu kecuali terhadap istrimu dan budak-budak yang kamu miliki.'

2) Ketika darurat seperti pengobatan dan hal-hal lain semacamnya diperbolehkaan melihat aurat orang lain.

3) Diperbolehkan mandi telanjang jika seorang diri, dan yang lebih utama adalah memakai penutup.

4) Syari'at umat sebelum Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam jika bertentangan dengan syari'at Muhammad tidak menjadi syari'at Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

5) Para Nabi adalah manusia-manusia yang paling baik dari segi fisik dan akhlak.

6) Para Nabi sebagaimana manusia, mempunyai sifat-sifat yang manusiawi seperti marah dan memukul.

7) Hadits ini menerangkan keteguhan dan kesabaran para Nabi atas perilaku orang-orang bodoh dan gangguan mereka.

8) Keutamaan rasa malu, malu merupakan akhlak mulia dan sifat para Nabi.

Jumat, 03 Februari 2017

Gambaran Telaga Rasulullah Di Akhirat

Telaga Haudh

Sebagai seorang muslim kita harus meyakini bahwa Allah telah memberikan nikmat yang begitu besar kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam. Diantara nikmat tersebut adalah berupa sebuah telaga di akhirat kelak. Dan inilah salah satu keyakinan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah yang tertuang dalam Ushulus Sunnah-nya.

"Dan beriman dengan telaga dan bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam memiliki telaga pada hari kiamat yang akan di datangi oleh umatnya dimana luasnya sepanjang perjalanan sebulan dan bejana-bejananya sebanyak bintang-bintang di langit menurut riwayat-riwayat yang shahih dari beberapa jalan."

Salah satu riwayat yang menggambarkan telaga yang dimiliki Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat 'Abdullah bin 'Amr :

"Telagaku sepanjang perjalanan sebulan, dan tepi-tepinya sama. Airnya lebih putih daripada air susu, bau harumnya lebih wangi daripada minyak misik dan bejana-bejananya sebanyak bintang-bintang yang ada di langit. Barangsiapa yang minum darinya niscaya dia tidak akan dahaga selama-lamanya."

Sedangkan dalam hadits Abu Dzar secara marfu' :

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh bejana-bejana yang ada di telaga Nabi jumlahnya lebih banyak dari bintang-bintang yang ada di langit. Dan bintang-bintangnya sangat bersinar pada waktu malam yang sangat gelap, itulah bejana-bejana surga. Barangsiapa dari telaga tersebut, niscaya ia tidak akan dahaga (selamanya). Luasnya seperti panjangnya, yakni sejauh antara Amman dan Ailah. Airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu." (HR. Muslim :2300).

Lihat ta'liq terhadap Aqidah ath- Thahawiyyah hal.30 dan kitab Marwiyyaat ash-Shahaabah fil Haudhi wal Kautsar, karena telah disebutkan didalamnya hadits-hadits dari sekelompok sahabat yang jumlah mereka lebih dari 60 orang sahabat. Dan sekelompok para Imam telah menyatakan atas mutawatirnya hadits tersebut, diantaranya Imam an-Nawawi, Ibnu 'Abdil Bar, Al-Qurthubi, Ibnu Hajar dan banyak lagi selain mereka.

Itulah gambaran tentang telaga yang dimiliki oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, semoga kita termasuk orang-orang yang akan meminum air dari telaga tersebut.

Sabtu, 28 Januari 2017

Aneh, Mengaku Muslim Tapi Menghina Ajarannya

wanita bercadar

Dizaman keterasingan islam ini, saya sering mendengar sebagian kaum muslimin yang menghina wanita muslimah yang mengenakan jilbab yang lebar dan bercadar dengan sebutan ninja atau aliran sesat atau yang lain tanpa dasar ilmu. Padahal hal tersebut adalah bagian dari syariat Islam. Berikut ini akan saya bawakan riwayat-riwayatnya sebagai pembelaanku terhadap syariat islam dan saudariku muslimah yang terdzalimi.

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min:"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab : 59).

Al Imam Abu Ja’far Muhammad Ibnu Jarir Ath Thabriy, beliau rahimahullah berkata dalam tafsir ayat ini : Allah  mengatakan kepada Nabi-Nya Muhammad  : Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min:" janganlah kalian/wanita menyerupai budak dalam hal pakaiannya, jika mereka keluar rumah untuk keperluannya, mereka membuka rambut dan mukanya, tapi hendaklah mereka mengulurkan jilbab (jubah)nya keseluruh tubuh mereka agar tidak diganggu orang jahat jika dia tahu bahwa mereka itu wanita merdeka dengan gangguan perkataan “ kemudian ahli tafsir berbeda pendapat tentang cara mengulurkan yang diperintahkan Allah kepada mereka , sebagian mengatakan:

* Para wanita menutup muka dan kepalanya dan tidak menampakkan kecuali satu mata saja. Beliau menyebutkan orang yang mengatakannya : Telah memberitahukan kepada saya Ali, dia berkata Abu Shalih telah meberitahukan kepada kami, dia berkata Muawiyyah telah memberitahukan kepada saya dari Ali2 dari Ibnu Abbas ,firman-Nya,”Allah memerintahkan wanita wanita mukminat bila keluar dari rumah untuk suatu kebutuhan agar menutup wajah mereka dengan jilbab yang diulurkan dari atas kepalanya dan hanya menampakan satu mata mereka saja. ( Sanadnya hasan sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh Abdul Qadir Habibullah As Sindiy, lihat Raf’ul Junnah Amama Jilbabil Mar’ah Al Muslimah Fil Kitab Was Sunnah Hal :138, Atsar ini mempunyai syahid yang kuat dengan sanad yang shahih dari Ubaidah As Salmaniy).

* Ya’qub telah memberi tahu saya, dia berkata Ibnu ‘Ulayyah telah memberi kabar kami dari Ibnu Aun dari Muhammad dari Ubaidah dalam firman-Nya,”Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min:"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka" maka Ibnu Aun mengenakannya di depan kami, dia berkata : Dan Muhammad mengenakannya di depan kami, Muhammad berkata : Ubaidah mengenakannya di depan kami, Ibnu berkata : Dengan kain rida’nya, terus beliau menutupi kepalanya dengan kain itu, terus menutupi hidungnya dan mata yang kiri dan mengeluarkan mata kanannya, dan mengulurkan rida’nya dari atas sampai menjadikannya dekat dengan alisnya atau pada alisnya.

* Ya’qub telah memberi kabarku, berkata : Husyaim telah mengkabarkan kami, berkata : Hisyam telah mengkabarkan kami, dari Ibnu Sirin, berkata : saya bertanya kepada Ubaidah tentang firman-Nya,” Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min:"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka" berkata : Maka beliau memperaktekan dengan kainnya, beliau tutup kepala dan wajahnya dan hanya menampakan salah satu mata. (Sanadnya shahih lihat Raf’ul Junnah :139).

* Al Imam Al Faqih ‘Imaduddin Ibnu Muhammad Ath Thabari yang terkenal dengan julukan Ilkiya Al Harras (Wafat 504 H) rahimahullah berkata dalam tafsirnya : Firman-Nya Ta’ala,” Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anakanak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min:"Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka".  Jilbab adalah rida’(jubah), maka Dia memerintahkan mereka (wanita) supaya menutupi wajah dan kepala mereka, dan tidak mewajibkannya terhadap budak. (Tafsir Ilkiya Al Harras Ath Thabari 4/354).

Sebenarnya masih banyak riwayat-riwayat lain, namun saya rasa ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa wanita yang memakai kerudung yang lebar dan bercadar bukanlah aliran sesat sebagaimana tuduhan orang-orang.


Selasa, 17 Januari 2017

Apakah Anda Ingin Dihindarkan Dari Hukuman dan Adzab Akibat Dosa Anda ?

adzab neraka

Ketahuilah saudaraku bahwa seorang mukmin apabila melakukan kesalahan dan kemaksiatan maka ia akan dapat terhindar dari hukuman atau adzab akibat dari dosa yang dia lakukan tersebut dengan 10 sebab. Apa sajakah 10 sebab tersebut?

PERTAMA:
Dengan bertaubat dengan taubat yang sebenarnya, sehingga Allah Ta'ala menerima taubatnya, karena orang yang bertaubat dari dosanya seperti orang yang tidak memiliki dosa.

KEDUA:
Beristighfar (meminta Ampunan) kepada Allah Ta'ala, lalu Allah mengampuninya.

KETIGA:
Melakukan amal kebaikan, yang dengan amal kebaikan tersebut dapat menghapus kesalahan-kesalahannya, Allah Ta'ala telah berfirman bahwa sesungguhnya amal-amal kebaikan itu dapat menghapus kesalahan-kesalahan (dosa-dosa kecil).

KEEMPAT:
Ia mendapatkan doa dari orang-orang yang beriman, dan mendapatkan syafa'at dari mereka.

KELIMA:
Saudara-saudaranya dari orang-orang yang beriman menghadiahkan pahala amal shalih kepadanya..(berupa amal-amal shalih yang Allah ta'ala berikan kemanfaatan kepadanya, [seperti haji, umrah dan shadaqah berdasarkan dalil-dalil yang shahih, pen.])

KEENAM:
Mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

KETUJUH:
Allah ta'ala mengujinya di dunia dengan musibah pada dirinya, hartanya, anak-anaknya, kerabatnya dan orang-orang yang ia cintai.

KEDELAPAN:
Allah Ta'ala mengujinya di alam Barzah dengan fitnah kubur (pertanyaan2 munkar dan nakir), menyempitnya kuburannya maka dengan itu Allah hapus kesalahan-kesalahannya, sebagaiamna hal itu di sebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitabnya di awal-awal 'kitabul iman al-ausath'

KESEMBILAN:
Allah Ta'ala mengujinya dengan dahsatnya hari kiamat, dengan perkara yang dapat menjadi kaffarah (penebus dosa) baginya.

KESEPULUH:
Ia mendapatkan Rahmat dari Yang Maha Penyayang di antara para penyayang (yaitu Allah Ta'ala).

Maka barangsiapa yang tidak mendapatkan 10 perkara ini maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri, sebagaimana dalam hadits qudsi, yang artinya:"Hanyalah itu adalah amal-amal kalian yang Aku hitung untuk kalian kemudian Aku berikan kepadanya balasannya, barangsiapa yang mendapatkan kebaikan maka pujilah Allah, dan barangsiapa yang mendapati selain darinya maka
janganlah ia mencela kecuali kepada dirinya sendiri..." (HR. Muslim)..

 *Al-Mughni 'an Majalis as-Suu', hal: 136*

Senin, 16 Januari 2017

Larangan Bersikap Ghuluw Dalam Islam

melampaui batas

Secara bahasa, ghuluw berarti melampaui batas. Sedangkan Ghuluw dalam beragama berarti melampaui apa yang dikehendaki syari'at, baik dalam keyakinan maupun amalan. Ibnu Taimiyah dalam Al Iqtidha' 1/288 - 289 mengatakan,"Ghuluw berarti melampaui batas dengan menambah-nambah dalam memuji sesuatu atau mencelanya sehingga melampaui apa yang menjadi haknya."

Baca juga Nasib Ruh Manusia Setelah Di Kubur

Larangan bersikap Ghuluw terdapat dalam Al Qur'an, Allah berfirman yang artinya,"Katakanlah: "Wahai Ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu memperturutkan hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dan (karena) mereka telah menyesatkan banyak orang, dan merekapun tersesat dari jalan yang lurus." (Al Maidah: 99).

Dalam Jami'u Ahkami Al Qur'an, cetakan Daru Al Kutubi Al Mishriyyah 6/21. Imam Al Qurthubi menegaskan dengan ayat di atas, Allah mengharamkan sikap ghuluw. Sedangkan ghuluw itu sendiri adalah melampaui batas. Dia mencontohkan, bahwa di antara bentuk ghuluw seperti sikap ghuluwnya orang-orang Yahudi terhadap Maryam binti 'Imran yang sampai-sampai menuduhnya berzina. Sebaliknya juga sikap ghuluw-nya orang-orang Nashrani terhadap dia (Maryam) sehingga menganggapnya sebagai Tuhan.

Sedangkan larangan dalam hadits, dari Ibnu Abbas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,"Wahai manusia, waspadalah kamu sekalian terhadap ghuluw di dalam Islam. Sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kamu hanyalah sikap ghuluw dalam agama mereka." (HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya kitab Manasik Bab Qadru al Hashaa II/1008, An Nasa'i dalam Sunan-nya dalam kitab Manasik al Hajj bab Iltiqathu al Hashaa V/268, dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya 1/210, 247).

Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa sikap ghuluw itu bisa diperbuat dari perkara yang memang diperintahkan, bisa juga terjadi dalam perkara-perkara yang asalnya mubah. Menambah-nambah kepada apa yang diperintahkan Allah berarti ghuluw. Demikian juga melaksanakan yang mubah, apabila melampaui batas juga bisa menjadi ghuluw. (Majmu' Fatawa 3/259/262).

Syaikh Utsaimin ketika ditanya tentang bagaimana sebenarnya perwujudan sikap tengah yang menjadi ciri Ahlus Sunnah wal Jama'ah, beliau menyatakan," al Wasath (sikap tengah) dalam beragama, berarti seorang Muslim itu hendaknya tidak melampaui batasan yang dikehendaki Allah dan tidak juga melalaikan atau mengurangi batasan yang dikehendaki-Nya.

Sebagai penutup ingatlah nasehat Rasulullah, Beliau pernah bersabda,"Binasalah mereka yang bersikap tanatthu', binasalah mereka yang bersikap tanatthu', binasalah mereka yang bersikap tanatthu'." Imam Nawawi menyatakan, "Tanatthu' berarti melampaui batas." 

Minggu, 15 Januari 2017

Tata Cara Sujud Yang Sempurna

Secara umum, tata cara sujud yang benar telah disebutkan dalam hadis berikut:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota badan: Dahi –dan beliau berisyarat dengan menyentuhkan tangan ke hidung beliau–, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua kaki.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadis, tujuh anggota sujud dapat kita rinci:

a. Dahi dan mencakup hidung
b. Dua telapak tangan
c. Dua lutut
d. Dua ujung-ujung kaki.

Adapun bentuk sujud yang sempurna secara rinci dijelaskan sebagai berikut:

1. Menempelkan Dahi dan Hidung di Lantai
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menempelkan dahi dan hidungnya ke lantai…” (HR. Abu Daud, Turmudzi dan dishahihkan Al Albani dalam Sifat Shalat, Hal. 141)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak menempelkan hidungnya ke tanah, sebagaimana dia menempelkan dahinya ke tanah.” (HR. Ad Daruqutni dan At Thabrani dan dishahihkan Al Albani dalam Sifat Shalat, Hal. 142)

Hadis ini menunjukkan, menempelkan hidung ketika sujud hukumnya wajib.

2. Meletakkan Kedua Tangan di Lantai dan Sejajar dengan Pundak atau Telinga
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua tangannya (ketika sujud) sejajar dengan pundaknya.” (HR. Abu Daud, Turmudzi dan dishahihkan Al Albani dalam Sifat Shalat, Hal. 141)

Dan terkadang “Beliau  meletakkan tangannya sejajar dengan telinga.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i dengan sanad shahih sebagaimana disebutkan Al Albani dalam Sifat Shalat, Hal. 141)

3. Merapatkan Jari-jari Tangan dan Menghadapkannya ke Arah Kiblat
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merapatkan jari-jari tangan ketika sujud.” (HR. Ibn Khuzaimah dan Al Baihaqi dan dishahihkan Al Albani)

“Beliau menghadapkan jari-jarinya ke arah kiblat.” (HR. Al Baihaqi dengan sanad shahih, sebagaimana keterangan Syaikh Al Albani dalam Sifat Shalat)

Ibn Umar radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suka menghadapkan anggota tubuhnya ke arah kiblat ketika shalat. Sampai beliau menghadapkan jari jempolnya ke arah kiblat.” (HR. Ibn Sa’d dan dishaihkan Al Albani dalam Sifat Shalat, Hal. 142)

4. Mengangkat Kedua Lengan dan Membentangkan Keduanya Sehingga Jauh dari Lambung
“Beliau tidak meletakkan lengannya di lantai.” (HR. Al Bukhari dan Abu Daud)

“Beliau mengangkat kedua lengannya dan melebarkannya sehingga jauh dari lambungnya, sampai kelihatan ketiak beliau yang putih dari belakang.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

“Beliau melebarkan lengannya, sehingga anak kambing bisa lewat di bawah lengan beliau.” (HR. Muslim dan Abu ‘Awanah)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh dalam merenggangkan kedua lengannya kekita sujud, sampai ada sebagian sahabat yang mengatakan, “Sungguh kami merasa kasihan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau sangat keras ketika membentangkan kedua lengannya pada saat sujud.” (HR. Abu Daud dan Ibn Majah dengan sanad hasan sebagaimana keterangan Syaikh Al Albani dalam Sifat Shalat)

Catatan:
Membentangkan kedua lengan ketika sujud dianjurkan jika tidak mengganggu orang lain yang berada di sampingnya. Jika mengganggu orang lain, misalnya ketika shalat berjamaah, maka tidak boleh membentangkan tangan, namun tetap harus mengangkat siku agar tidak menempel dengan lantai. Karena menempelkan siku ketika sujud termasuk tata cara sujud yang dilarang.

5. Menempelkan Kedua Lutut di Lantai
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota badan:….salah satunya bertumpu pada kedua lutut.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Catatan:
Kedua lutut dirapatkan ataukah direnggangkan?

Tidak terdapat keterangan tentang masalah ini. Oleh karena itu, posisi lutut ketika sujud sebaiknya di sesuaikan dengan kondisi yang paling nyaman menurut orang yang shalat. Jika dia merasa nyaman dengan merenggangkan lutut, maka sebaiknya direnggangkan dan sebaliknya, jika dia merasa nyaman dengan kondisi dirapatkan kedua lututnya, maka sebaiknya dirapatkan.

Syaikh Ibn Al Utsaimin mengatakan, “Hukum asal (gerakan shalat) adalah meletakkan anggota badan sesuai dengan kondisi asli tubuh sampai ada dalil yang menyelisihinya.” (Asy Syarhul Mumthi’, 1:574)

6. Bersikap I’tidal Ketika Sujud
Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin menjelaskan bahwa yang dimaksud “i’tidal ketika sujud” adalah merenggangkan antara betis dengan paha, dan meregangkan antara perut dengan paha, masing-masing kurang lebih 90 derajat. Namun tidak boleh berlebihan ketika meregangkan betis dengan paha, sehingga lebih dari 90 derajat.(Asy Syarhul Mumthi’, 1:579)

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “Bersikaplah I’tidal ketika sujud.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Humaid radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan tata cara shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: …Ketika beliau sujud, beliau renggangkan kedua pahanya, tanpa sedikit pun menyentuhkan paha dengan perut beliau. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh As Syaukani dalam Nailul Authar)

As Syaukani mengatakan: Hadis ini dalil dianjurkannya meregangkan kedua paha ketika sujud dan mengangkat perut sehingga tidak menyentuh paha. Dan tidak ada perselisihan ulama tentang anjuran ini. (Nailul Authar, 2:286)

7. Meletakkan Ujung-ujung Kaki dan Ditekuk Sehingga Ujung-ujungnya Menghadap Kiblat
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan dua lututnya dan ujung kedua kakinya di tanah.” (HR. Al Baihaqi dengan sanad shahih, dinyatakan shahih oleh Al Hakim dan dishahihkan Al Albani)

“Beliau menegakkan kedua telapak kakinya.” (HR. Al Baihaqi dengan sanad shahih dan dishahihkan Al Albani) Dan “Beliau memerintahkan (umatnya) untuk melakukannya.” (HR. At Turmudzi, Al Hakim dan dishahihkan Al Albani)

“Beliau menghadapkan punggung kakinya dan ujung-ujung jari kaki ke arah kiblat.” (HR. Al Bukhari dan Abu Daud)

8. Merapatkan Tumit
“Beliau merapatkan kedua tumitnya (ketika sujud).” (HR. At Thahawi dan Ibn Khuzaimah dan dishahihkan Al Albani)

9. Melaksanakan Gerakan Sujud Sebagaimana di Atas dengan Sungguh-sungguh
Karena demikianlah sunnah yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Agar shalat kita bisa sempurna maka sunnah yang mulia ini harus kita jaga.

Jumat, 09 Desember 2016

Urutan Umat Yang Terbaik Dalam Islam



Kita semua tahu bahwa sebaik-baik umat setelah Nabi-Nya adalah Abu bakar As Shidiq, kemudian Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, kita mengutamakan tiga shahabat ini sebagaimana Rasulullah mengutamakan mereka, para shahabat tidak berselisih dalam masalah ini, kemudian setelah tiga orang ini orang yang paling utama adalah ashabus syura (Ali bin Abi Thalib, Zubair, Abdur Rahman bin Auf, Sa’ad dan [Thalhah]*) seluruhnya berhak untuk menjadi khalifah dan imam.

Dalam hal ini kita berpegang dengan hadits Ibnu Umar:
“Kami menganggap ketika Rasulullah masih hidup dan para sahabatnya masih banyak yang hidup, bahwa sahabat yang terbaik adalah: Abu Bakar, Umar dan Utsman kemudian kita diam (tidak menentukan orang keempat)”

Kemudian setelah ashabus syura orang yang paling utama adalah orang yang ikut perang badar dari kalangan Muhajirin kemudian dari kalangan Anshar sesuai dengan urutan hijrah mereka, yang lebih dulu hijrah lebih utama dari yang belakangan, kemudian manusia yang paling utama setelah para sahabat adalah generasi yang beliau diutus kepada mereka. Dan semua orang pernah bersahabat dengan beliau selama satu tahun, satu bulan, satu hari atau satu jam, siapa yang pernah melihat Rasulullah maka dia termasuk sahabat Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.

Dia mempunyai keutamaan sesuai dengan lamanya dia bersahabat dengan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, dia lebih dulu masuk Islam bersama Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, mendengar dan melihatnya (merupakan satu keutamaan baginya – pent).

Orang yang paling rendah persahabatannya dengan Rasulullah tetap lebih utama dari pada generasi yang tidak pernah melihatnya, walaupun mereka bertemu dengan Allah dengan membawa seluruh amalannya.

Mereka yang telah bersahabat dengan Nabi shallallahu'alaihi wasallam telah melihat
dan mendengar beliau lebih utama (karena persahabatan mereka) dari kalangan Tabi’in
walaupun mereka (Tabi’in) telah beramal dengan semua amal kebaikan.

Kamis, 08 Desember 2016

Nasib Ruh Manusia Setelah Di Kubur



Renungilah hadits Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam berikut, hadits yang cukup panjang, maka bacalah dengan tidak terburu-buru, dan renungilah, semoga Alloh Subhanahu wa ta’ala memahamkan kita pada agama-Nya.

Dari Al Barro’ bin ‘Azib, dia berkata: “Kami pernah pergi bersama Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam mengiringi jenazah salah seorang dari kaum Anshor. Kami pun sampai di kuburan. Setelah jenazahnya dimasukkan ke liang lahat, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam duduk (dengan menghadap kiblat) dan kami ikut duduk di sekeliling beliau dalam suasana yang sangat hening dan mencekam. Seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Di tangan beliau terdapat tongkat yang beliau hentakkan ke tanah. (Kemudian, beliau melihat ke langit dan ke bumi. Beliau juga mengangkat dan menurunkan pandangannya sebanyak tiga kali).

Selanjutnya, beliau bersabda: “Mohonlah perlindungan kepada Alloh dari adzab kubur’, sebanyak dua atau tiga kali. (Beliau pun berdo’a: ‘Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur’) (tiga kali). Setelah itu, beliau bersabda: ‘Sesungguhnya seorang hamba yang beriman jika akan terputus dari kehidupan dunia menuju ke alam akhirat, maka akan turun kepadanya para Malaikat dari langit yang berwajah putih, seolah-olah wajah mereka itu matahari, dengan membawa salah satu dari kafan dan wewangian surga hingga mereka duduk dengan jarak sejauh pandangan.

Selanjutnya, Malaikat maut mendatanginya hingga duduk di dekat kepalanya seraya berkata: ‘Wahai jiwa yang baik (di dalam sebuah riwayat disebutkan: ‘jiwa yang tenang’), keluarlah menuju ampunan dari Alloh dan keridhoan-Nya.’” “Beliau berkata: ‘Maka keluarlah jiwa itu menetes seperti tetesan air yang keluar dari mulut bejana. Kemudian, dia mengambilnya. (Dalam sebuah riwayat disebutkan: ‘Hingga apabila ruhnya keluar, maka setiap Malaikat di antara langit dan bumi memohonkan rahmat untuknya, juga setiap Malaikat yang ada dilangit. Setelah itu, dibukakan baginya pintu-pintu langit. Tidak ada satu pun penghuni pintu itu, melainkan mereka berdo’a kepada Alloh agar ruhnya dinaikkan melalui mereka’). Ketika sudah mengambil ruh itu, mereka tidak akan membiarkannya di tangannya walaupun sekejap mata hingga mereka segera membungkusnya di dalam kafan tersebut dan juga dalam baluran wewangian tadi. (Demikianlah firman Alloh ta’ala: ‘Ia diwafatkan oleh Malaikat-malaikat Kami, dan Malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya’ (QS. Al
An’am : 61).

Maka darinya keluar aroma yang sangat wangi, lebih wangi dari minyak kesturi yang terdapat di muka bumi.” Beliau melanjutkan: “Sesudah itu, ruhnya dibawa naik. Mereka tidak berjalan melewati –yakni, sekumpulan Malaikat, melainkan mereka berkata: ‘Ruh siapa yang wangi ini?’ Mereka menjawab: ‘Fulan bin Fulan.’ –dengan sebutan nama paling baik yang dengannya dulu di dunia mereka memanggilnya hingga akhirnya mereka sampai di langit dunia. Selanjutnya, para Malaikat itu meminta dibukakan pintu untuknya, maka dibukakan pintu bagi mereka. Di setiap langit dia diiringi oleh para Malaikat yang terdekat (kepada Alloh) sampai ke langit berikutnya hingga akhirnya sampai di langit ketujuh. Kemudian, Alloh Azza wa Jalla berfirman: ‘Tuliskan kitab catatan hamba-Ku ini di ‘Illiyin: ‘Tahukah kamu apakah ‘Illiyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh Malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Alloh).’ Maka dituliskan kitabnya di ‘Illiyin. Setelah itu, dikatakan): ‘Kembalikanlah ia ke bumi karena sesungguhnya (Aku mtelah menjanjikan bahwa darinya Aku telah menciptakan mereka dan kepadanya Aku akan mengembalikan mereka, serta darinya Aku akan keluarkan mereka pada kesempatan yang lain.’”

Dikatakan lebih lanjut: “Maka (dikembalikan lagi ke bumi dan) ruhnya pun dikembalikan ke jasadnya. (Beliau berkata: ‘Sesungguhnya dia mendengar suara sandal sahabat-sahabatnya jika mereka pulang meninggalkannya’). Sesudah itu dia didatangi oleh dua Malaikat (yang kasar lagi keras), (lalu keduanya menggertaknya dan) mendudukkannya seraya bertanya kepadanya: ‘Siapa Robbmu?’ Dia menjawab: ‘Robbku adalah Alloh.’ ‘Apa agamamu?’ tanya kedua Malaikat itu. Dia menjawab: ‘Islam agamaku.’ Keduanya pun bertanya lagi:
‘Siapakah orang ini yang telah diutus ke tengah-tengah kalian?’ Dia menjawab: ‘Dia adalah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam.’ Lebih lanjut, keduanya bertanya: ‘Apa amalmu?’ Dia menjawab: ‘Aku telah membaca kitab Alloh. Aku juga beriman kepada-Nya serta membenarkannya.’ Malaikat itu pun menggertak seraya bertanya: ‘Siapa Robbmu, apa agamamu, dan siapa Nabimu?’ Yang demikian itu merupakan ujian terakhir yang diberikan kepada orang mukmin.

Hal ini berlangsung ketika Alloh Azza wa Jalla berfirman: ‘Alloh meneguhkan (iman)
orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia.’ (QS. Ibrohim : 27). Maka dia pun menjawab: ‘Alloh Robbku, Islam agamaku, Muhammad Sholallohu ‘alaihi wa sallam Nabiku.’ Kemudian ada penyeru yang berseru di langit: ‘Hamba-Ku benar, hamparkan permadani dari Surga untuknya, pakaikanlah pakaian dari surga kepadanya, serta bukakanlah pintu untuknya menuju ke surga.’”

Lebih lanjut, Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setelah itu, didatangkan baginya wewangian dari surga dan dilapangkan pula kuburan untuknya sejauh jarak pandang matanya.” Dia juga menceritakan: “Dia didatangi (dalam sebuah riwayat disebutkan: ‘Yang diserupakan dalam bentuk) seorang laki-laki yang berpakaian bagus dan mempunyai bau yang sangat wangi. Orang itu pun berkata: ‘Sampaikan berita gembira akan datangnya apa yang membuatmu bahagia. (Terimalah kabar gembira berupa keridhoan dari Alloh dan surga-surga yang di dalamnya terdapat kenikmatan yang abadi). Inilah harimu yang dulu pernah dijanjikan kepadamu.’ Selanjutnya, dia bertanya kepada orang itu: ‘Mudah-mudahan engkau diberikan kabar gembira dalam bentuk kebaikan.

Siapakah engkau ini? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan membawa kebaikan.’ Maka orang itu menjawab: ‘Aku ini adalah amal sholihmu. (Demi Alloh, aku tidak mengetahui dirimu, melainkan engkau dengan cepat berusaha berbuat taat kepada Alloh, lamban dalam melakukan kemaksiatan, maka Alloh membalasmu dengan kebaikan.’) Kemudian, dikatakan: ‘Ini kedudukanmu jika engkau medurhakai Alloh, tetapi Alloh menggantinya dengan yang ini.’ Ketika dia melihat apa yang terdapat di dalam surga, dia pun berkata: ‘Wahai Robbku, segerakanlah hari kiamat agar aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku.’ (Maka dikatakan kepadanya: ‘Tetaplah di tempatmu.’)”

Lebih lanjut, Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesunguhnya seorang hamba kafir (dalam sebuah riwayat disebutkan: ‘orang yang berbuat keji’) jika akan berpisah dari kehidupan dunia menuju ke alam akhirat, maka akan turun dari langit malaikat-malaikat yang (kasar lagi seram) dengan wajah yang berwarna hitam dengan membawa kain bulu yang kasar (terbuat dari api) dari langit. Mereka duduk di dekatnya dalam jarak sejauh pandangan mata. Kemudian, Malaikat maut mendatanginya hingga duduk di dekat kepalanya. Selanjutnya, Malaikat itu berkata: ‘Wahai, jiwa yang busuk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan Alloh.’” Rosululloh bersabda: “Maka ruh yanga ada di dalam jasadnya itu berpisah dengan dicabut seperti dicabutnya tusukan daging (yang banyak geriginya) dari bulu-bulu yang basah. (Bersamaan dengan itu, maka terputus pula urat dan syaraf-syarafnya). (Setiap Malaikat yang ada di antara langit dan bumi melaknatnya, juga setiap-setiap Malaikat yang ada di langit, dan ditutup semua pintu langit. Tidak ada satu penghuni pintu itu, melainkan mereka berdo’a kepada Alloh agar ruhnya tidak dinaikkan melalui mereka). Setelah itu, Malaikat maut mengambilnya dan jika sudah mengambilnya, maka mereka tidak akan membiarkannya berada di tangannya walau sekejap mata pun hingga mereka menempatkannya di dalam kain kasar tesebut. Darinya keluar bau yang sangat busuk, lebih busuk dari bau bangkai yang terdapat di muka bumi.

Sesudah itu, mereka membawanya naik. Mereka tidak melewati sekumpulan Malaikat, melainkan para Malaikat itu bertanya: ‘Ruh siapa yang sangat buruk ini?’ Mereka pun menjawab: ‘Fulan bin Fulan –dengan sebutan nama yang paling buruk yang pernah diberikan di dunia ini- hingga akhirnya sampai di langit dunia. Kemudian, mereka meminta agar dibukakan pintu untuknya, tetapi tidak akan dibukakan pintu untuknya.” Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam membaca: “Sekali-kali tidak dibukakan bagi mereka pintupintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.” (QS. Al A’rof : 4).

Maka Alloh Azza wa Jalla berfirman: “Tuliskanlah kitabnya di Sijjin, di lapisan tanah paling bawah. (Setelah itu, dikatakan: ‘Kembalikan hamba-Ku itu ke bumi karena sesungguhnya Aku menjanjikan kepada mereka bahwa Aku telah menciptakan mereka darinya (tanah, kepadanya Aku akan mengembalikannya, dan darinya pula Aku akan mengeluarkan mereka pada kesempatan yang lain.” Kemudian, ruhnya dilemparkan (dari langit) sekali lemparan (sehingga mengenai jasadnya). Setelah itu, beliau membaca ayat: “Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Alloh, maka adalah ia seolaholah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al Hajj : 31).

Selanjutnya, ruhnya dikembalikan ke jasadnya. (Beliau bersabda: “Sesungguhnya dia mendengar suara sandal sahabat-sahabatnya jika mereka pulang meninggalkan dirinya.”) Sesudah itu, dia didatangi oleh dua Malaikat (yang kasar lagi keras). (Keduanya pun menggertaknya lalu) mendudukkannya seraya bertanya: “Siapa Robbmu?” (Dia menjawab: “E...e..., tidak tahu.” Kedua Malaikat itu bertanya lagi: “Apa agamamu?” Dia menjawab: “E...e...tidak tahu.”). “Bagaimana menurutmu tentang siapakah orang yang telah diutus kepada kalian?,” tanya keduanya juga. Kemudian, dikatakan: “Muhammad.” Dia menjawab: “E...e...tidak tahu. (Aku mendengar orang-orang mengatakan demikian.” Beliau bercerita, lalu dikatakan: “Kamu tidak tahu dan tidak juga mau membaca.”).

Selanjutnya, ada penyeru yang berseru dari langit: “Dia itu bohong. Oleh karena itu,
hamparkanlah untuknya alas dari neraka, bukakan juga untuknya pintu menuju neraka. Maka didatangkan untuknya panas dan racun neraka dan disempitkan pula baginya kuburannya sehingga semua tulang-tulangya remuk. Setelah itu, dia didatangi (dalam sebuah riwayat: ‘Diserupakan untuknya) seseorang yang berwajah sangat buruk, berpakaian jelek, lagi berbau busuk. Orang itu pun berkata: “Terimalah berita yang akan membuatmu sengsara. Inilah hari yang dulu pernah dijanjikan kepadamu.” Dia berkata: (“Kamu sendiri, semoga Alloh memberimu berita keburukan,) siapa kamu ini? Wajahmu seperti wajah orang yang datang dengan membawa keburukan.” Dia menjawab: “Aku adalah amal burukmu. (Demi Alloh, aku tidak mengetahuimu, melainkan engkau benar-benar sangat lamban mentaati Alloh, tetapi justru sangat cepat mendurhakai-Nya). (Semoga Alloh membalas keburukan kepadamu.” Kemudian, ditetapkan baginya kebutaan, ketulian, dan kebisuan, sementara di tangannya terdapat sebatang besi yang jika dipukulkan ke gunung, niscaya gunung itu akan menjadi debu.

Maka Malaikat memukulnya sekali pukulan sehingga dia benar-benar menjadi debu. Setelah itu, Alloh mengembalikannya seperti semula. Selanjutnya, dia dipukul sekali pukulan sehingga dia berteriak keras yang didengar oleh segala sesuatu, kecuali jin dan manusia. Sesudah itu, dibukakan baginya pintu neraka serta dihamparkan pula untuknya lantai dari neraka.)” Maka dia berkata: “Wahai Robbku, janganlah Engkau adakan kiamat.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Al Hakim, Ath Thayalisi, dan Ahmad. Juga oleh An Nasa’i dan Ibnu Majah.

Minggu, 04 Desember 2016

Orang Quraisy Meyakini Allah Sebagai Rabb, Namun Kenapa Rasulullah Perangi Mereka?

perang

Tauhid adalah mengesakan Allah subhanahu wa ta'ala dalam beribadah. Tauhid adalah agama para rasul yang karenanya mereka diutus ke segenap hamba-Nya. Rasul yang pertama adalah Nuh 'alaihis salam. Allah mengutus Nuh kepada kaumnya tatkala mereka berlebih-lebihan kepada orang-orang shaleh mereka seperti: Wadd, Suwa', Ya'uq, Yaghuts, Nasr.

Adapun rasul terakhir adalah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliaulah yang menghancurkan patung-patung orang-orang shaleh tersebut. Allah mengutusnya kepada kaum yang sudah terbiasa beribadah, menunaikan haji, bersedekah, serta banyak berdzikir kepada Allah, tetapi mereka menjadikan sebagian makhluk sebagai perantara antara mereka dengan Allah. Mereka berdalih, kami ingin agar mereka lebih mendekatkan kami kepada Allah, kami ingin syafa'at mereka di sisi Allah.

Sedang para perantara itu terdiri dari para malaikat, Isa bin Maryam dan orang-orang shaleh lainnya. Maka Allah mengutus kepada mereka Muhammad shallallahu wa'alaihi wa sallam agar memperbaharui agama bapak mereka, Ibrahim 'alaihis salam, serta mengkhabarkan bahwa taqarrub dan keyakinan itu hanya hak Allah semata. Keduanya tidak patut diberikan kepada yang lain, meskipun sedikit, baik kepada malaikat, nabi yang diutus, apa lagi kepada selain mereka.

Jika tidak, maka sesungguhnya orang-orang musyrik pun mengakui dan bersaksi bahwasanya Allah adalah Maha Pencipta dan Maha Pemberi rizki, tiada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang memberi rizki kecuali Dia, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan kecuali Dia, dan tidak ada yang mengurusi segala perkara kecuali Dia.

Orang-orang musyrikin juga mengakui dan bersaksi bahwa seluruh langit yang tujuh berikut isinya dan segenap bumi berikut isinya adalah hamba-hamba-Nya serta berada di bawah aturan dan kekuasaan-Nya.

Jka Anda menginginkan dalil bahwa orang-orang musyrik yang diperangi Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam itu bersaksi demikian, maka bacalah firman Allah:

"Katakanlah: 'Siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab:'Allah'. Maka katakanlah:'Mengapa kamu tidak bertakwa [kepada-Nya]." (QS. Yunus : 31).

Allah juga berfirman,"Katakanlah:'Kepunyaan siapa bumi ini dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?' Mereka menjawab: 'Kepunyaan Allah'. Katakanlah: 'Maka apakah kamu tidak ingat?' Katakanlah:'Siapa yang mempunyai langit yang 7 dan yang mempunyai 'Arsy yang besar?' Mereka menjawab: 'Kepunyaan Allah'. Katakanlah:'Mengapa kamu tidak bertakwa?' Katakanlah:'Siapa yang ditangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari [adzab] Nya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab:'Kepunyaan Allah'. Katakanlah: '[Kalau demikian], maka dari jalan mana kamu ditipu?" (QS. Al-Mu'minun : 84-89).

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain. Walaupun orang-orang musyrik mengakui hal tersebut yakni tauhid rububiyah, tetapi tidak menjadikan mereka sebagai ahli tauhid, yang tauhid [uluhiyah] inilah yang merupakan tujuan dakwah Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam kepada mereka. Dan tauhid yang mereka ingkari itu adalah tauhid ibadah atau disebut juga uluhiyah yang oleh orang-orang musyrik pada zaman dulu mereka namakan sebagai "al-i'tiqad".

Kamis, 01 Desember 2016

Tingkatan Derajat Manusia Dalam Islam

tingkatan manusia

Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan bertauhid kepada-Nya, tunduk kepada-Nya dengan menjalankan ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya. Islam terdiri dari tiga tingkatan, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Masing-masing tingkatan memiliki rukun-rukun.

Tingkatan pertama: Islam

Rukun Islam ada lima, yaitu: bersyahadat la ilaha illallah Muhammad rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, menjalankan puasa ramadhan, dan menunaikkan haji ke baitullah. Dalil syahadat adalah firman Allah ta’ala:
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran : 18).

Dalil tentang syahadat Muhammad rasulullah adalah firman Allah ta’ala:
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah : 128).

Dalil tentang shalat dan zakat adalah firman Allah ta’ala:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah : 5).

Dalil tentang puasa adalah firman Allah ta’ala:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah : 183).

Dalil tentang haji adalah firman Alloh ta’ala:
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang
yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran : 97).

Tingktan kedua: Iman

Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang iman yang tertinggi adalah mengucapkan la ilaha illallah. Sedangkan cabang iman yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Malu adalah salah satu cabang dalam iman.

Rukun iman ada enam: beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para Rasul-Nya, hari akhir, dan kepada takdir baik dan buruk. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi.” (QS Al Baqarah : 177).

Dalil tentang beriman kepada takdir yang baik dan buruk adalah firman Allah ta’ala:
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan takdir.” (QS. Al Qamar : 49).

Tingkatan ketiga: Ihsan

Ihsan merupakan rukun tersendiri. Makna ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang
yang berbuat baik.” (QS. An Nahl : 128).

Dalil dari hadits Nabi adalah hadits Jibril yang terkenal. Hadits itu diriwayatkan dari Umar Radhiyallahu’anhu, dia mengatakan:

“Pada suatu hari ketika kami duduk dekat aosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh, dan tidak seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Lalu ia duduk di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia merapatkan lututnya pada lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas pahanya sendiri, seraya bertanya:

“Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam!” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Ilah yang berhak disembah dengan benar selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.”

Orang itu berkata, “Engkau benar”. Maka kami pun heran, dia yang bertanya kenapa dia pula yang membenarkannya. Maka orang itu bertanya lagi, “Beritahukan kepadaku tentang Iman” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan-Nya (Rasul), kepada hari kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Orang tadi berkata, “Engkau benar”.

Orang itu bertanya lagi, “Beritahukan kepadaku tentang Ihsan” Nabi menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihatnya, maka sesungguhnya Dia pasti melihatmu.”

Orang itu bertanya lagi, “Beritahukan kepadaku tentang kiamat” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Orang yang ditanya tentang itu tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Selanjutnya orang itu bertanya lagi, “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya”

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,“Jika hamba perempuan telah melahirkan majikannya, dan engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, miskin, dan penggembala kambing saling berlomba-lomba mendirikan bangunan.”

Umar berkata “Kemudian orang tersebut beranjak pergi, sedangkan aku terdiam cukup lama. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku”, “Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?” Saya menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui” Rasulullah berkata, “Dia adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian.” (HR. Muslim).

Ternyata Kesyirikan di Zaman Kita Lebih Parah Dari Zaman Rasulullah

syirik

Sesungguhnya kaum musyrikin di zaman kita lebih parah kesyirikannya dibandingkan kesyirikan kaum musyrikin zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Karena kaum musyrikin zaman dahulu mereka berbuat syirik ketika mereka dalam keadaan lapang dan mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika mereka dalam keadaan sempit.

Sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita, kesyirikan mereka berlangsung terus menerus, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala yang artinya,“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS. Al 'Ankabut : 65).

Demikianlah keadaan kaum musyrikin di zaman Nabi, di saat mereka dalam keadaan sempit misalnya saat berada di tengah laut dan mereka takut tenggelam maka mereka memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata, mereka tinggalkan sekutu-sekutu yang biasa mereka persekutukan dengan Allah. Namun,  saat kesempitan itu telah hilang dari mereka maka kembalilah mereka menyekutukan Allah.

Adapun di zaman ini, sebagian orang menyekutukan Alloh dalam keadaan lapang maupun sempit. Contoh dari pernyataan ini adalah kenyataan di negeri kita sendiri, di mana di suatu daerah kesyirikan telah menjadi ritual tahunan, dengan mempersembahkan ini dan itu kepada tempat-tempat yang dianggap keramat. Maka tatkala wilayah itu terkena musibah gempa, bukannya mereka bertaubat kepada Allah atas kesyirikan yang mereka lakukan, justru mereka malah mengadakan ritual tolak bala ke sebuah laut, mempersembahkan ini dan itu, dan seterusnya, padahal seharusnya mereka kembali kepada Allah dengan bertaubat dan memurnikan ibadah kepada Allah, karena hanya Allah lah yang mampu menghilangkan musibah yang menimpa mereka, bukan yang lainnya.

Inilah kenyataan yang ada, bahwa kesyirikan di zaman ini lebih parah daripada kesyirikan di zaman Nabi, maka usaha untuk membersihkan akidah kaum muslimin dari berbagai noda syirik adalah usaha yang mendesak yang harus dilakukan sebelum usaha-usaha lainnya, wallahu a’lam.

Adab-adab Ketika Bermajelis

masjid

Mengetahui adab-adab dalam majelis adalah suatu keniscyaan dan keutamaan tersendiri sebagai pengejawantahan firman Allah,“ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isra’ : 36).

Dan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,“ Menuntut ilmu wajib bagi tiap Muslim”.
Maka adalah kewajiban bagi seorang muslim untuk mengetahui ilmunya terlebih dahulu, sebagaimana Imam Bukhari menjadikan bab,"Ilmu sebelum berkata dan beramal”.

Berikut ini adalah adab-adab dalam bermajelis:

1. Mengucapkan salam kepada ahli majelis jika ia hendak masuk dan duduk pada majelis tersebut, hendaknya ia mengikuti majelis tersebut hingga selesai. Jika ia hendak meninggalkan majelis tersebut, ia harus meminta izin kepada ahli majelis lalu mengucapkan salam.

2. Tidak menyuruh seseorang berdiri, pindah atau bergeser agar ia menempati tempat duduknya, dan selayaknya bagi ahli majelis yang telah duduk dalam majelis merenggangkan tempat duduknya, agar seseorang yang mendatangi majelis tadi mendapatkan tempat duduk. Hal ini sebagaimana dalam hadits Rasulullah :

“Janganlah kalian menyuruh temannya bangkit dari tempat duduknya, akan tetapi hendaklah kamu memperluasnya.” (Muttafaq ‘alaihi).

3. Tidak memisahkan dua orang yang sedang duduk agar ia dapat duduk di tengah-tengahnya, kecuali dengan seizinnya, sebagaimana dalam hadits Rasulullah :

“Tidak halal bagi seorang laki-laki duduk di antara dua orang dengan memisahkan mereka kecuali dengan izinnya.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi, hadits Hasan).

4. Apabila seseorang bangkit dari tempat duduknya meninggalkan majelis kemudian kembali lagi, maka ia lebih berhak duduk di tempat yang ditinggalkannya tadi. Sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam :
“Apabila seseorang bangkit dari duduknya lalu ia kembali, maka ia lebih berhaq duduk di tempatnya tadi.”(HR Abu Daw ud dan Turmudzi, hadits Hasan).

5. Tidak duduk di tengah-tengah halaqoh/majelis, dalilnya :
“Rasulullah melaknat orang yang duduk di tengah-tengah halaqoh.”(HR. Abu Dawud,  Walaupun dha’if dan tak dapat digunakan sebagai hujjah, namun hendaklah kita menghindarkan diri dari duduk di tengah halaqoh, sebagai sikap berjaga-jaga dan berhati-hati).

6. Seseorang di dalam majelis hendaknya memperhatikan adab-adab sebagai berikut :
- Duduk dengan tenang dan sopan, tidak banyak bergerak dan duduk pada tempatnya.
- Tidak menganyam jari, mempermainkan jenggot atau cincinnya, banyak menguap, memasukkan tangan ke hidung, dan sikap-sikap lainnya yang menunjukkan ketidakhormatan kepada majelis.
- Tidak terlalu banyak berbicara, bersenda gurau ataupun berbantah-bantahan yang sia-sia.
- Tidak berbicara dua orang saja dengan berbisik-bisik tanpa melibatkan ahli majelis lainnya.
- Mendengarkan orang lain berbicara hingga selesai dan tidak memotong pembicaraannya.
- Bicara yang perlu dan penting saja, tanpa perlu berputar-putar dan berbasa-basi ke sana ke mari.
- Tidak berbicara dengan meremehkan dan tidak menghormati ahli majelis lain, tidak merasa paling benar (ujub) dan sombong ketika berbicara.
- Menjaw ab salam ketika seseorang masuk ke majelis atau meninggalkan majelis.
- Tidak memandang ajnabiyah (w anita bukan mahram), berbasa-basi dengannya, ataupun melanggar batas hubungan lelaki dengan w anita muslimah bukan mahram, baik kholwat (berdua-duaan antara laki-laki dan w anita bukan mahram) maupun ikhtilath (bercampur baur antara laki-laki dan perempuan bukan mahram).

7. Disunnahkan membuka majelis dengan khutbatul hajah, dimana Rasulullah senantiasa membacanya setiap akan khuthbah, ceramah, baik pada pernikahan, muhadharah (ceramah) ataupun pertemuan, dan sunnah inipun dilanjutkan oleh sahabat-sahabat lainnya dan para as-Salaf Ash-sholeh.

8. Disunnahkan menutup majelis dengan do’a kafaratul majelis, artinya : “Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Turmudzi, Shahih). Diriwayatkan pula oleh Turmudzi, ketika Nabi ditanya tentang do’a tersebut, beliau menjawab, untuk melunturkan dosa selama di majelis.

Selasa, 15 November 2016

27 Dampak Negatif Perbuatan Zina

zina

Zina merupakan perbuatan yang sangat buruk dan tercela. Allah Azza wa jalla berfirman :
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (al-Isra’ : 32).

Dalam ayat lain, Allah 'Azza wa jalla berfirman :
"Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina." (al-Furqan : 68-69).

Dalam ayat ini, Allah Azza wa jalla menyebutkan perbuatan zina setelah perbuatan syirik dan setelah pembunuhan terhadap jiwa yang diharamkan Allah 'Azza wa jalla. Ini menunjukkan betapa perbuatan zina itu sangatlah buruk.

Dalam ayat lain, Allah Azza wa jalla menyebutkan sanksi bagi pelaku perbuatan nista ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
"Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kamu kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akherat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman." (an-Nur : 2).

Para ulama mengatakan : “ini sanksi bagi perempuan dan lelaki yang berzina apabila keduanya belum menikah. Sedangkan bila telah bersuami atau pernah menikah maka keduanya dirajam (dilempari) dengan batu hingga mati.

Zina yang terburuk adalah menzinahi ibunya sendiri, putrinya, saudari atau mahramnya yang lain. Dalam hadits dinyatakan: "Siapa yang menzinahi mahramnya maka bunuhlah! (HR . al-Hakim dan beliau shahihkan).

Zina berisi seluruh kejelekan diantaranya:

1. Zina mengurangi agama seseorang.
2. Zina menghilangkan sifat wara’.
3. Zina merusak kehormatan dan harga diri.
4. Zina mengurangi sifat cemburu.
5. Pezina mendapatkan murka Allah Azza wa jalla.
6. Zina menghitamkan wajah dan menjadikannya gelap.
7. Zina menggelapkan hati dan menghilang cahayanya.
8. Zina mengakibatkan kefakiran yang terus menerus.
9. Zina menghilangkan kesucian pelakunya dan menjatuh nilainya dihadapan Rabbnya dan dihadapan manusia.
10. Zina mencopot sifat dan julukan terpuji seperti ‘iffah, baik, adil, amanah dari pelakunya serta menyematkan sifat cela seperti fajir, pengkhianat, fasiq dan pezina.
11. Pezina menyeburkan diri pada adzab di sebuah tungku api neraka yang bagian atasnya sempit dan bawahnya luas. Sebuah tempat yang pernah disaksikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyiksa para pezina. [HR al-Bukhari dalam shahihnya dari sahabat Samurah bin Jundab Radhiyallahu anhu].
12. Zina menghilangkan nama baik dan menggantinya dengan al khabits, sebuah gelar yang sematkan buat para pezina.
13. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kegelisahan hati buat para pezina.
14. Zina menghilangkan kewibawaan. Wibawanya akan di cabut dari hati keluarga, teman-temannya dan yang lain.
15. Manusia memandangnya sebagai pengkhianat. Tidak ada seorangpun yang bisa mempercayainya mengurusi anak dan istrinya.
16. Allah Azza wa jallamemberikan rasa sumpek dan susah dihati pezina.
17. Pezina telah menghilangkan kesempatan dirinya untuk mendapatkan kenikmatan bersama bidadari di tempat tinggal indah di syurga.
18. Perbuatan zina mendorong pelakunya berani durhaka kepada kedua orang tua, memutus kekerabatan, bisnis haram, menzhalimi orang lain dan menelantarkan istri dan keluarga.
19. Perbuatan zina dikelilingi oleh perbuatan maksiat lainnya. Jadi perbuatan nista ini tidak akan terealisasi kecuali dengan didahului, dibarengi dan diiringi beragam maksiat lainnya. Perbuatan keji menyebabkan keburukan dunia dan akherat.
20. Pelaku zina wajib diberi sanksi; pezina yang belum menikah didera seratus kali dan diasingkan selama setahun dari daerahnya sedangkan pelaku yang pernah menikah atau masih berkeluarga dirajam (dilempari) batu sampai mati.
21. Zina merusak nasab.
22. Zina menghancurkan kehormatan dan harga diri orang.
23. Zina menyebabkan tersebarnya waba penyakit berbahaya, tha’un (lepra) dan tersebarnya penyakit kelamin yang umumnya sulit diobati, minimal penyakit syphilis.
24. Perbuatan zina membuka peluang bagi keluarganya untuk terjerumus dalam perbuatan serupa. Dalam pepatah dikatakan :"Engkau akan dibalas sesuai dengan perbuatanmu".
25. Zina menyebab balasan amalan shalihnya hilang sehingga ia bangkrut pada hari kiamat.
26. Dihari kiamat pelaku zina akan dihadapkan pada orang yang istrinya dizinai untuk diambil pahala kebaikannya sesuka sang suami sehingga tidak tersisa kebaikan sedikitpun.
27. Anggota tubuh seperti tangan, kaki, kulit, telinga, mata dan lisan akan memberikan persaksian yang menyakitkan.

Itulah diantara sekian banyak efek negatif dari perbuatan zina. Semua ini memberikan gambaran betapa buruk dampak perbuatan nista ini dan alangkah rendah moralitas pelakunya. Efek negatif perbuatan tak senonoh ini tidak hanya akan dirasakan oleh si pelaku tapi juga oleh sang anak yang tidak tahu-menahu. semoga Allah Azza wa jalla melindungi kita dan seluruh kaum muslimin dari perbuatan keji ini.

Sumber: almanhaj dengan sedikit pengurangan

Minggu, 13 November 2016

Pembatal-Pembatal Keislaman, No 6 Yang Sering Dilakukan

Pembatal-Pembatal Keislaman

Ketahuilah bahwa termasuk pembatal keislaman terbesar ada 10 yaitu:

Pertama
Syirik dalam beribadah kepada-Nya. Dalilnya adalah firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa di bawahnya bagi siapa yang dikehendaki-Nya?” (QS. An-Nisa : 48).

Di antara syirik adalah menyembelih untuk selain Allah seperti orang yang menyembelih untuk jin atau orang mati.

Kedua
Siapa menjadikan perantara-perantara antara dirinya dengan Allah di mana dia berdoa kepada mereka, meminta syafa'at kepada mereka, dan bertawakkal kepada mereka, maka dia kafir berdasarkan ijma’.

Ketiga
Siapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, ragu akan kekafiran mereka, atau membenarkan keyakinan mereka, maka dia kafir berdasarkan ijma’.

Keempat
Siapa yang meyakini bahwa selain petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih sempurna daripada petunjuk beliau, atau selain hukum beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik daripada hukum beliau seperti orang-orang yang lebih mendahulukan hukum thaghut daripada hukum beliau, maka dia kafir.

Kelima
Siapa membenci apa pun dari apa yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun mengerjakannya, maka ia kafir. Dalilnya adalah firman-Nya: “Demikian itu karena mereka membenci apa yang Allah turunkan sehingga Dia menghapus amal kebaikannya.” (QS. Muhammad : 9).

Keenam
Siapa yang mengolok-olok apa pun dari agama Allah, atau pahala-Nya, atau siksa-Nya adalah kafir. Dalilnya adalah firman-Nya: “Katakanlah: apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian mengolok-ngolok. Tidak perlu meminta maaf karena sungguh kalian telah kafir setelah kalian beriman.” (QS. At-Taubah : 65-66).

Ketujuh
Sihir misalnya sharf dan ‘athf. Siapa yang melakukannya atau ridha terhadapnya maka kafir. Dalilnya adalah firman-Nya: “Keduanya tidak mengajari seorangpun kecuali mengatakan: kami hanyalah fitnah maka janganlah kamu kafir.” (QS. Al-Baqarah : 102).

Kedelapan
Menolong orang-orang musyrik dan membantu mereka dalam melawan kaum muslimin. Dalilnya adalah firman-Nya: “Siapa dari kalian yang berloyal kepada mereka maka ia bagian dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim.” (QS. Al-Ma`idah : 51).

Kesembilan
Siapa yang meyakini bahwa sebagian manusia tidak wajib mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia boleh keluar dari syariat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Khidhir keluar dari syariat Musa ‘alaihissalam, maka ia kafir.

Kesepuluh
Berpaling dari agama Allah dengan tidak mempelajarinya atau mengamalkannya. Dalilnya firman-Nya: “Dan siapakah yang lebih zhalim daripada seseorang yang dibacakan kepadanya ayat-ayat Rabb-nya lalu dia berpaling darinya. Sesungguhnya Kami akan menghukum orang-orang pendosa.” (QS. As-Sajdah : 22)

Tidak ada perbedaan dalam pembatal-pembatal ini antara orang yang bercanda, serius, atau takut kecuali orang yang dipaksa. Semua pembatal ini termasuk perkara besar yang perlu diwaspadai dan termasuk perkara yang sering terjadi. Wajib bagi setiap muslim untuk mewaspadainya dan takut menimpa dirinya. Kita berlindung kepada Allah dari mendapatkan kemurkaan-Nya dan pedihnya siksa-Nya.

Sumber : Penjelasan Tentang Pembatal Keislaman

Senin, 07 November 2016

Gantungkan Cita-Citamu Setinggi Langit

cita-cita

Abul Faraj Ibnul Jauzi rahimahullah ketika menerangkan ucapan Abu Thayyib Al-Mutanabbi mengatakan: "Aku tidak menganggap aib-aib manusia sebagai kekurangan, seperti kurangnya orang-orang yang mampu mencapai kesempurnaan."

Beliau rahimahullah berkata: "Seyogianya orang yang berakal berusah menyempurnakan dirinya sampai pada batas maksimal yang ia mampu. Seandainya digambarkan kepada anak Adam dirinya dapat naik ke atas langit, sungguh aku memandang kerelaanya tinggal di bumi ini merupakan seburuk-buruknya kekurangan. Jika saja kenabian dapat diperoleh dengan usaha yang sungguh-sungguh, niscaya aku memandang orang-orang yang meninggalkan upaya dalam mendapatkannya berada pada puncak kerendahan. Perjalanan hidup yang baik, menurut para ahli hikmah, adalah keluarnya suatu jiwa menuju puncak kesempurnaan yang mungkin dalam keilmuan dan amalan."

Beliau berkata: "Secara ringkas, tidaklah ia tinggalkan satu keutamaan pun yang mungkin untuk dia raih melainkan ia berusaha mendapatkannya. Karena sesungguhnya merasa cukup (dalam hal ini, pen.) adalah kondisi orang-orang yang rendah. Maka jadilah dirimu seorang yang kedua kakinya berpijak di atas tanah, akan tetapi cita-citanya berada pada bintang Tsurayya.

Jika engkau mampu untuk melampaui seluruh ulama dan orang-orang yang zuhud, maka lakukanlah. Karena sesungguhnya mereka adalah lelaki dan engkau pun juga lelaki, dan tidaklah pemalas itu bermalas-malasan melainkan karena rendahnya keinginan dan hinanya cita-citanya.

Ketahuilah, sungguh engkau berada pada medan pertempuran, sedangkan waktu itu akan berlalu dengan cepat. Maka janganlah engkau kekal dalam kemalasan. Tidaklah sesuatu itu dapat terluput melainkan karena kemalasan, dan tidaklah seseorang dapat meraih apa yang dicapainya melainkan karena kesungguhan dan tekadnya yang bulat."

(Awa'iquth Thalab hal. 51-52)

Sumber: Majalah Asy Syari'ah

Inilah Pangkal Segala Keburukan


Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan:
"Empat perkara yang jika ada pada diri seseorang niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menjaganya dari setan dan mengharamkannya dari api neraka, yaitu siapa saja yang bisa menguasai diri tatkala didera oleh keinginan, rasa takut, nafsu, syahwat, dan kemarahan."

Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menerangkan:
Keempat perkara yang disebutkan oleh Al-Hasan Al-Bashri ini merupakan pangkal dari segala macam keburukan. Karena, keinginan terhadap sesuatu ialah kecenderungan jiwa kepadanya dengan sebab meyakini kemanfaatannya. Sehingga jika seseorang tengah berkeinginan terhadap sesuatu niscaya akan terbawa untuk berusaha mendapatkannya dengan berbagai cara yang dia yakini akan bisa menyampaikannya. Terkadang mayoritas cara-cara tersebut adalah cara-cara yang diharamkan, atau bisa jadi sesuatu yang dia ingini itu sendiri merupakan perkara yang haram.

Sedangkan (definisi) takut adalah kekhawatiran terhadap sesuatu. Apabila seseorang merasa takut terhadap sesuatu niscaya akan melakukan sebab-sebab (faktor-faktor) yang akan menolaknya dengan berbagai cara/jalan yang diyakini akan dapat menolaknya. Adakala kebanyakan dari jalanjalan tersebut adalah perkara-perkara yang diharamkan.

Syahwat adalah kecondongan jiwa pada hal-hal yang mencocokinya di mana jiwa itu merasakan kelezatan/kenyamanan dengannya. Mayoritasnya, jiwa itu cenderung kepada keharaman-keharaman seperti zina, mencuri, minum khamr, condong kepada kekafiran, sihir, kemunafikan, dan kebid'ahan-kebid'ahan.

Sedangkan kemarahan ialah mendidihnya darah di qalbu guna mencegah hal-hal yang menyakitinya tatkala mengkhawatirkan bakal terjadinya suatu peristiwa, atau dalam upaya membalas dendam kepada pihak yang telah menyakitinya sesudah terjadinya peristiwa tersebut. Sehingga muncullah dari semua itu tindakan-tindakan yang haram, seperti pembunuhan, pemukulan, berbagai bentuk kezaliman dan permusuhan. Muncul pula darinya berbagai macam ucapan keji yang bisa saja naik ke derajat kekafiran sebagaimana yang terjadi pada diri Jabalah bin Al-Aiham. Demikian pula sumpah-sumpah yang tidak diperbolehkan secara syariat dan atau sampai mengucapkan kalimat talak (cerai) kepada istri yang kemudian berakhir dengan penyesalan.

(Jami'ul 'Ulum wal Hikam hal. 379-380)

Sumber: Majalah Asy Syari'ah

Wasiat Seorang Ayah Kepada Putranya

ayah dan anak

Al-Imam Ja'far Ash-Shadiq rahimahullah berwasiat kepada putranya, Musa. Beliau rahimahullah berkata:

Wahai anakku…. barangsiapa merasa cukup dengan apa yang menjadi bagiannya maka dia akan menjadi kaya dan barangsiapa memanjangkan pandangannya kepada apa yang ada di tangan orang lain niscaya dia akan mati dalam keadaan miskin.

Barangsiapa yang tidak ridha dengan apa yang diberikan untuknya berarti telah mencacati Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam ketetapan takdir-Nya.

Barangsiapa menganggap kecil ketergelinciran orang lain maka menjadi besarlah ketergelinciran dirinya.

Baca juga : Mengejutkan, Wedang Jahe Minuman Surga?

Barangsiapa menyibak tabir (aib) orang lain maka akan tersibak pula aurat (aib)nya.
Barangsiapa menghunuskan pedang pemberontakan maka akan terbunuh karenanya.
Barangsiapa menggali sumur (lubang) bagi saudaranya maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menjerumuskan dirinya ke dalamnya.

Barangsiapa masuk (bercampur) dengan orang-orang bodoh niscaya akan terhina.
Dan barangsiapa bergaul dengan para ulama maka dia akan dimuliakan dengannya.
Barangsiapa memasuki tempat-tempat kejelekan maka dia akan tertuduh (dengan kejelekan pula,pen).

Wahai anakku…. waspadalah, jangan sampai engkau menganggap remeh orang lain, sehingga engkau pun menjadi hina karenanya.

Waspadalah…. Jangan engkau menggeluti perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi dirimu, sehingga engkau pun menjadi hina karenanya.

Wahai anakku…. katakanlah yang haq (benar) dalam keadaan menguntungkan ataupun
merugikanmu niscaya engkau memiliki kedudukan tersendiri di antara teman-temanmu.

Jadilah engkau seorang yang gemar membaca dan mengikuti Al-Qur'an, seorang yang gigih menyebarkan agama Islam, seorang yang selalu memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, seorang yang menyambung tali persaudaraan dengan orang yang memutus hubungan rahim denganmu. Jadilah engkau sebagai orang yang selalu memulai dalam menyapa orang-orang yang mendiamkanmu dan memberi kepada orang yang meminta kepadamu.

Baca juga : Bahaya, Jangan Bersumpah Dengan Nama Ini

Wahai anakku…. jauhilah namimah (perbuatan mengadu domba). Sungguh namimah itu akan menanamkan permusuhan di dalam hati-hati (manusia). Dan hati-hatilah dari membongkar aib manusia. Karena kedudukan seseorang yang membongkar aib-aib manusia berada pada posisi sasaran bidik (sewaktu-waktu akan balik dibongkar aibnya, pen.). Apabila engkau mencari kebaikan maka wajib bagimu mengambil dari sumbernya. Sesungguhnya kebaikan itu memiliki asal dan pada asal itu terdapat pokok-pokok dan pada pokok-pokok itu terdapat cabang-cabang, dan pada cabangcabang itu terdapat buah, serta tidaklah buah itu menjadi matang (dengan baik) kecuali pada tangkainya, dan tidaklah ada tangkainya kecuali ada pokoknya dan tidak ada pokok melainkan dengan adanya asal (bibit) yang baik.

Kunjungilah orang-orang yang baik dan jangan mengunjungi orang-orang yang jelek (jahat). Karena orang-orang yang jelek itu ibarat gurun pasir yang tidak dapat memancarkan air, atau ibarat pohon yang tidak menghijau daunnya, atau ibarat tanah yang tidak dapat menumbuhkan rerumputan.

(Al-Imam Ja'far Ash-Shadiq, hal. 27-29, karya Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Abdillah Ad-Darwis, hakim pada Mahkamah Al-Kubra di Qathif)

Sumber: Majalah Asy Syari'ah

Jumat, 04 November 2016

Hilangnya Ikhlas Sebagai Sebab Tertolaknya Amal Ibadah

ikhlas

Sebagaimana diketahui bahwa salah satu syarat diterimanya amal perbuatan seorang hamba adalah adanya keikhlasan dalam dirinya. Banyak dalil yang menunjukan hal tersebut baik dalam Al Qur'an maupun As Sunnah. Namun disini, saya hanya akan menukil sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

Sesungguhnya orang yang paling pertama akan diadili pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang mati syahid maka Allah-pun memperkenalkan nikamat-Nya kepadanya dan diapun mengetahuinya. Allah bertanya: Apakah yang engkau perbuat untuk mendapatkan nikamat tersebut?. Maka lelaki tersebut menjawab: Aku telah berperang dalam rangka menegakkan kalimat-Mu sampai mati syahid. Dia membantah lelaki tersebut: “Engkau telah berdusta, akan tetapi engkau berperang agar dikatakan sebagai seorang pemberani, dan itu telah dikatakan kepadamu. Kemudian diperintahkan untuk diseret di atas wajahnya sehingga dicampakkan ke dalam api neraka.

Kemudian seorang lelaki yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an. Maka diapun didatangkan menghadap Allah untuk memperlihatkan nikamtnya sehingga diapun mengetahuinya. Allah bertanya: Apakah yang telah engkau perbuat untuk meraih kenikmatan tersebut?. Lelaki tersebut menjawab: “Aku belajar ilmu agama dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an semata karena diri-Mu. Allah membantah: Engkau telah berdusta, sesungguhnya engkau menimba ilmu agar dikatakan orang yang alim dan membaca Al-Qur’an  agar orang memujimu sebagai  orang pandai membaca, dan itu telah dikatakan bagimu, maka diperintahkanlah malaikat menggeretnya di atas wajahnya sehingga dilemparkan ke dalam api neraka.

Dan seorang lelaki yang diluaskan rizkinya oleh Allah dan diberikan baginya bermacam-macam harta. Maka dia dihadapkan kepada Allah dan Dia memperkenalkan baginya nikmat-nikamatnya. Lalu Allah bertanya kepadanya: Apakah yang telah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?. Dia menjawab: Tidaklah satu jalanpun yang engkau senangi untuk diinfaqkan harta padanya kecuali aku menginfaqkan harta padanya karena diriMu”. Allah membantahnya: “Engkau telah berdusta, akan tetapi engkau mengerjakan perbuatan tersebut agar dikatakan sebagai orang yang dermawan dan hal tersebut telah dikatakan bagimu”. Kemudian dirinya digeret di atas wajahnya kemudian dicampakkan ke dalam api neraka. Lalu pada saat hadits ini sampai kepada Mu’awiyah maka diapun menangis dengan sejadi-jadinya, lalu pada saat dia telah sadar dia berkata:  Maha benar dan Rasul-Nya.

Riwayat diatas menunjukan pada kita tentang pentingnya ikhlas ketika kita beramal. Sebab jika amalan yang kita lakukan dicampuri dengan riya' atau sum'ah, maka hancurlah amalan kita dan tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata'ala. Bahkan kita diancam dengan adzab neraka yang pedih sebagimana riwayat diatas.

Oleh karena itu hendaknya kita berusaha agar setiap amalan yang kita lakukan didasari atas keikhlasan dan mengharap ridha dari Allah subhanahu wata'ala. Serta berdoa memohon kepada Allah agar setiap amalan kita diterima oleh-Nya.

Kamis, 03 November 2016

Wajibnya Merapatkan, Meluruskan dan Menyempurnakan Shaf Shalat

shaf shalat

Kadang saya merasa miris saat mendapati shaf shalat yang kurang rapi, bengkak-bengkok, dan tidak rapat serta sangat longgar. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyuruh kita agar meluruskan, merapatkan dan menyempurnakan shaf shalat kita. Hal inilah yang melatar belakangi saya menulis tulisan ini. Semoga tulisan yang sedikit ini bermanfaat bagi saudaraku sekalian.

Sesungguhnya terdapat begitu banyak hadits yang menganjurkan kita untuk meluruskan, merapatkan dan menyempurnakan shaf. Diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Dari An Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,“Sungguh luruskanlah shaf kalian, atau (jika tidak) Allah akan benar-benar menimbulkan perselisihan di antara wajah-wajah kalian.” [HR Al Bukhari (177) dan Muslim (436)].

Hadits ini mengandung perintah yang sangat tegas bagi kita untuk meluruskan shaf , dan ancaman yang sangat keras bagi yang tidak melakukannya. Imam An Nawawi rahimahullah berkata: “Yang tampak (bagi kami) -wallahu a’lam- maknanya adalah: Allah akan menimbulkan permusuhan, kebencian, dan perselisihan hati di antara kalian.”

2. “Shalat telah ditegakkan (iqamah), lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menghadap kepada kami, lalu berkata: “Luruskan shaf-shaf kalian dan saling merapatlah kalian. Sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari belakang punggungku.” [HR Al Bukhari (719) dari Anas bin Malik radhiyallahu'anhu].

Di dalam hadits ini terdapat perintah tambahan, yaitu perintah untuk saling merapatkan shaf.

3. “Luruskanlah shaf-shaf, sejajarkanlah pundak dengan pundak, isilah bagian yang masih renggang, bersikap lembutlah terhadap lengan teman-teman kalian (ketika mengatur shaf), dan jangan biarkan ada celah untuk (dimasuki oleh) syaithan. Barangsiapa yang menyambung shaf maka Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya), dan barangsiapa yang memutus shaf maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya).” [HR Abu Dawud (666) Hadits shahih].

4. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata,“Dahulu (pada masa Nabi) salah seorang dari kami menempelkan pundaknya dengan pundak teman (di sebelah)nya dan tapak kakinya dengan tapak kaki teman (di sebelah)nya.” [HR Al Bukhari (725)].

5. Dari An Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu, dia berkata,"Saya melihat seseorang menempelkan pundaknya dengan pundak teman (di sebelah)nya, lututnya dengan lutut teman (di sebelah)nya, dan mata kakinya dengan mata kaki teman (di sebelah)nya." [HR Abu Dawud (662)].

Kedua hadits di atas, yaitu hadits Anas dan hadits An Nu’man radhiyallahu ‘anhuma, menerangkan kepada kita tentang cara merapatkan dan meluruskan shaf dengan benar.

6. “Tidakkah kalian bershaf sebagaimana para malaikat bershaf di sisi Rabb mereka?” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara para malaikat bershaf di sisi Rabb mereka?” Nabi menjawab: “Mereka menyempurnakan shaf-shaf yang terdepan dan saling merapat di dalam shaf.” [HR Muslim (430)].

7. “Sempurnakankanlah shaf yang lebih depan, kemudian barulah yang setelahnya. Jika ada kekurangan (makmum), maka hendaklah pada shaf yang terakhir.” [HR Abu Dawud (671). Hadits shahih].

Hadits ini menerangkan bahwa shaf-shaf yang terdepan haruslah dipenuhkan dengan sempurna. Bila jumlah makmum yang belum mengatur barisan tinggal sedikit, maka hendaknya mereka membentuk barisan shaf di bagian paling belakang.

8. "Luruskan dan ratakan shaf-shaf kalian"(HR Abu Dawud).

9. "Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat."(HR Muslim).

Sebenarnya masih banyak lagi dalil lain yang menunjukan wajibnya meluruskan, merapatkan dan menyempurnakan shaf saat shalat berjama'ah. Namun sebagian orang merasa risih ketika ada orang yang berusaha merapatkan shaf. Bagi mereka yang penting shalat walaupun tidak terpenuhi adab-adab shalat berjama'ah.