Tampilkan postingan dengan label Makar Setan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makar Setan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 November 2016

27 Dampak Negatif Perbuatan Zina

zina

Zina merupakan perbuatan yang sangat buruk dan tercela. Allah Azza wa jalla berfirman :
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (al-Isra’ : 32).

Dalam ayat lain, Allah 'Azza wa jalla berfirman :
"Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina." (al-Furqan : 68-69).

Dalam ayat ini, Allah Azza wa jalla menyebutkan perbuatan zina setelah perbuatan syirik dan setelah pembunuhan terhadap jiwa yang diharamkan Allah 'Azza wa jalla. Ini menunjukkan betapa perbuatan zina itu sangatlah buruk.

Dalam ayat lain, Allah Azza wa jalla menyebutkan sanksi bagi pelaku perbuatan nista ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
"Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kamu kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akherat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman." (an-Nur : 2).

Para ulama mengatakan : “ini sanksi bagi perempuan dan lelaki yang berzina apabila keduanya belum menikah. Sedangkan bila telah bersuami atau pernah menikah maka keduanya dirajam (dilempari) dengan batu hingga mati.

Zina yang terburuk adalah menzinahi ibunya sendiri, putrinya, saudari atau mahramnya yang lain. Dalam hadits dinyatakan: "Siapa yang menzinahi mahramnya maka bunuhlah! (HR . al-Hakim dan beliau shahihkan).

Zina berisi seluruh kejelekan diantaranya:

1. Zina mengurangi agama seseorang.
2. Zina menghilangkan sifat wara’.
3. Zina merusak kehormatan dan harga diri.
4. Zina mengurangi sifat cemburu.
5. Pezina mendapatkan murka Allah Azza wa jalla.
6. Zina menghitamkan wajah dan menjadikannya gelap.
7. Zina menggelapkan hati dan menghilang cahayanya.
8. Zina mengakibatkan kefakiran yang terus menerus.
9. Zina menghilangkan kesucian pelakunya dan menjatuh nilainya dihadapan Rabbnya dan dihadapan manusia.
10. Zina mencopot sifat dan julukan terpuji seperti ‘iffah, baik, adil, amanah dari pelakunya serta menyematkan sifat cela seperti fajir, pengkhianat, fasiq dan pezina.
11. Pezina menyeburkan diri pada adzab di sebuah tungku api neraka yang bagian atasnya sempit dan bawahnya luas. Sebuah tempat yang pernah disaksikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyiksa para pezina. [HR al-Bukhari dalam shahihnya dari sahabat Samurah bin Jundab Radhiyallahu anhu].
12. Zina menghilangkan nama baik dan menggantinya dengan al khabits, sebuah gelar yang sematkan buat para pezina.
13. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kegelisahan hati buat para pezina.
14. Zina menghilangkan kewibawaan. Wibawanya akan di cabut dari hati keluarga, teman-temannya dan yang lain.
15. Manusia memandangnya sebagai pengkhianat. Tidak ada seorangpun yang bisa mempercayainya mengurusi anak dan istrinya.
16. Allah Azza wa jallamemberikan rasa sumpek dan susah dihati pezina.
17. Pezina telah menghilangkan kesempatan dirinya untuk mendapatkan kenikmatan bersama bidadari di tempat tinggal indah di syurga.
18. Perbuatan zina mendorong pelakunya berani durhaka kepada kedua orang tua, memutus kekerabatan, bisnis haram, menzhalimi orang lain dan menelantarkan istri dan keluarga.
19. Perbuatan zina dikelilingi oleh perbuatan maksiat lainnya. Jadi perbuatan nista ini tidak akan terealisasi kecuali dengan didahului, dibarengi dan diiringi beragam maksiat lainnya. Perbuatan keji menyebabkan keburukan dunia dan akherat.
20. Pelaku zina wajib diberi sanksi; pezina yang belum menikah didera seratus kali dan diasingkan selama setahun dari daerahnya sedangkan pelaku yang pernah menikah atau masih berkeluarga dirajam (dilempari) batu sampai mati.
21. Zina merusak nasab.
22. Zina menghancurkan kehormatan dan harga diri orang.
23. Zina menyebabkan tersebarnya waba penyakit berbahaya, tha’un (lepra) dan tersebarnya penyakit kelamin yang umumnya sulit diobati, minimal penyakit syphilis.
24. Perbuatan zina membuka peluang bagi keluarganya untuk terjerumus dalam perbuatan serupa. Dalam pepatah dikatakan :"Engkau akan dibalas sesuai dengan perbuatanmu".
25. Zina menyebab balasan amalan shalihnya hilang sehingga ia bangkrut pada hari kiamat.
26. Dihari kiamat pelaku zina akan dihadapkan pada orang yang istrinya dizinai untuk diambil pahala kebaikannya sesuka sang suami sehingga tidak tersisa kebaikan sedikitpun.
27. Anggota tubuh seperti tangan, kaki, kulit, telinga, mata dan lisan akan memberikan persaksian yang menyakitkan.

Itulah diantara sekian banyak efek negatif dari perbuatan zina. Semua ini memberikan gambaran betapa buruk dampak perbuatan nista ini dan alangkah rendah moralitas pelakunya. Efek negatif perbuatan tak senonoh ini tidak hanya akan dirasakan oleh si pelaku tapi juga oleh sang anak yang tidak tahu-menahu. semoga Allah Azza wa jalla melindungi kita dan seluruh kaum muslimin dari perbuatan keji ini.

Sumber: almanhaj dengan sedikit pengurangan

Senin, 07 November 2016

Inilah Pangkal Segala Keburukan


Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan:
"Empat perkara yang jika ada pada diri seseorang niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menjaganya dari setan dan mengharamkannya dari api neraka, yaitu siapa saja yang bisa menguasai diri tatkala didera oleh keinginan, rasa takut, nafsu, syahwat, dan kemarahan."

Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menerangkan:
Keempat perkara yang disebutkan oleh Al-Hasan Al-Bashri ini merupakan pangkal dari segala macam keburukan. Karena, keinginan terhadap sesuatu ialah kecenderungan jiwa kepadanya dengan sebab meyakini kemanfaatannya. Sehingga jika seseorang tengah berkeinginan terhadap sesuatu niscaya akan terbawa untuk berusaha mendapatkannya dengan berbagai cara yang dia yakini akan bisa menyampaikannya. Terkadang mayoritas cara-cara tersebut adalah cara-cara yang diharamkan, atau bisa jadi sesuatu yang dia ingini itu sendiri merupakan perkara yang haram.

Sedangkan (definisi) takut adalah kekhawatiran terhadap sesuatu. Apabila seseorang merasa takut terhadap sesuatu niscaya akan melakukan sebab-sebab (faktor-faktor) yang akan menolaknya dengan berbagai cara/jalan yang diyakini akan dapat menolaknya. Adakala kebanyakan dari jalanjalan tersebut adalah perkara-perkara yang diharamkan.

Syahwat adalah kecondongan jiwa pada hal-hal yang mencocokinya di mana jiwa itu merasakan kelezatan/kenyamanan dengannya. Mayoritasnya, jiwa itu cenderung kepada keharaman-keharaman seperti zina, mencuri, minum khamr, condong kepada kekafiran, sihir, kemunafikan, dan kebid'ahan-kebid'ahan.

Sedangkan kemarahan ialah mendidihnya darah di qalbu guna mencegah hal-hal yang menyakitinya tatkala mengkhawatirkan bakal terjadinya suatu peristiwa, atau dalam upaya membalas dendam kepada pihak yang telah menyakitinya sesudah terjadinya peristiwa tersebut. Sehingga muncullah dari semua itu tindakan-tindakan yang haram, seperti pembunuhan, pemukulan, berbagai bentuk kezaliman dan permusuhan. Muncul pula darinya berbagai macam ucapan keji yang bisa saja naik ke derajat kekafiran sebagaimana yang terjadi pada diri Jabalah bin Al-Aiham. Demikian pula sumpah-sumpah yang tidak diperbolehkan secara syariat dan atau sampai mengucapkan kalimat talak (cerai) kepada istri yang kemudian berakhir dengan penyesalan.

(Jami'ul 'Ulum wal Hikam hal. 379-380)

Sumber: Majalah Asy Syari'ah

Selasa, 01 November 2016

Ini Makna Godaan Setan dari Depan, Belakang, Kanan, dan Kiri

godaan setan

Setan tidak akan pernah berhenti untuk menggoda manusia sampai hari kiamat. Karena inilah misi hidup setan. Semenjak dikeluarkan dari surga, setan meminta waktu penangguhan pada Allah dan Allah mengabulkannya. Ini sesuai dengan dengan firman Allah.

“Turunlah kamu dari surga itu. Karena kamu menyombongkan diri di dalamnya. Maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” Iblis menjawab, “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.” Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh,” (Qs. al-A’raf : 13-15).

Setelah diberi penangguhan itulah, setan berjanji akan menyesatkan seluruh anak Adam. Setan akan menggiring manusia ke dalam api neraka tanpa pernah berputus asa.

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,” (Qs. al-A’raf : 16).

Setan juga berjanji, bahwa mereka akan berusaha semaksimal mungkin agar membawa manusia sebanyak-banyaknya ke dalam api neraka bagaimanapun caranya.

“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat),” (Qs. al-A’raf : 17).

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah makna godaan setan dari arah depan, belakang, sebelah kanan, dan sebelah kiri dalam ayat ini? Mengapa setan tidak menyebutkan godaan dari arah atas?

Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan ayat ini dengan mengutip pendapat dari sahabat mulia ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu. Sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhiim, makna godaan setan dari arah depan ialah setan akan menjadikan manusia ragu terhadap kehidupan akhirat. Godaan dari arah belakang bermakna setan akan menjadikan manusia cinta kepada dunia.

Sebagaimana dikutip dari kisahhikmah.com, godaan dari sebelah kanan berarti setan akan menjadikan manusia samar-samar dalam urusan agama. Sedangkan bisikan dari arah kiri memiliki pengertian setan menjadikan manusia mencintai dan gandrung terhadap perbuatan sia-sia, maksiat, dan dosa.

Sementara itu, al-Hakam bin Abban menuturkan dari ‘Ikrimah dari sahabat mulia ‘Abdullah bin ‘Abbas, “Allah Ta’ala tidak berfirman ‘dari atas mereka’ karena rahmat itu diturunkan dari arah atas.”

Kita harus tahu bahwa setan tidak pernah menyerah untuk menyesatkan kita. Maka dari itu, sudah seharusnya kita terus menerus memohon perlindungan kepada Dzat Yang Maha Melindungi. Wallahu a'lam

Sumber : islampos.com

Jumat, 14 Oktober 2016

7 Tahapan Rintangan Setan Pada Manusia

tahap

Setan berkehendak mengalahkan manusia dengan tujuh rintangan. Sehingga rintangan ini lebih berat dari yang lainnya. Dia tidak akan beralih dari rintangan yang berat kepada yang di bawahnya, kecuali jika dia tidak mampu mengalahkan manusia pada rintangan tersebut. Tujuh rintangan ini adalah :

1. Rintangan Keka firan
Yaitu rintangan kepada Allah, agama-Nya, pertemuan dengan-Nya, sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan kepada apa yang diberitakan oleh para rasul dari-Nya. Jika setan dapat mengalahkan manusia pada rintangan ini, maka padamlah api permusuhannya, dan dia dapat beristirahat. Karena, jika manusia sudah ka fir, maka ia akan menemani setan di dalam neraka Jahannam, kekal selama-lamanya.

Allah berfi rman, yang artinya,"(Bujukan orang-orang muna fik kepada orang-orang kafi r itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika ia berkata kepada manusia, "Ka firlah kamu". Maka tatkala manusia itu telah kafi r, ia berkata, "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam." Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim. (QS. Al-Hasyr: 16-17).

Jika manusia dapat melewati rintangan ini dengan selamat, karena membawa cahaya keimanan, setanpun memburunya dengan tahapan selanjutnya.

2. Rintangan Bid'ah
Bid'ah ini dapat berupa aqidah (keyakinan) yang menyelisihi kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Atau berupa peribadatan yang tidak diizinkan oleh Allah. Atau berupa perkara lainnya yang termasuk cakupan agama. Imam Asy-Syathibi rahimahullah berkata,

Bid'ah adalah suatu jalan di dalam agama yang dibuat-buat, menyerupai syari'at. Meniti
jalan tersebut dengan niat berlebih-lebihan di dalam beribadah kepada Allah.
Atau, bid'ah adalah suatu jalan di dalam agama yang dibuat-buat, menyerupai syari'at.
Meniti jalan tersebut dengan niat sebagaimana meniti syari'at.

Menjerumuskan manusia ke dalam bid'ah lebih disukai setan daripada menjerumuskan manusia ke dalam maksiat. Karena bid'ah itu menentang agama, dan pelakunya tidak diharapkan bertaubat. Karena dia manganggap bid'ah itu sebagai kebenaran dan ibadah. Maka bagaimana mungkin seseorang diharapkan meninggalkan kebenaran dan ibadah? Telah masyhur perkataan Sufyan Ats-Tsauri tentang hal ini,

Bid'ah itu lebih disukai oleh iblis daripada maksiat. Terkadang orang bertaubat dari maksiat, tetapi (sulit diharapkan) orang bertaubat dari bid'ah.(Riwayat Al-Lalika'i, Al-Baghawi, Ibnul Jauzi, dan lainnya).

Jika manusia dapat selamat dari rintangan ini, berpegang teguh dengan cahaya Sunnah dan hakikat mengikuti Sunnah dengan sebenarnya, serta meniti jalan Salafush Shalih, maka setan memburunya dengan tahapan berikutnya.

3. Rintangan Dosa-dosa Besar
Jika setan telah berhasil menjerumuskan manusia ke dalam dosa-dosa besar, maka dia akan selalu menghias-hiasinya pada pandangan mata manusia. Bahkan setan berusaha menangguhkan keinginan manusia yang akan bertaubat.

Dia juga membukakan pintu irja' (murji'ah) kepadanya. Setan akan berkata kepadanya, Iman itu hanyalah keyakinan dalam hati, maka amalan itu tidak akan merusakkannya. Baik amalan kefasikan atau kemaksiatan. Jika hamba dapat melewati rintangan ini dengan penjagaan Allah dan dengan taubat nashuha, maka setan akan memburunya dengan rintangan selanjutnya.

4. Rintangan Dosa-dosa Kecil
Setan akan selalu menjadikan manusia meremehkan dosa-dosa kecil, sehingga dia akan terus menerus melakukannya. Padahal orang yang melakukan dosa besar, lalu ia takut kepada Allah, menyesali dosanya, dan bertaubat darinya, lebih baik daripada orang yang terus menerus melakukan dosa-dosa kecil.

5. Rintangan Perkara-perkara Yang Mubah
Setan akan berusaha menyibukkan manusia melakukan perbuatan-perbuatan mubah, sehingga lalai untuk memperbanyak ketaatan, dan tidak bersungguh-sungguh mencari bekal untuk akhiratnya.

Alangkah banyaknya manusia pada zaman ini yang telah tersungkur dengan rintangan setan ini, terjatuh ke dalam jurang kelalaian dan tidak pernah terlintas untuk menyiapkan bekal yang cukup untuk akhiratnya. Berapa banyak manusia menekuni ilmu dunia semata, mengabaikan ilmu agamanya?

Padahal jika manusia mengetahui nilai kenikmatan akhirat dan berbagai kesenangan yang telah disiapkan oleh Allah bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, pastilah dia akan sangat menjaga waktunya, mengisi nafas-nafas hidupnya dengan amal-amal shalih dan berlomba-lomba meraih karuniaNya.

6. Rintangan Amalan-amalan Ketaatan Yang Tidak Utama
Ketika setan tidak berhasil merugikan manusia dengan rintangan-rintangan di atas, dan manusia tetap melakukan amalan-amalan shalih, maka setan berusaha menghalanginya dari kesempurnaan dan keutamaan amalan. Setan menjadikan manusia sibuk dengan amalan-amalan yang tidak utama, sehingga tidak mendapatkan yang utama. Sibuk dengan amalan yang dicintai Allah, sehingga tidak mendapatkan yang lebih dicintai. Sibuk dengan amalan yang sedikit pahalanya, sehingga tidak mendapatkan yang lebih besar pahalanya.

7. Rintangan Gangguan
Rintangan terakhir ini pasti akan menimpa manusia yang telah melewati semua rintangan di atas. Pada fase ini, setan mengerahkan bala tentaranya. Melakukan berbagai gangguan dengan tangan, lisan dan hati. Gangguan tersebut akan menimpa hamba sesuai dengan kadar keimanan dan kebaikannya. Semikin tinggi kedudukannya, semakin besar dan berat cobaan yang diterimanya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Dari Mush'ab bin Sa'd, dari bapaknya, ia berkata, Aku berkata, "Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat musibahnya?" Beliau mejawab, "Para nabi, kemudian yang lebih sebanding (dengan para nabi), kemudian yang lebih sebanding (dengan mereka)." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimi, dan lain-lain)